Terima Kasih, Masalah

Kecilku sempat berpikir, dunia akan baik-baik saja saat menjagaku. Dunia akan terus memberi senyuman dengan canda tawa kehidupan. Bermain, belajar, bermain, belajar, begitu seterusnya.

Aku dulu, adalah kanak-kanak tanpa kemuraman. Jikapun muram, itu bukan masalah besar, hanya menjatuhkan sirup titipan bibi atau kehilangan uang 500 rupiah hasil menjual keripik. Tidak lebih.

Tapi ketika kutahu masa kecil memiliki batas, aku mulai memahami bahwa dunia bukan sekedar senyuman atau tangisan biasa.

Masa remaja adalah awalnya. Dunia seolah enggan lagi bicara soal canda. Termenung sendiri tanpa teman yang dulu sering mengajakku bermain. Tidak ada lagi hujan mengalir disekujur tubuh. Tidak ada lagi sepeda yang mengayuh. Semua sendu kelabu.

Masa sedikit dewasa, aku mulai terbiasa dengan masalah. Seperti keluarga dalam jiwa. Membungkus bersama hati dan aorta. Seperti sahabat sejati yang menyentil berkali-kali.

Masalah kadang membingungkan. Bisa membuatku ketakutan dan cemas, bisa membuatku sedih tak terbatas, bisa pula membuatku tegar dan ikhlas.

Setelah sepuluh tahun lebih saat pertama mengenalmu, aku hanya ingin berterima kasih kepadamu.

Terima kasih telah mengenalkanku padamu dan kengerianmu.

Terima kasih telah memberiku serangan bertubi-tubi tanpa henti.

Terima kasih telah membuatku mengenal betapa nikmatnya tangisan karenamu.

Terima kasih telah memberiku ketegaran setelah itu.

Terima kasih tuhanmu yang menciptakanmu untukku.

Terima kasih masalah.

Kita takkan pernah berakhir sampai hayat menjemputku.

Berilah aku ketegaran selanjutnya, aku takkan keberatan.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama