Catatan Hari Ini: Seberapa Berat Nasibmu di Tahun Ini?

Perjalanan hidup, nasib, efek pandemi, 2020 mengeluh, corona, covid19

Assalaamu 'alaikum...

Sebagian besar manusia di seluruh dunia pasti setuju, tahun ini begitu berat dari tahun-tahun kemarin. Dari sebuah makhluk tak kasatmata, kita dilanda duka dengan segala macam rupa.

Aku akan mencoba merangkum beberapa rasa duka itu untukmu. Tidak semua, tapi bisa mewakili, aku kira begitu.

Kuharap kau membaca tulisanku ini dalam keadaan sedang mendengar musik sendu. Mau itu lagu atau hanya intrumen merdu. Ya... sebagai penambah suasana, dalam rebahanmu.

Mahasiswa, Tingkat Akhir Terutama

Perjalanan hidup, nasib, efek pandemi, 2020 mengeluh, corona, covid19
pixabay/steve_a_johnson

Ah... mungkin sejak ditutupnya kegiatan kampus, hingga saat ini mungkin, banyak mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengeluh dan menyesal. Kamu salah satunya?

Mungkin kau sedang teriak-teriak dalam sanubari, "kenapa aku begitu pemalas? Kalau saja dari awal-awal aku menyelesaikan semua, aku sudah jadi sarjana. Membahagiakan kedua orang tua!" Sambil menjerit kecil, mengeluarkan beberapa ribu tetes airmata.

Mengeluh, bertanya-tanya, "kapan selesainya?"

Belum lagi, ketika penelitianmu diharuskan ke suatu tempat. Sekolah misalnya. Kamu tentu tahu sekolah pun di tutup hingga waktu yang kau pun belum tahu sampai kapan. Penelitianmu terhambat, toga dan pernak-pernik wisuda belum bisa kau pakai.

Keluh kesah ini tidak berlaku untukmu, mahasiswa tingkat akhir yang sejak awal berjuang mati-matian. Kuucapkan selamat, salut atas usaha kerasmu. Tolong doakan kami yang pemalas ini, ya. 😇

Lulusan Tanpa Perpisahan

Perjalanan hidup, nasib, efek pandemi, 2020 mengeluh, corona, covid19
baritopost.co.id

Ku khususkan untuk para pelajar SD/sederajat sampai SMA/sederajat. Sarjana ku kesampingkan, kuyakin kalian jauh lebih tabah dari adik-adik kalian.

Aku sendiri tidak bisa membayangkan betapa sepinya perpisahan tahun ini. Tak ada momen saling tatap, memeluk dan terharu bersama, tak ada upacara adat sebagai salam perpisahan, tak ada foto bersama, dan hal-hal lain yang biasanya ada di momen terakhir masa sekolah.

Tahun ini, kamu yang merasakan ini, hanya sebatas berpisah melalui live broadcast, yang gurumu sediakan sebagai pengganti kekecewaan. Memang tidak bisa mengobati seluruhnya, tapi setidaknya gurumu masih mau kamu punya momen itu. Momen terakhirmu bersama teman-teman sekelasmu, satu angkatanmu.

Pekerjaanmu! Terancam tak punya biaya hingga PHK

Perjalanan hidup, nasib, efek pandemi, 2020 mengeluh, corona, covid19
donil.chaps2000.org

Sejak pengumuman dibatasinya kegiatan sehari-hari, banyak perusahaan yang menutup sementara usahanya, tokonya, jasanya. Bukan hanya karena wabah, tapi juga karena usaha sedang seret-seretnya.

Ketika itu, terpaksalah kamu ikut dirumahkan. Luntang-lantung, bingung menghidupi biaya sendiri dan keluarga, dan mungkin kamu bisa terancam PHK. Aku tidak mencoba menakuti, tapi ancaman itu memang ada.

Apalagi jika kamu masih hidup bersama orang tua. Mau bilang apa ke mereka? Mau ngasih apa ke mereka? Gaji kamu belum cair, uang di dompetmu hanya beberapa lembar lima puluh ribuan. Sedinya lagi, kamu akan kembali diurus oleh mereka, seperti dulu. Kamu tahu sendiri, kadang sebagai anak kita sering merepotkan mereka. Ah, sudahlah, jalani saja yang sekarang ada.

Puncak kesedihan, sedang dialami orang tua kita

Dari ketiga contoh yang kuberikan, imbas terbesarnya ya tentu buat batin mereka. Siapa lagi coba?

Sedih melihat anaknya putus harapan karena ingin melihatnya wisuda, sedih melihat anaknya putus kerja, sedih melihat anaknya tak punya momen terakhir di sekolah. Batin mereka sensitif ketika melihat anaknya sedang merana.

Apalagi jika orang tua masih jadi tulang punggung utama. Pikiran mereka pasti sedang gundah, mencari biaya hidup keluarga dan pendidikan anaknya. Subsidi dari pemerintah pun hanya cukup sekitar dua minggu. Itupun mereka menghemat, benar-benar menghemat.

Bayangkan, betapa beratnya sedang di posisi mereka? Aku tak akan membuat ini seperti semniar-seminar renungan, yang menyuruhmu membayangkan kematian. Aku hanya ingin kamu sadar bahwa...

Nasibmu Pasti Berubah

Kupikir tahun ini tak akan terlalu berat jika kamu berusaha tabah dan menjalaninya. Meski memang, pandemi ini terlalu lama untuk tidak bisa dinikmati.

Kamu, mahasiswa tingkat akhir yang sedang berhenti menulis. Yuk, coba sedikit mengangkat dagumu. Usap tetesan airmata itu, kamu, kita pasti bisa. Soal penelitian, memang tidak bisa kamu lawan. Saranku, tabahlah dulu. Biarlah Tuhanmu yang menentukan waktu buatmu. Pilihan-Nya pasti tepat waktu. Jangan ragukan itu. 🙂

Hei... teman-teman satu kelasmu masih bisa kamu hubungi jarak jauh bukan? Apa salahnya menghubungi mereka, ngobrolin masa sekolah yang penuh bahagia. Atau kalian sama-sama membicarakan soal masa depan masing-masing. Siapa tahu dengan itu, bisa saling menyemangati dan menguatkan. Jadi, apa rencanamu nanti?

Kamu, pencari biaya hidup, sepertinya aku tidak berhak memotivasimu. Sejak awal memulai bekerja, keringat dikeningmu sudah menciptakan tanda kerja keras. Jadi kamu lebih punya pengalaman hidup keras dibandingkan aku. Aku mungkin hanya ingin berpesan, pertahankanlah, tetap berjuang seperti biasanya.

Maka, terakhir, meminta restulah kepada kedua orang tuamu. Keluarga kecilmu. Mereka adalah penyemangat utamamu sejak kecil hingga kamu sebesar ini.

Jika sudah tiada, doakanlah. Setiap doa-doamu pasti sampai pada mereka. Bilang, tak usah terlalu khawatir. Kamu akan baik-baik saja.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama