Segala Isi Hatiku Soal Mereka, Terlalu Lama Terpendam

Sejak kecil yang kutahu hanyalah bermain, tak ada lagi. Sejak kecil aku hanya berpikir bahwa tujuanku untuk ayah ibuku. Sejak kecil aku terus mengoceh, dengan prestasiku. Membanggakan mereka, keluarga.

Beranjak remaja, aku berubah menjadi seorang anti bicara. Sejak aku menjadi aib keluarga, mondok lima hari saja. Hari itu menjadi perubahan hidupku.



Dunia seakan menekanku, membicarakan semua kesalahanku. Melupakan apa-apa saja yang pernah membuat senyuman. Aku menjadi bodoh, cemas bila bertemu sseseorang, takut bila mereka tak menerima sifatku.

Dan memang, semua seperti itu. Mereka hanya mengenalku dengan sebutan anak pendiam, culun dan sebagainya. Mereka tertawa dengan segala kekuranganku. Tak mengenal arti sebuah hati.

Ketika aku melawan, mereka hanya bicara, "bercanda, jangan anggap betulan." Begitu seterusnya, seterusnya, seterusnya, seterusnya, seterusnya, seterusnya, seterusnya.

Mereka hanya mengenal soal kepuasan diri, tertawa. Terbahak.

Mereka yang ingin menyadarkanku dengan itu, adalah kebodohan. Konyol. Aku terlalu takut dengan itu, dan kau melakukannya untuk menyadariku?

Mungkin mereka tak tahu, ada penyakit kejiwaan. Salah satunya kecemasan. Aku salah satu penderitanya. Dan aku hampir beberapa kali ingin menyakiti diri. Andai aku tak punya iman. Aku ingin pulang jika itu terus terjadi. Bisakah kau menghentikannya? Aku terlalu takut.

Apa kau tahu penyakit itu? Atau kau tak mau peduli? Apa kau hanya peduli dengan tertawamu padaku?

Aku sulit berpikir dengan itu. Aku takkan sadar dengan itu. Aku bukan baperan, aku hanya takut. Apakah kau paham? Atau kau kembali lagi tak peduli? Apa kau hanya peduli dengan tertawamu padaku?

Aku ingin menceritakan semua ketakutanku disini. Tolong rasakan saja dulu. Jangan menertawakannya.

Dulu aku adalah seorang anak dengan banyak kebanggaan. Berprestasi, sangat baik.

Seperti yang kuceritakan tadi, sejak kejadian aib itu, aku menghilang. Berganti dengan aku yang lain.

Aku menjadi seorang anak penuh dengan hinaan ketika kakiku keluar rumahku. Padahal dahulu aku berani menantang sungai bersama teman sekelasku. Dunia luar adalah tempat aman dan kebahagiaan.

Tapi kini itu telah berbeda. Rumah adalah kehidupan bahagia. Tak ada olok-olok, tak ada tertawa, tak ada omongan orang. Aku bisa bebas berbahasa, bebas mengeluarkan otak cemerlangku, bebas mendefiniskan dunia luar yang kelam. Aku tak pernah takut bicara disana, aku merasa tenang.

Tapi rumah juga bukan satu-satunya. Aku selalu ingin mengelana dunia luar. Merindukan masa kecil. Tapi kejiwaanku terganggu, ketika satu kata menghinaku. Aku merasakan yang tak pernah mereka rasakan. Penyakit.



Mereka seolah monster yang siap menggerogoti kemauanku. Zombie. Memaksaku untuk kembali mengunci diri.

Kau ingin tahu apa saja perkataan mereka? Baiklah, aku akan bicara.

"Si Nandar, kur masantren lima poe. Ngerakn." Saat itu umurku masih baru remaja.

"Adina ek masantren, pasti moal betaheun jiga si Nandar." Sejak itu aku berdoa agar adikku jauh dari sepertiku.

"Limbad!" Kata ibu-ibu.

"Tingali si bisu!" Saat itu aku bodoh, ikut mengantar perkawinan seseorang.

"Naha ari si Nandar teu bisaeun ngomong kitu?" Kata seorang TOKOH pada satu orang warganya. Sembari tertawa.

Apa itu cukup? Biasa saja? Masih banyak omongan dan sindiran mereka yang takkan ku sebutkan. Terlalu menyakitkan. Dan hampir semua hinaan itu berkomplotan. Karena ketika mereka sendiri, bertemu denganku, mereka diam. Ketika mereka mendapatkan teman, bertemu denganku, mereka beraksi. Pecundang!

Disini terlalu tamak dengan unsur candaan. Tak memikirkan perasaan. Pantas saja keturunannya juga lahir dengan pikiran kekanakan.

Entahlah, karena keturunan mereka lahir, dari hasil doa orang yang mereka tindas.

Tapi anehnya, mereka meminta bantuanku, ketika selesai, mereka lupa, dan tertawa lagi. Dan bodohnya aku selalu menerima masalah mereka.

Untungnya aku tidak sendirian. Masih ada yang menyadari kejiwaanku. Walaupun hanya beberapa hitungan jari. Aku bersyukur. Mereka bisa melawan ribuan hinaan, membelaku. Semoga.

Untuk saat ini, aku akan melupakan dulu mimpi kelima, sibuk dengan mimpiku lainnya. Mimpi kelima terlalu ego dengan sifat mereka. Tapi aku takkan menyerah. Hanya diam saja untuk sementara. Karena beberapa malaikat kecil selalu menunggu kedatanganku.

Aku tak mau peduli dulu dengan mereka, biar saja. Kalaupun mereka semakin menggunjing, itu hak mereka. Aku sudah terbiasa. Dan aku takkan peduli kata mereka. Aku hanya melawan, melakukan dengan caraku. Aku takkan mengakui hinaan mereka yang membantuku. Karena itu bakal menjadi keburukan untuk mereka. Aku tak mau balas dendam dengan memberi doa.

Biarlah tulisan ini menjadi saksi ketidakwarasanku. Tulisan ini mungkin akan mereka baca, dan inilah isi hatiku. Terimalah, seperti aku menerima hinaan kau. Silakan tertawa sepuasnya, aku tak peduli lagi. Aku akan melawan dengan diamku dan tulisanku. Semoga mereka sadar.

Aamiin.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama