Bayangkan, Punya Pasangan yang Hobi Nulis Juga

Pertanyaan pertama sebelum jauh-jauh memikirkan "sehobi" adalah, "Siapa yang mau denganku?" Mengeluh lagi.

Eits, maaf-maaf, kalimat di atas hanya keluhan masa lalu. Sekarang ini—setidaknya sampai hari ini—aku telah bertemu perempuan itu. Belum mengenal lebih jauh, tapi seperti biasa aku cukup memaksa meyakini diriku sendiri. Hanya saja khusus untuk perempuan ini, aku tak mau mengikatnya ke dalam jalur pacaran. Cukup menandainya, lalu memperjuangkannya. Semoga saja.

Bicara satu hobi kembali, ia sebenarnya sedikit melangkah pada hal itu. Yang kudengar langsung darinya, ia bergabung menjadi anggota KOPI di kampusnya. Bagi yang tak tahu KOPI, itu adalah komunitas para pecinta menulis. Aku pernah ikut bergabung saat SMA, tapi akhirnya keluar karena suatu alasan konyol. Kebetulan, KOPI ada di kampusnya. Jujur saja aku senang ketika ia mau membahasnya.

Sayangnya espektasiku terlalu jauh atau masih belum tercapai sebagai bahasa halusnya. Sering aku mengajaknya untuk berkolaborasi membuat suatu cerita atau apapun yang berhubungan dengan menulis karya. Jawabannya hampir selalu, "tidak tahu, aku belum bisa." Aku mengerti, jurusannya tak berbanding lurus dengan kepenulisan. Tapi sedikit berkaitan. Ia anak ekonomi berlandaskan syariat.

Agak kecewa sebetulnya, tapi memaksa adalah hal buruk juga. "Biarkan ia nyaman dengan pilihannya untuk hari ini," begitu pikirku. Karena aku yakin nanti ia juga tertarik denganku. Eh, dengan ajakanku maksudku.

Mengidamkan pasangan yang memiliki hobi yang sama, siapa yang tidak mau? Membayangkan berdiskusi soal tulisan karya berdua, bahkan berdebat dan saling mengkritik satu sama lain. Oh senangnya kesamaan. Sepasang yang melakukan aktivitas positif dan produktif.

Jika ada yang menyuruhku untuk bercermin terlebih dulu, positif saja, mungkin ia baru tahu blogku. Aku hanya mau punya pasangan sehobi, bukan pasangan dengan ilmu literasi tinggi. Cukup punya hobi sama, sederhana sekali. Kamu, perempuan yang kubicarakan, jangan mengeluh juga. Karena tak pernah aku memaksamu. See you!
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama