Catatan Guru Magang (Bagian VIII-J)


Entah kata apa yang pantas mewakili siang tadi. Kubilang "akhirnya," terlalu seperti mengutuk hari-hari indah itu. Kubilang "terlalu cepat," masih ada mimpi lain yang menunggu.

Catatan ini kusuguhkan buat peserta didikku (tak boleh menyebut siswa, apalagi murid), secara khusus. Semua anak-anak yang pernah sudi mendengar orang pendiam mengajar.
Baiklah, mari kita mulai mengenang.

VIII-J

Aku mulai dengan kelas utama, kelas yang paling bisa mendidikku cara mendidik, kelas horor yang selalu membuatku takut jika aku salah mendidik, kelas yang menurutku musiman (kadang manis kadang asin), kelas yang mungkin paling berat untuk kubilang "sekian", Kelas VIII J.


Dulu—waktu masih MTS—guru bahasa Indonesiaku berujar, "kesan pertama itu akan sulit."
Aku merasakan hal itu beberapa kali, termasuk yang satu ini. Betapa pucat pasinya Selasa itu. Guru pamongku saksinya.


Materi hari itu hanya tentang iklan, tapi sudah seperti materi ilmu marketing S3. Sulit sekali, apalagi buat orang yang jarang bicara semacamku.


Ke sok tahuanku, ke sok pahamanku mengajar di depan mereka telah membuat bayang-bayang penilaian dari mereka. Apalagi dari dua orang anak perempuan yang seperti sinis dengan cara mengajarku yang kikuk. Benar-benar hari pertama yang, "krik-krik."


Sekitar 20 menit kurang aku selesai beromong kosong. Akhirnya tibalah sesi TUGAS! Sesi yang sejenak bisa menghela napas.


Gumamku waktu itu, "aku gagal, pak! Aku gagal."


Jeng... Jeng... Tiba-tiba seorang peserta didik perempuan manis nan cantik menghampiri hela napasku. Kupikir, ada apa dia maju menghadapku?
Sepele, dia hanya bertanya tentang tugas yang kurang ia mengerti. Tapi kau tahu, sejak saat itu aku berterima kasih padanya. Kelas yang semula kupikir tak peduli keberadaanku, kelas yang semula membuatku langsung menyerah, berubah karena dia. Dialah malaikat kecil yang diutus untuk menghilangkan semua rasa ketakutanku. Asilem.


Pada pertemuan kedua atau ketiga (aku tak tahu tepatnya), datanglah satu lagi. Kali ini seorang lelaki. Ia diam-diam menyukai kata-kata indah bernama puisi. Sejak saat itu kami tak henti membahas puisi.


Kalau ia membuat sebuah puisi cinta, aku akan jadi orang pertama yang mengagumi karyanya. Indah sekali, menurutku. Kurangnya, ia belum mampu memilah judul dari puisinya. Kadang terlalu sederhana untuk kata-kata yang lumayan wah!


Satu hal lagi yang kuingat, ia juga pendiam. Aku sangat tahu ciri-ciri pendiam. Hebatnya, ia tak secupu diriku. Pandai bergaul. Syukurlah. Vior.


Ketika dua orang itu muncul dan mulai dekat denganku, maka yang lain mulai mencoba dekat pula. Ternyata pikiran burukku dulu memang hanya kesan pertama. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Aku mulai tahu pribadi masing-masing mereka. Mulai dari seorang siswi yang berhasil menjawab kuis berhadiah novel, seorang penguasa kata-kata ajaib (persis Viorlah), siswi rajin yang bahkan sempat tak peduli waktu istirahatnya (aku juga pernah memberinya tugas khusus, cukup bagus), anak lelaki pembawa ukulele, FPI teman Asilem, dan masih banyak. Total 32 peserta didik. 18 perempuan, 14 laki-laki. Terbalik gak? 😅Satu kenangan lagi dan kuucapkan pula terima kasih. Buat wakil story telling yang berhasil masuk 7 besar,hebat! Dan tim putsal yang berhasil mengangkat piala utama, luar biasa!
Apalagi ya? Masih banyak sebetulnya, tapi kenangan-kenangan itulah yang terbaik dari kelas ini.


Pesan: Bapak mau kalian mewujudkan cita-cita kalian yang pernah kita catat di hari kedua. Jangan ragu, jangan takut! Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.


Sampai jumpa dikesempatan yang bisa mempertemukan kita kembali. Dan buatmu, Asilem, aku titip namaku untuk cita-citamu.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama