Ketika Aku Mau jadi Penulis: Masalah dan Salah

Sudah sekitar 6 tahun, saat mendeklarasikn jalan suksesku itu berlalu. Dan hasilnya tidak ada, nol besar kalau kata orang.

Sudah sekitar 6 tahun itu juga, aku telah membuang diksi-diksi sampah dan diksi-diksi kualitas tinggi menjadi bahan tanpa daur ulang. Murni bahan buangan.

Banyak alasan yang membuat itu terjadi, selain masalah kemalasan yang masih saja menggerogoti.

Misalnya efek kecemasan sosial. Yap, masalah besar setelah efek malas. Hati dan pikiran ini masih saja belum satu perjabatan tangan, masih ada tuduh menuduh, memilih mana yang salah.

Aku masih takut gila, jika kupaksakan menembus tarian masal itu. Otakku seakan mau pecah ketika mendengar kata 'perkumpulan masa.' Keringat dingin, merasa aneh, dan ujungnya gila sendiri.

Lainnya, aku terlalu menyembah uang. Bukan ingin menjadi raja berharta, tapi ingin memberi harta pada raja kehidupan. Orang tua.

Mereka tujuan, dan ibadah haji adalah sasaran. Ya, aku memuja uang karena merasa kurang yakin orangtua bisa ibadah ditanah suci tanpa uang sama sekali. Walaupun hati bicara, tak ada yang mustahil jika berkenaan dengan-Nya.

Dari semua itu, yang utama adalah kekecewaan terhadap diri. Merasa tak becus jika dihadapkan pada, "kau harus dan wajib bisa berbicara!"

Negara ini memang gila, tapi itulah kenyataannya. Mendahulukan mulut ketimbang tangan. Dan aku jadi korban.

Bukan berarti aku mengeluh, tapi secara terpaksa aku mengatakan, "berat untuk dijadikan fokua utama. Kenapa bukan tulisannya? Lihat? Tulisanku jelek karena kewajiban itu!"

Sudah beberapKetika aku mau jadi penulis, bisakah mereka menyingkir sebentar. Memberi tempat ternyaman dan tersepi. Aku, laptopku, buku tulis, dan beberapa alat tulis lainnya. Tanpa mereka.

Dan kabar gembiranya, tekadku mengatakan kepadaku bahwa 2019 namaku siap sudi tertulis disebuah sampul buku. Semoga. 😇

Ketika tulisan ini banyak dibaca orang, mungkin artinya aku telah menjadi penulis yang cukup memancing mata pembaca. Dan ketika kalian berkomentar, mungkin aku sedang tersenyum waktu itu.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama