Kenangan Pertama yang Kuingat Semasa Kecil

Bapak pekerja keras dan bibi si sosok ibu keduaku
Pinterest

Layaknya anak usia 2-3 tahun, aku sama sekali tidak begitu yakin kenangan pertama apa yang mampu kusimpan dalam memori pikiranku. Tapi aku mengingat beberapa opsi kenangan yang mungkin salah satunya adalah yang pertama, atau bahkan tidak sama sekali. Usia semuda itu memang tak cukup kuat untuk menumpuk berbagai kenangan besar, bahkan yang kecil pun akan sangat sulit.

Bapak Merantau
Kenangan ini pasti akan terus kuingat sampai kapanpun. Sosok seorang bapak yang memang diwajibkan menjadi tulang punggung keluarga. Ia adalah manusia dan alasanku ingin berjuang dalam banyak keadaan. Seorang figur yang memotivasi anak-anaknya dengan kerja dan usaha keras, serta sedetik senyuman.

Kala itu untuk pertama kalinya ia pergi mengharap nasib. Menuju alun-alun kota kembang yang aku tidak tahu sejauh mana tempat itu. Satu hal yang kutahu saat itu, aku tidak akan lagi dipangku atau bermain ucang ange bersama dia. Kami akan sangat jarang bertemu.

Ia pergi menunggangi ojek di kampungku. Disitulah kenangan yang tak pernah kulupakan terjadi. Aku berlari mendekati motor yang ditungganginya, kuangkat tanganku, kutarik pegangan besi yang biasa terpasang di belakang motor. Benar-benar belum ikhlas melihat ia berjuang sendiri, aku mengkhawatirkannya. Kutahan sekuat mungkin, berharap ia melihat tangisanku dan mengasihani anak pangais bungsunya itu. Tapi bukan bapakku jika tekadnya mudah luluh karena tangisan anaknya. Ia juga sadar betul, itu ia lakukan buat menghidupi dan meninggikan pendidikan anak-anaknya. Aku lalu dipangku seseorang dari belakang, entah siapa. Tanganku terlepas, sosok bapak yang biasa menemani malam bahagiaku perlahan menghilang dari pandangan.

Bibi yang Mengasuhku, Aku Punya Adik
Dua kenangan yang saling berhubungan, dua-duanya juga kebahagiaan. Jika kamu pikir aku membenci adikku karena ia merebut kasih sayang ibu dariku, itu tidak benar. Saat adikku lahir, akulah yang paling overaktif menyambut sikecil. Yang kuingat saat itu, aku sampai keluar masuk rumah sembari meloncat-loncat girang. Sanubari ini bicara, "aku punya orang yang bisa kujaga."

Karena aku sadar ibuku akan fokus mengurus adikku, maka aku tidak keberatan diasuh bibiku saat itu. Bibi yang sudah kuanggap sebagai ibu kedua di hidupku. Hampir semua tugas seorang ibu, bibiku kerjakan dengan penuh kasih sayang. Lagipula saat itu bibiku belum memiliki anak. Hampir setiap pagi, siang dan sore, aku dimandikannya. Dari dulu aku kurang suka air, terlalu dingin menyentuh tubuhku. Aku sangat ingat, bibiku kewalahan melihat tingkahku yang susah sekali mandi. He, maaf Bi.

Selain dimandikan, aku juga sering dibedaki, dan aku sama tak sukanya seperti air. Yang kusuka atas asuhan bibiku hanya diberi makan dan saat ia mencari kutu di rambutku, nyaman rasanya. Sampai bisa membuatku tertidur pulas di pangkuannya.

Hanya dua itu sebetulnya yang cukup kuyakini sebagai kenangan pertama dalam hidupku. Sisanya hanya sekelebat kebetulan mampir di pikiran. Salah satunya adalah hadiah setelah aku disunat. Aku diberi satu bungkus kurma produksi lokal yang ditusuk. Ada empat kurma setiap tusuknya. Maka sejak itu aku sangat menyukai kurma, sampai saat ini sebetulnya. Kecilku tak peduli seberapa murah hadiah yang kudapat, yang penting aku sangat bahagia.

Tidak ada satu pun cerita bersama teman masa kecil. Sebenarnya kenangannya begitu banyak, tapi aku sangat tidak yakin ada salah satu yang menjadi kenangan pertamaku. Untuk ceritanya sendiri, nanti juga ada waktunya. Tunggu saja.

Cukup untuk episode perdana waktu dan sanubari terlupa hari ini. Mungkin aku akan berusaha rutin menulis soal kenangan masa kecilku hingga masa yang akan datang. Bisa setiap hari, minggu atau bulan, jangan sampai hanya setahun sekali. Kalaupun tak ada pembaca setia, aku juga kurang begitu peduli. Jika ada, aku sangat berterima kasih. Berkomentarlah, agar aku mengetahui sosok dirimu. 😁
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama