Waktu, Sanubari Terlupa: Aku Merindukan 7 Manusia dalam Satu Gubuk Sederhana

Keluarga. Semua orang pasti punya dan butuh keluarga, tidak mungkin tidak. Bahkan Nabi Adam pun membeutuhkan pasangan dan keluarga.

Aku juga memilikinya, keluarga terbaik di dunia. Bapak, Emak, 4 saudara; 3 laki-laki, satu perempuan, dan tentu saja diriku. Kisah-kisah kebersamaanku dengan mereka tak cukup muat untuk ditulis dalam satu tulisan. Namun hari ini, aku akan berusaha merangkum segala kenangannya, terindah atau paling haru sekalipun.

1. Haru

Jujur, sebelum bapakku memutuskan untuk mencari rejeki ke kota Bandung, kehidupan keluarga kami bisa dikatakan cukup mengerikan. Di dalam sebuah gubuk reyot dengan bahan bilik, di sanalah kisah haru keluargaku terkumpul. Dari segi ekonomi, kebersamaan, pertikaian, dan sebagainya.

Ikan asin, ikan peda, telur dadar adalah lauk mewah pada masa kecilku dan saudar-saudaraku. Bahkan satu telur dadar sengaja Emak potong antara 5-7 bagian agar kami bisa saling menikmatinya. Tanpa itu semua, kami biasa makan tanpa lauk atau membuat lauk sendiri. Penasaran apa yang selalu kami buat? Tahan sedikit sesakmu, mungkin ini akan menjadi rasa syukurmu. Aku biasanya menuangkan air panas ke piring berisi nasi, lalu kutaburkan garam dab vetsin. Vetsin atau sasa biasanya akan kutambahkab jika ada, jika tidak, ya hanya garam saja. Ya... Memang agak enek saat memakannya, tapi demi menghibur perutku.

Salah satu yang mungkin aku syukuri adalah pernah memiliki televisi saat itu. Meski murah, tapi aku mensyukurinya.saat itu kurasa sudah dua kali kami berganti televisi, itupun dalam tempo yang sangat lama. Namanya juga televisi murah, gampang rusak. Kalau aku benar-benar butuh hiburan, aku biasanya datang ke rumah tetangga bersama ibuku di malam hari.

Apalagi ya? Oh, soal peralatan sekolah. Pernah suatu ketika—saat masih RA/TK—aku merengek ingin dibelikan tas ransel besar seperti teman-temanku. Emak berusaha mewujudkan itu, namun apa boleh buat, beliau hanya mampu membeli tas kecil berwarna hijau dengan gambar teletubis. Kecil sekali, sampai satu buku pun tak muat. Kala itu aku menolak pemberian dari hasil keringat Emak, aku kekeuh ingin tas yang besar. Sampai akhirnya, berkat bantuan beberapa ibu-ibu di sekitar rumahku, aku menerima tas itu. Dengan menahan rasa malu dan iri hati, aku menjinjing tas itu saat aku pergi belajar. Beberapa hari kemudian ternyata aku mulai menyukai tas itu, aku merawatnya baik-baik.
Ilustrasi tas ini terlalu besar, kurang kecil untuk ukuran tas milikku kala itu sebenarnya.


Lalu masuk Madrasah Ibtidaiyyah, seragam sekolahku tak juga membaik. Seragamku adalah bekas dari kakak lelakiku. Ukurannya terlalu besar untukku yang masih mungil. Seragam itu juga lebih mirip coklat merah daripada putih merah biasanya. Kucel sekali. Resleting juga sudah dol, tak punya sabuk sehingga harus memakai tali rapia, kadang memakai sandal kadang telanjang kaki. Sedih rasanya saat mengingat kenangan-kenangan itu.

Selain kehidupan ekonomi, aku juga memiliki beberapa cerita haru di setiap sosok keluargaku. Aku akan menceritakannya, tapi bukan hari ini. Aku akan membagikan setiap kisahku dengan satu-persatu dari 6 manusia itu. Tunggu saja.

2. Bahagia

Sama halnya dengan kisah haru, bahagia pun sesungguhnya begitu banyak yang bisa kusampaikan. Aku akan mengisahkannya secara umum saja dahulu.

Sangat sempit sejujurnya ingatanku seberapa sering kami berkumpul bersama secara lengkap. Karena biasanya hanya Emak, Bapak, Teh Apit, Adikku, dan aku yang sering berkumpul bersama. Kedua kakak lelakiku sudah memiliki keseruan sendiri-sendiri. Kalau pun mereka berada di rumah, jarang sekali mereka meluangkan waktu untuk bermain bersama. Loh, kok malah kisah sedih? Hehe, maaf.

Ya... Kalau pada akhirnya kami bisa berkumpul bersama dalam satu gubuk itu, tentu sangat berharga dan mahal. Meski hanya sedikit obrolah disela-sela makan.

Kedua kakak lelakiku memang seperti bersikap acuh, namun jangan salah, mereka juga adalah pelindung terbaik adik-adiknya. Kalau ada masalah, mereka akan datang membantu. Kakak pertama dengan kekuatannya, kakak kedua dengan ilmunya. Seimbang kan?

※※※

Waktu terus berlalu, masa berkumpul keluargaku juga semakin merenggang. Kedua kakak lelakiku sudah memiliki keluarga baru, sedang adikku menjadi seorang santri. Lalu, kakak perempuanku sudah lama menjadi awan langitku. Menjadi sebuah bayangan di atas sana, yang sering kali kurindukan. Aku yakin, saat ini ia masih mengharapkanku bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita berdua.

Kadang, aku merindukan masa kecilku bersama keluarga lengkapku di gubuk itu. Senang rasanya, tak ada tekanan untuk menjadi penopang hidup keluarga atau memaksa yang sebenarnya tak bisa. Sayang, waktu yang kuharap bisa kuatur, justru mengatur dan memaksakan kehendaknya. Aku hanya pasrah saja.

Kami sebenarnya sering berkumpul setiap tahun, dan lengkap. Ketika hari raya Idul Fitri tiba, kami pasti akan menemui Teh Apit yang tidur sangat lelap. Mendoakannya, kadang terpaksa menangisinya. Aku pernah berharap juga, ia terbangun dari lelapnya.

Hah... Betapa rindu sebetulnya.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama