Bapak: Motivator Tanpa Kata

Ini adalah lanjutan dari hutang janjiku, mengisahkan satu persatu keluargaku. Tentu, aku memulainya dengan Bapak terbaik di dunia versiku.

Satu hal lagi, sebelum memulai kisahku dan bapak. Foto di atas adalah foto bapak dengan keponakanku. Takutnya ada yang berpikir itu aku. Aku belum pernah menemukan foto masa kecilku yang dipangku bapak. Semoga saja nanti ketemu.

Sebetulnya aku tak pernah ingat betul kapan aku mengenal bahwa orang gagah ini adalah bapakku. Tapi satu momen yang sering ku tafsirkan sebagai pertemuan pertamaku dengannya adalah saat dipangku di atasnya. Aku tertawa, lepas sekali. Ia pun sepertinya sama, mengangkat bangga anak keempatnya. Kedua tanganku memegangi keningnya yang terasa hangat, uban di kepalanya masih jarang waktu itu.

Bapak, di masa kecilku adalah wahana bermain. Jika ia tak mampu membeli tiket pasar malam tahunan, bapak rela jadi wahana impianku. Misalnya jadi kuda-kudaan, jungkat-jungkit, atau bahkan jadi kapal bajak laut yang sewaktu-waktu karam. Karam, sebuah kata yang mengartikan lelah.

Saking eratnya hubunganku dengannya, sebuah kepalan tangannya pada tanganku bisa begitu membanggakan dan berkesan sekali.

Kami sangat dekat saat itu. Setiap bapak pergi ke sebuah perayaan—jualan makanan ringan—aku selalu merengek minta ikut. Pernah suatu hari aku ikut berjualan dengannya, di sebuah perayaan perkawinan kalau tidak salah. Hiburannya megah, layar tancap. Waktu itu dua film yang diputar, film Rhoma Irama dan Charlie's Angel's. Sebetulnya waktu itu aku tidak tahu dua film itu, tapi untung saja ingatan itu masih cukup betah dipikiranku. Itu jadi film pertama yang ku tonton. Aku dan bapak sangat menikmatinya, sembari melayani beberapa pembeli.

Berdagang memang mata pencaharian utama bapak dan Emakku. Di rumah, kami memanfaatkan ruang kosong untuk dijadikan warung. Kampungku saat itu tidak terlalu ramai pedagang, sehingga cukuplah untuk biaya hidup kelima anaknya. Jika ada perhelatan besar, bapak sering membawa beberapa dagangannya ke sana. Aku sering melihatnya tersenyum saat memangku dagangan yang kukira cukup berat. Ditambah ia kadang harus berjalan kaki ke tempat tujuan.

Namun karena kebutuhan keluarga yang dirasa masih belum cukup, bapak akhirnya memutuskan untuk berdagang di kota. Kota Bandung, kota mode. Bukan berdagang di toko, melainkan menjadi seorang pedagang kaki lima. Tukang asongan, kasarnya.

Setiap tahun aku sering melihatnya susah payah di sana. Tepatnya ketika aku, adikku, dan kakak perempuanku sedang libur sekolah. Kami jarang diajak berlibur ke taman rekreasi atau wahana bermain. Pernah sekali, waktu ke kebun binatang, tapi tak terlalu berkesan. Liburan kami hanya memandangi sibuknya kota Bandung dan bapak kami. Setiap kali ia mendapat pelanggan, saat itu pula aku tahu bagaimana cara bapakku memotivasiku serta adik dan kakakku. Dengan kerja keras, peluh keringat.

Dalam kotak kecil berharganya, ia berjualan beberapa bungkus kopi yang bisa sekaligus diseduh di tempat. Ia punya termos berwarna oranye, benda itu masih ada sampai sekarang di rumah. Ia juga menjual rokok, permen, susu kotak, juga makanan ringan. Bapak dan kotak kebanggaannya itu seolah jadi saksi buat anak-anaknya jika mereka mengaku tak pernah dibahagiakan sama sekali.

Setiap ada kaki lima, disitulah Satpol PP akan selalu bermunculan. Apalagi ia berjualan di tempat umum, di dekat Masjid kebanggaan kota Bandung. Sebagai seorang pengamat sejati, aku takkan lupa hal ini. Setiap ia mengetahui ada Satpol PP datang, kami selalu dievakuasi ke dalam masjid olehnya. "Biarlah aku sendiri yang menghadapi wajah-wajah garang itu," begitu kira-kira pikirnya. Bapak mana yang tega melihat anak-anaknya ketakutan ketika ayahnya dipaksa terusir.

Oh, sebuah momen paling berkesan ingin aku bicarakan juga di sini. Ketika itu aku masih kelas 3 MI. Aku adalah anak berprestasi, juara satu terus, tak pernah turun. Waktu itu dengan percaya dirinya aku memandang bapakku yang menanti anaknya naik panggung. Saat pengumuman peringkat pertama, namaku ternyata tak disebut guruku. Perasaan kecewa bapak dan anaknya seolah menyatu. Aku tak berani memandangnya lagi, semua mimpiku seakan sirna sejak saat itu. Prestasiku merosot tajam.

Lalu, alangkah kagetnya aku ketika ternyata aku dipanggil juga. Bukan sebagai juara harapan, melainkan juara umum. Penghargaan paling tinggi. Bukan hanya satu kelas, melainkan satu sekolah, akulah yang paling tinggi. Seketika aku memandang bapak. Tentu, ia tersenyum sangat bangga. Saking bangganya, kulihat beberapa pembeli diabaikannya. Fokusnya hanya pada anak lelaki bernama Nandar itu, tak ada yang lain. Setidaknya sampai hadiah super besar berada dalam genggamanku. Kami saling bangga, kami saling memuji dalam hati.

Aku memang berprestasi, tapi jarang aku merengek meminta hadiah dari bapak. Aku tahu, keluargaku tak semampu itu. Namun bukan berarti bapak tidak pernah memberi kado spesial untuk prestasiku. Saat juara satu di kelas empat, ia pernah memberiku hadiah boneka katakter Hulk dengan lampu kecil di perut berototnya. Senang rasanya saat itu. Saking senangnya, aku sering membawanya jalan-jalan saat Emak mengajakku ke pasar. Layaknya anak-anak masa itu, semua boneka dibayangkan bisa terbang. Akupun demikian.

Sayangnya, boneka bersejarah itu akhirnya lenyap tak tahu ke mana. Dulu aku sangat-sangat menjaganya, kusimpan rapi di laci baju. Tapi mau bagaimana lagi, boneka itu harus hilang. Kalau saja boneka itu masih ada sampai saat ini, mungkin aku jadi manusia paling beruntung yang bisa menjaga mainan pemberian bapaknya hingga dewasa.

Mungkin, bahkan pasti ada kisah yang terlewat di sini. Ini kisah masa kecil, yang sejatinya sulit diingat semua kecuali yang benar-benar berkesan sekali untukku. Kisahku bersama bapak terbaik sedunia ini juga belum mau ku akhiri sampai sini. Aku ingin menceritakan beberapa kisah remaja sampai dewasaku bersamanya. Kisah-kisah kelam, kisah-kisah yang akhirnya membuat hubunganku dan bapak tak terlalu harmonis lagi. Yang dulunya benar-benar bisa kupeluk atau hanya sekedar memegang tangannya, berubah menjadi hanya mengobrol lalu selesai. Akanku ceritakan nanti, secepatnya. Semoga saja.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama