PLP, Observasi Teknis dan Non Teknis

Huh...

Sebenarnya membosankan membahas teknis, maka akan saya singkirkan itu dulu, setidaknya ditulisan ini.

Saya mau mengajak kalian pada suatu pengalaman dari si pecandu diam yang menerobos aturan diam.

Memasuki sebuah pameran seni kecil, masuklah kumpulan orang baru. Enam belas manusia dengan sifat beda, seperti biasa.

Teknisnya orang teknis ya tentu menentukan ketentuan. Paham? Jangan memaksakan otakmu. Intinya kami atau hanya mereka, sudah cerdas dalam hal menentukan. Semua baik-baik saja.

Beberapa hari kemudian, satu dua minggu, jelas GHIBAH selalu jadi wajib, bahkan buat para pemangku gelar. Memisahkan antara mayoritas dan minoritas. Rasanya sudah biasa, maka aku cukup tidak peduli waktu itu.

Untungnya pula, saya masih cukup bersemangat memahami makna observasi ini. Mempelajari seluk beluk ketidaktahuan, melawan rasa takut, lalu menuangkannya pada satu kepal pengalaman. Jelas semua itu maknawi dibanding pada paragraf dua.

Harus diakui sebenarnya pengalaman ini lebih banyak manfaat dibanding mudaratnya. Kalau saja disingkirkan rasa mayoritas itu, tentu akan lebih sempurna. Tapi ya sudahlah, toh disemua aspek selalu ada mayoritas itu. Dan tugas minoritas hanya mengalah dan bodo amat.

Sebenarnya banyak pengalaman-pengalaman di sini, tapi saya hanya tertarik dengan singgungan. Begitulah hidup, betul?

Yang jelas hari ini saya dan diri saya mendapatkan banyak pengalaman luarbiasa. Dalam teknis maupun non nya.

Dari minoritas, 24 Oktober 2019.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama