Aku dan Kata-kata

Menulis, Hobi, Merpati pembawa mimpi,

Beberapa belas tahun yang lalu, aku sangat terkesima dengan puisi Chairil Anwar di buku pelajaran sekolah Madrasah Ibtidaiyyah. Puisi itu berjudul "Aku", kau pasti tahu. Masuk kelas 6, sebuah film berjudul "Laskar Pelangi" menambah ketertarikanku pada menulis. Bayangkan, Andrea Hirata bisa meluncurkan tulisan-tulisannya ke seluruh dunia. Bonusnya lagi, Laskar Pelangi mendapat kesempatan untuk diabadikan sebagai film. Filmnya pun sesukses novelnya.

Puncaknya, ketika aku membaca salah satu karya Teh Fitri. Sebuah cerita pendek yang berhasil membuatku menangis untuk pertama kalinya, saat membaca cerita. Semagis itukah sebuah tulisan jika dibuat dengan hati?

Maka dari tiga sosok itu, sejak kelas 6 itu, aku memutuskan untuk mencintai tulisan. Bukan tulisan berbentuk makalah dan antek-anteknya, tapi tulisan yang bersifat memancing sanubari.

Berganti-ganti Buku Diari

Siapa sangka, sejak mulai mencintai kegiatan ini aku mulai semakin erat dengan menulis. Hampir di setiap buku pelajaran apapun, beberapa puisi dan cerpen tak usai terbubuh di lembaran terakhir buku.

Hampir semua buku pelajaran, kecuali matematika. Aku sedikit suka matematika, jadi aku lebih sering menghitung saja di sana.

Pada akhirnya aku mulai lelah menulis di sembarang tempat. Bayangkan saja aku harus menunggu mata pelajaran tertentu untuk menyelesaikan tulisan tertentu. Di rumah aku lebih rajin menonton televisi dan membaca buku. Buku ringan, cerita rakyat dan cerita Abu Nawas yang jenaka itu.

Mulailah aku membuat diariku sendiri. Sempat sebetulnya aku bertanya pada suara di otakku, "diari kan buat anak perempuan? Apa kata orang jika aku punya diari?"

"Lah, orang-orang mana peduli?" Begitulah kira-kira jawaban suara otakku.

Maka mulailah aku menyisihkan satu buku kosong untuk sekedar mengobati rindu. Rindu pada semua orang yang sedang menjauhiku, rindu keceriaan, rindu anti depresi. Rindu segala hal.

Aku mulai rutin menulis di buku diari. Sayangnya karena aku selalu lupa membuat judul di depan kaver, buku diariku sering kali hilang dan berganti-ganti. Terus-menerus berulang hingga SMA, bahkan sampai saat ini kurasa.

Mengenal Blog, Menulis di Internet

Sejak aku diperkenalkan dengan diari daring bernama 'blog' oleh Pak Sofi—salah satu guru di Madrasah Tsanawiyyah—aku dan satu kawanku mulai tertarik dengan itu.

Sedikit demi sedikit kupelajari apa itu blog. Aku dan kawanku, Rifki, juga mulai sering masuk warnet. Susah payah berjalan kaki, kadang kala masuk hutan dan jalan setapak pesawahan untuk mencapainya. Hanya untuk bisa tahu ilmu baru.

Kubuatlah blog pertamaku, ndarz9.heck.in, yang bila kau akses sekarang kau takkan menemukannya. Karena penyedia jasa blog mobilenya sudah lama tutup, 2016 lalu. Aku tak bisa mempertahankannya karena saat itu aku tertinggal info.

Di blog pertamaku itu aku menulis beberapa puisi yang sempat kubuat di buku. Kadang kala, aku juga menulis sembarangan. Apapun. Teknologi, olahraga, berita hasil salin tempel alias copas, dan sebagainya. Acak-acakan pokoknya, yang penting blogku tak sepi.

Sama halnya dengan buku diari, jiwa inkonsistenku kembali mengganggu. Aku sering berganti-ganti blog, terlebih sejak mengetahui platform yang lebih besar dari mywapblog. Yap, blogspot. Sering ku bolak-balik pindah pada kedua tempat itu.

Di blogspot akupun tak pernah konsisten. Rasanya tak terhitung jari, seberapa banyak aku membuat blog. Dari blog pribadi, blog dalam tanda kutip bisnis, hingga blog horor.

Bukan hanya sebab inkonsisten. Munculnya kesukaan-kesukaan baru seiring berjalan waktu juga memicu semua itu. Menulis sastra sederhana bukan lagi jadi poin penting. Aku mulai suka cerita-cerita horor gore, hal-hal berbau tekno, hingga tutorial-tutorial tidak jelas.

Sebetulnya, rasa menyesal selalu ada. Tulisan-tulisanku harus kembali hilang karena salahku sendiri. Coba saja jika aku patuh dengan satu wadah saja, mungkin aku bisa terkenal macam Raditya Dika. Bahkan melebihinya. Aku lebih senior dibandingnya soal menulis di blog. 😁

Blog-blog yang kubangun hampir seluruhnya tutup usia, kuhapus semua. Takada yang bertahan lama. Nahasnya, blog pertamaku bahkan ditutup paksa oleh pihak penyedia.

Ruang eNIeR dan Minim Diksi

Aku mulai dewasa soal konsisten dengan blogku. Benar-benar ku konsepkan segalanya sebelum membuat blog baruku. Dari nama domain, judul blog, deskripsi hingga logo. Kulakukan itu sejak awal masuk kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia.

Jalan konsisten memang sulit. Sejak niatku itu aku masih selalu berganti nama bahkan logo. Tapi nilai plusnya, aku masih ingat untuk selalu backup seluruh ide serta tulisanku.

Tiga tahun kemudian, tepatnya sejak September 2019, aku akhirnya menemukan nama terbaik selama kiprahku di dunia blog. Ialah Minim Diksi.

Nama itu sejatinya sudah lama jadi kata dalam bio sosial media. Baru sadar, nama itu keren bila jadi sebuah blog. Kubuatlah domainnya bernama minimdiksi.web.id. Jangan diakses, aku kehabisan uang untuk memperpanjang sewa domainnya. Tak bisa diakses.

Kesetiaanku pada tuan Blogspot kurealisasikan dengan membuat blog berdomain ruangenier.blogspot.com. Yap, yang sedang kau akses sekarang ini. Sejatinya blog ini blog lama, hanya mengubah nama domain saja, yang agak lebih kece dan ikonik. Untukku sendiri.

Minim Diksi jadi web menulis berbagai sastra di pikiranku, sedang Ruang eNIeR ini jadi blog pribadi tempat keluh kesah selama hidupku. Dan tujuan utamanya tetap untuk kalian semua, memberi manfaat orang banyak. Siapa tahu kau juga terinspirasi denganku, siapa tahu.

Dengan dua blog ini, kuharap aku tak mengulangi ketidakkonsistensianku dulu. Semoga bertahan lama, hingga selamanya. Hingga aku mencapai titik puncak keinginanku menulis, menjadi penulis buku novel best seller. Aamiin... 😇

Selepas jadi penulis novel, aku bakal tetap sering menulis ceritaku di sini. Sebab perjalanan panjang ini, dan sejarah yang kubuat ini, kuusahakan tetap berdiri.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama