Bapak: Kisah-kisah Pilu dan Kecewa

Hingga... Tahu-tahu aku sudah jadi anak remaja. Sebuah awal tentang memahami bahwa hidup punya sisi kelam. Dari berbagai sisi. Termasuk kebersamaan dengan bapak.

Masa kelamku bersamanya berawal dari rasa kecewa bahwa anaknya tidak bisa terlalu lama tinggal di pondok pesantren. Ya, setelah lulus aku memang berniat masuk pesantren. Mengikuti keinginan hati serta yang pernah ada di hati. Jangan diceritakan siapa, aku sudah lupa. Tepatnya memaksa lupa.

Aku lanjutkan.

Setelah mendengar kabar aku hanya tinggal 5 harian di pondok, ayahku yang sebetulnya telah pergi merantau lagi, terpaksa kembali pulang. Aku tidak tahu seberapa besar kadar kecewanya waktu itu. Akupun tak pernah berani memandanginya lagi sejak kejadian itu. Tak ada kemarahan, tapi kuyakin semua itu terpendam di hatinya.

Esok harinya bapak mengantarku mendaftar ke Madrasah Tsanawiyyah yang tak jauh dari tempat tinggalku. Ia tak pernah mengajak aku mengobrol, hanya sebatas mendaftarkan, kemudian pergi. Kembali berjualan dalam kerasnya kehidupan kota.

Pada kisah kemarin aku lupa menyampaikan sempitnya kontrakan yang ditempati bapak. Tempat itu kupikir lebih mirip atap rumah yang hanya sedikit diperluas saja. Kumpulan kardus disulap jadi alas tempat tidur. Hanya satu kasur, itupun sangat kotor. Jika kami mau mandi, kami harus menunggu orang lain dulu, atau harus mandi subuh.

Jarak antara kontrakan dan Alun-alun cukup jauh sebetulnya. Tapi, sering bapak memilih untuk tidak naik angkutan umum. Mungkin alasan biaya atau sekedar berolahraga. Aku tidak tahu.

Kembali lagi pada kisah masa remaja.

Setelah kejadian yang kupikir biasa itu, hubungan kami tak terlalu baik. Kepalan tangan bapak juga sedikit demi sedikit menghilang.

Aku benar-benar semakin merasa sendirian. Omongan orang-orang mulai meruntuhkan percaya diriku, ditambah lagi bapak yang jarang lagi mengajakku untuk sekedar mengobrol. Seseorang yang dulunya cukup pintar berbicara, sekejap jadi pendiam, penyendiri dan pemurung.

Bapak memang sudah terlalu kecewa denganku. Saking kecewanya, bahkan ia lupa anaknya sedang mengangkat hadiah juara umum kembali. Dan kini di acara milad Diniyyah, yang jelas-jelas perhelatannya lebih besar. Tak kutemukan senyumnya malam itu. Aku menikmati juara umum hanya ditemani Teh Fitri, kakak perempuanku. Hanya ia saja yang terlihat bersemangat membuka kado besar itu.

Tepat keesokan harinya, pengumuman peringkat kelas di MTs diumumkan. Sialnya, karena depresiku peringkatku merosot jadi peringkat 4. Mengingat juara umum saja tak dipedulikan, aku tak pernah membicarakan ini padanya. Bahkan sampai saat ini ia tak pernah tahu. Mungkin ia akan tahu jika ada orang yang membaca ini kemudian bicara padanya. Aku tidak peduli.

Pernah, dan yang paling menyedihkan menurutku, ketika peringkat kelasku membaik 2 peringkat. Aku peringkat 2. Kemudian pada sebuah obrolan keluarga bapak menanyakan peringkat kelasku. Responnya mengejutkan, aku dianggap hanya fokus main dan menonton televisi saja. Beda dengan Teh Fitri, ia peringkat 4 di Madrasah Aliyah, justru diberikan dukungan. Katanya, ia harus banyak bersabar karena saingannya pasti berat-berat. Sanubariku lantas bicara, "sainganku jauh lebih berat, depresi namanya."

Kejadian-kejadian menyedihkan buatku itu pada akhirnya membuat jalan hidupku berubah. Yang tadinya mendewakan juara kelas dan lainnya, semakin lama semakin tak kupedulikan. Buat apa terus-terusan juara kelas kalau pada akhirnya tak ada yang memberikan sedikitpun pujian. Masa remaja memang masanya butuh apresiasi, kan? Tak salah kurasa.

Semakin lama hubunganku dengannya semakin tak terlihat, disitu pula peringkat kelasku makin tak karuan. Saat masuk SMA, bahkan pernah turun drastis di rangking 23. Apakah ketika aku menyebut itu bapak akan mensupportku juga? Aku tidak yakin. Justru pasti akan semakin menjadi. Lagipula, bapak jarang lagi menanyakan soal sekolahku. Malahan hubungan dekatku jadi ke Teh Fitri. Akan kuceritakan nanti dibagian Teh Fitri saja.

Bapak tahu anaknya kini banyak berdiam diri, tapi ia tak tahu alasannya. Tabungan depresiku atas masalah-masalah yang datang bertubi, membuat jalan hidupku tak terkendali. Otomatis juga berdampak pada perjalanan selanjutnya, yang pasti menambah kekecewaan bapak.

Saat pindah kampus misalnya. Setelah lulus sekolah SMA, aku melanjutkan pendidikanku di Sekolah Tinggi Teknologi di Bandung. Dan kau tahu, baru awal melangkah di sana aku tak bisa menahan depresiku. Seakan-akan pikiranku sudah terpengaruh oleh masalah masa lalu. Cacian, hinaan orang lain menggerayangi isi pikiranku. Lantas, belum juga tamat satu semester aku kembali memberi luka pada bapak. Bukan lagi mendiamkanku, saat itu untuk pertama kalinya aku memberikan tangisan kecewa pertamaku untuknya. Di kontrakan, jarak antara wajahku dengannya sangat dekat. Sehingga kami saling memandang, saling beradu airmata. Yang satu kecewa, dan yang satu terlalu sulit menahan depresinya.

Jelas, aku sangat merasa bersalah. Tapi bagaimana mungkin aku tetap melanjutkan hal yang bisa membuat ragaku jadi gila. Aku tak bisa.

Pada akhirnya bapak kembali mengalah untuk kedua kalinya. Demi anaknya, demi pula untuk Teh Fitri yang saat itu telah tiada. Bapak ingin mewujudkan mimpi kami, menjadi sarjana.

Lalu kupilihlah kembali jurusan yang jauh lebih bisa mendamaikan otak depresiku. Jurusan sastra dan bahasa. Memang ada label pendidikannya, tapi kurasa itu sudah cukup membuatku nyaman. Setidaknya depresiku tidak terlalu mengingkatku. Kala kegilaanku memuncak, aku bisa sedikit menggambarkannya pada sebuah puisi atau cerita mini.

Puncak perseteruanku dengan bapak tak berakhir di situ. Puncak nyatanya terjadi tatkala bapak sedang mencuci pakaian dan aku memainkan ponsel. Tiba-tiba bapak mengomel padaku, soal malasnya aku saat itu. Aku tak menggubrisnya beberapa saat. Tapi entah darimana datang keberanian itu, aku melawannya dengan amarah. Sedikit membicarakan beberapa masalah hidupku hingga menyuruhnya untuk mengambil golok lalu membunuhku.

Tak sempat aku berpikiran jernih. Benar-benar sudah muak aku dengan diriku sendiri. Aku ingin bapak tahu beberapa masalahku, mulai dari omongan orang terhadapku dan ketidakadilannya dulu padaku. Saat itu kami tak hanya saling menangis, tapi pula bercampur amarah, benar-benar amarah. Bapak mengeluarkan segala kecewanya padaku, begitupun sebaliknya aku.

Setengah jam kira-kira, perseteruan kami mulai mereda. Aku menangis sejadinya di kamar yang dulunya milik Teh Fitri. Memukul, menampar-nampar wajahku hingga memerah dan sedikit lebam. Tak lama bapak masuk, dan momen langka itu terjadi lagi. Tangan kami kembali saling mengepal, mirip saat aku masih kecil. Erat sekali. Hebatnya, ia mengusap halus rambutku. Sesuatu yang begitu sangat kuinginkan sejak lama. Aku sempat menolak kepalan itu, tapi memoriku semasa kecil membuatku luluh. Aku dan bapak saling meminta maaf. Hubungan bapak dan anak itu kembali membaik.

Sejak itu bapak kembali merangkulku lagi. Tak terlalu terasa seperti saat masih kecil, tapi aku mensyukurinya. Walaupun jarang mengobrol—seperti biasanya—tapi tak seburuk waktu itu. Bapak terlihat lebih membebaskan pilihanku asalkan aku merasa nyaman dan bahagia menjalaninya.

Bapak juga sering kali mengiming-imingku pekerjaan. Mulai dari menjadi pegawai bank, menjadi guru di tempat tinggalku, hingga kerjaan yang teman dekatnya tawarkan kepadaku jika aku sudah lulus nanti. Dalam hatiku, aku selalu tersenyum ketika mendengar tawaran-tawaran itu. Bapak telah kembali, sebagai motivator tanpa kataku. Hingga kini, detik ini, dan semoga sampai melihatku sukses dan punya anak nanti.

**

Bapak, terima kasih telah menjadi bapak terhebat di dunia. Aku jarang pernah mendengar kalimat motivasimu, seperti bapak-bapak biasanya, tapi aku yakin setiap kerja kerasmu adalah simbol motivasi buatku. Dan itu lebih dari kalimat-kalimat motivasi, jauh sekali.

Aku sampai saat ini punya jalan sendiri, jauh berbeda dari kebanyakan anak muda di kampung kita. Memang tak terlihat, tak ada jejaknya pula. Tapi untukku, aku sudah memberi sedikit jejak yang hanya orang tertentu yang bisa menyadarinya. Aku hanya butuh dukungan itu tetap berada pada dirimu selamanya. Doa dan ikhtiar kita berdua pasti akan didengar-Nya. Yakinlah.

Nandar IR, Juni pagi hari.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama