Mak: Mak, Malaikat Penjaga Warung, dan Bawelnya

Mak Wati
Mak Wati dan anak dari kakak tertuaku


Emak Wati atau sering kupersingkat Mak Ati, bukan lagi sosok ibu terbaik di dunia. Ia lebih cocok jadi malaikat bawel sebab kasih sayangnya. Selain bapak, ia juga jadi alasan semasa kecilku, rutin meihat hela napasnya ketika tidur pulas pada malam hari. Kau juga begitu bukan? Rata-rata sama, kita takut kehilangan.

Jujur, di usiaku yang belum genap lima tahun, aku justru lebih dekat dengan bibiku. Ia juga bakal kuceritakan nanti.

Semenjak si bungsu lahir, aku memang tidak terlalu diprioritaskan. Mak begitu sangat fokus merawat adikku yang dulu masih lucu. Ibuku menyayanginya, begitu pula diriku. Maka tidak ada alasan aku mengadu soal siapa yang lebih prioritas. Toh, dirawat bibiku juga tak kalah membahagiakan.

Kedekatan pertamaku dan masih betul-betul jadi bola biru yang tersimpan rapi di lemari pikiranku (tonton kartun inside out) adalah ketika kami berdua berangkat ke pasar. Setiap minggu atau jika libur sekolah, Mak selalu menawariku pergi bersama. Kadang kutolak, kadang kuterima, tergantung jadwal bermain dan tontonanku yang super padat. Seringnya aku menerima tawarannya.

Pasar Singaparna, tempat kumuh, becek, dan bau ikan asin itu menjadi kisah panjang kebersamaan aku dan Mak. Aku jarang merengek meminta dibelikan mainan. Hanya dua permintaanku biasanya, kalau bukan sebungkus sate kurma, paling tidak bubur kacang hijau. Tapi, kalau tidak bisa keduanya, aku tidak mau memaksa.

Mak memang tidak begitu dekat dengan perjalanan masa kecilku. Jarang sekali ia melihatku tampil di depan panggung sebagai juara kelas. Ia sibuk dengan bungsu dan dagangan di depan rumahnya.

Mak Ati sibuk dengan bagaimana anak-anaknya bisa mendapat gizi dan makan enak. Seringku lihat ia menunggu dulu anak-anaknya kebagian jatah lauk, kemudian sisanya buat Mak sendiri. Kadang aku dan saudara-saudaraku suka maruk, menyisakan sedikit saja buat Mak dan bapak.

Urusan rumah tangga dan makan sehari-hari memang Mak ahlinya. Apapun yang bisa ia masak, ia masak. Sekalipun hanya sebutir telur yang didadar, dibagi tujuh. Terbayang kan sekecil apa itu?

Kalau sialnya tak ada yang bisa dimasak, ada satu ucapan yang paling ikonik dari Mak untukku. Ia akan berkata, "ada tuh, asin tunyuk." Dengan tawa kecil pertanda ia sedang bergurau demi menyenangkan anaknya. Kau tahu apa itu asin tunyuk (Indonesia: tunjuk)? Itu sebutan Mak untuk garam. Haha... Mak memang kadang senang mengusili anak-anaknya.

Atau, jika tidak ada lauk buat dimakan, kami selalu membuat kreatifitas. Misalnya, mencampur minyak bekas ikan asin kemarin dengan nasi. Kalau tidak, kami suka meracik garam, micin serta nasi yang kemudian diberi sedikit air panas. Rasanya mirip-mirip kuah sayur sop, tanpa sayur dan sop. Dulu, rasanya enak sekali.

Mak, aku, dan anak-anaknya semakin dekat ketika bapak telah sibuk merantau. Yang arrinya, Mak benar-benar mengurus semuanya sendiri. Mulai dari mengingatkan belajar, cuci baju, bawel sebab tingkah susah diurus anaknya, dan sebagainya. Pasti lelah, kuyakin itu. Sayang sekali aku masih sangat bandel meski selalu juara satu.

Ketika bapakku masih belum sanggup menonton televisi, Mak juga sering mengajakku ke rumah tetangga. Setiap malam, rutin dilakukan. Entah apa uang kutonton saat itu, aku terlalu nyaman tidur dipangkuan Mak.

Ketika Mak Menangis

Sayang sekali, aku tak pernah berada diposisi Mak ataupun mengalami kejadian yang sama seperti bersama bapak. Aku kurang tahu persis apa saja yang tega membuat wanita kuat itu luluh dalam deraian airmata.

Memang, salah satunya pasti ulahku dan saudara-saudaraku. Tapi bukan tangisan itu yang kubicarakan. Tangisan ini berbeda, sering tanpa alasan. Kadang menangis dalam pelukan bapak saat tidur, kadang ketika ia sedang berada di depan hawu (tungku). Bahkan hingga aku menulis kisah ini, aku tak pernah tahu alasannya. Benar-benar penasaran, tapi canggung bila ditanyakan.

Aku memang sering melihat ia bertengkar dengan seseorang yang tidak bisa kuceritakan, terlalu pribadi. Apakah karena dia? Kalau iya, tidak salah aku membencinya waktu kecil. Kalau bukan karena dia .......ku, kutonjok mukanya. Seenaknya Mak dibuat begitu.

Kalau bukan karena itu, mungkin Mak sering teringat dengan barang dagangannya. Kuceritakan saja, memori ini terlalu berharga jika tidak diabadikan.

Warung Milik Mak

Warung kecil yang dibuat Mak ini memiliki sejarah yang panjang. Bahkan ketika aku belum lahir, warung Mak Ati sudah berdiri. Awal-awal ketika warung di kampung tak seramai sekarang, pembeli sering berdatangan. Baik itu membeli atau sekedar mencatat utangan.

Warung Mak cukup laris manis, bahkan sangat lengkap. Dari makanan anak-anak, peralatan mandi habis pakai, rokok, minyak sayur, minyak tanah, hingga pupuk kimia buat sawah.

Beberapa tahun setelah itu, persaingan mulai bermunculan. Hingga ada yang menabrak harga, lebih murah dari warung Mak. Sudah jelas, pembeli memilih warung dengan harga murah.

Sejak itulah Mak jarang-jarang pergi ke pasar. Biasanya seminggu sekali, jadi dua minggu bahkan sebulan sekali. Kalaupun mau pergi, ia jadi lupa mengajakku dan boneka hadiah bapak.

Warung Mak lama-lama sepi. Aku sering memandangi warung milik Mak. Beberapa makanan siap saji sampai melebihi batas kadaluarsa, hingga membusuk. Bulukan. Iya, bayangkan, sampai bulukan.

Mirisnya lagi, makanan itu kadang ia masak lagi untuk dimakannya dan anak-anaknya. Aku tahu, memang tidak baik untuk kesehatan. Tapi apa boleh buat, itu caraku sedikit menyenangkan Mak.

Aku tidak paham dengan diriku, kenapa ketika itu satu tetes airmata pun takada. Padahal pasti Mak menangis ketika aku tak melihatnya.

Tahun-tahun berikutnya, Mak Ati kadang membuka tutup warung. Seolah ia lelah dengan jualannya tapi tidak rido gulung tikar. Siapa pula yang tidak mau mempertahankan perjuangan.

Sampai dagangan bapak lebih maju di Bandung dan rumahku berubah jadi bangunan tembok, Mak masih mencoba membuka usaha warungnya.

Tetap saja sia-sia. Mak akhirnya menyerah dan menutup warung di rumahnya selamanya. Warung hasil jerih payah Mak dan bapak, lenyap dihimpit zaman. Meski kami masih harus bersyukur, perjuangan bapak di Bandung tak sia-sia.

Padahal aku sangat merindukan bawelannya ketika aku disuruh menjaga warung, atau ketika aku sering jajan terlalu boros di warung sendiri. Tidak ada lagi pembeli yang sering berhutang, takada lagi momen ketika Mak membungkus kemiri dengan plastik dan lilin, takada lagi bau pasar, takada lagi.

Mak, maaf jika dulu aku jadi salah satu penyebab warung Mak gulung tikar. Hari ini aku mau jujur, aku pernah beberapa kali mengambil uang hasil jualan tanpa Mak tahu. Tapi itu saat aku masih benar-benar polos. Semenjak aku tahu perjuangan Mak, aku lebih sering berdiam diri menunggu pembeli datang.

Alasan-alasan itu yang berhasil membuatku menghemat kata-kata uang, bahkan jarang meminta. Jikapun terpaksa, aku selalu mencari waktu yang pas tanpa perasaan bersalah.

Mak, jangan pernah putus asa lagi ya, Mak. Aku memang masih belum berguna jadi anak, aku juga masih belum fasih menjaga Mak, tapi aku punya cita-cita buat bisa. Mak pasti selalu berdoa, tapi Mak, tetaplah berdoa untukku, bapak dan anak-anakmu yang lain.

Mak, Sang Malaikat Bawel

Ini hanya sebuah kisi-kisi kelanjutan kisah Mak dan aku nanti.

Mak memang bawel. Bawel untuk kebaikanku, pasti. Kalau aku tak buru-buru bangun subuh, aku sering dibohongi. Katanya sudah jam tujuh pagi, padahal jam empat lewat empat puluh pun belum. Hebatnya aku sering tertipu, padahal kebohongan itu dilakukan hampir setiap hari. Sampai saat ini. Kalau dia sudah berbohong saat subuh, berarti Mak sudah lebih dari dua kali membangunkanku.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

2 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Hallo kak Nanda, salam kenal...
    ini cerita asli atau fiksi kak? Apapun itu saya suka, dikemas dengan apik dan bisa membawa pembaca larut dalam cerita. Bahkan saya ngerasa sedih begini.
    Tetap menulis ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Renov. Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Nandar bukan Nanda. 😁
      Ini 99% kisah nyata, sisanya hanya bumbu-bumbu supaya ceritanya sampai ke pembaca dan pembaca menikmatinya. Terima kasih sudah mengapresiasi tulisan saya, maaf juga kalau masih agak berantakan di sana-sini. Maklumlah, blog curhat, tidak terlalu dipikirkan, ngalir aja. Hehe.

      Hapus
Lebih baru Lebih lama