Ketika Aku Mau jadi Penulis: Pengalaman Nulis di IDN Times

Lanjut menceritakan mimpi pertama ini.

Beberapa bulan lalu saya membuat keputusan untuk belajar menulis disalah satu media online ternama, IDN Times.

Pada awal pendaftaran, kecemasan saya kembali datang. Tulisan pertama saya dipending sangat lama. Tak ada jawaban apapun.

Jiwa pesimisme saya datang lagi. Menolak menulis lagi, kembali tertidur lagi. Menjadi manusia tak produktif lagi.

Lalu setelah tulisan pertama itu ditolak secara halus, saya kemudian membuat artikel baru. Kali ini sesuai apa yang saya sukai. Tentang horor di Youtube. Tulisan pertama itu berjudul 'Jangan Nonton Sendirian, 5 Channel Youtube Ini Bisa Buat Mimpi Buruk.'



Hasilnya... cukup memuaskan untuk orang seperti saya. Mendapat tulisan kita dibaca ribuan orang itu menyenangkan. Walaupun kata orang, itu belum apa-apa. Kalau sudah ratus ribuan bahkan jutaan, baru itu menyenangkan. Tapi ya... syukuri dan nikmati saja lah.

Setelah tulisan itu terbit, maka tulisan lainnyapun ikut menyusul. Walaupun hanya dibaca ratusan orang saja. Tapi, ya itu tadi, syukuri. Tak perlu mengeluh. Toh ini hanya sebatas menyalurkan hobi. Bukan serius dijadikan profesi. Kalau memang suatu saat nanti bisa menjadi penulis terbaik disana, itu adalah bonus kerja keras. Aamiin.

Untuk masalah pembayaran, tak perlu dibicarakan. Masih jauhlah. Pemula, kata orang. Yang penting nikmati saja hobi, soal harga mah nyusul.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama