Aku Dalam Dunia Ciptaanku


Aku dalam dunia ciptaanku adalah keadilan dari ketidakadilan. Memihak diri sendiri dari sejak subuh hingga subuh lagi. Tidak ada, "kau aneh!" Dalam duniaku itu. Sudah seperti langit biru bersama kumpulan awan putih bersih tanpa noda gelap sekedip pun.

Aku dalam dunia ciptaanku, memiliki keluarga baru. Sebagai tambahan, adik perempuan. Rentang usiaku dengan dia tak jauh, tapi lebih tua dari adik lelakiku. Namanya... Ara.

Iya, sudah sejak SMTP aku membutuhkan seseorang yang benar-benar bisa kujaga. Sedikit mau merasakan bagaimana sebuah tanggung jawab berdiri dalam hati. Pun sebagai bukti aku bukan banci.

Kemudian—yang paling penting—aku dalam dunia ciptaanku adalah rasa nyaman memilih karakter pribadiku. Aku menikmati sekali jiwa introver, tak ada singgungan dari orang lain. Justru, mereka memahami. Hebatnya, aku sering mendapat layatan, untuk bisa bergaul tanpa paksaa.

Hmmh... Aku juga tak melupakan kakak perempuanku. Ia masih hidup dalam dunia ciptaanku itu. Tetapi ketika aku membayangkan itu, aku selalu tak kuat. Menghadapi dunia nyata, bahwa ia sudah tiada.

Aku juga memiliki sahabat perempuan. Ia sangat menghargai sekali caraku memandang hidup dan menjalaninya. Aku menyayanginya, seperti menyayangi adik perempuanku. Dan, ssstt... Aku sebetulnya mencintai dia. Dan adik perempuanku bilang, ia punya perasaan sama.

Aku dalam dunia ciptaanku seperti lautan, dan aku berada di tengahnya. Dalam kapal pesiar mewah klasik, mirip titanic. Tak ada gangguan, kecuali ombak yang hanya sesekali datang. Sesekali pula menyadarkan lamunan terdalam diriku.

Takkan pernah terjadi memang. Aku sangat sadar. Dunia ciptaanku hanyalah sebagai pelarian dari dunia nyata yang menyiksa. Orang introver sepertiku tidak cepat merespon sosial. Kala lemotnya keinginan bersosialku, aku juga harus menahan gempuran cercaan soal itu. Bukan saja dari orang jauh, tapi juga didekatku.

Tuhan, semoga dunia ciptaanku ini tidak menjadi sebuah dosa besar buatku. Aku hanya ingin menciptakan dunia tatkala duniamu sulit kujejaki isinya. Aku berjanji takkan lupa menjejakinya. Tapi ketika aku terkapar, izinkan aku beristirahat di dunia ciptaanku sendiri.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama