2 Kali Juara Umum, 2 Kali Tak Pernah Pegang Piala


Serasa benar-benar aku yang paling berdosa kala itu. Dua kali juara umum di bidang ilmu berbeda, bukan kebetulan kan? Maksudku, kenapa bisa?

Dulu sekali, saat aku masih zamannya main, aku terpesona melihat kakak-kakakku berdiri di tengah panggung. Seorang diri, disoroti lampu dan ditatap bangga para penonton yang melihat kecerdasannya.

Selepas beberapa detik dibiarkan menikmati kesendirian sebagai juara umum, momen prestisius pun terjadi. Sang juara dihadiahi sebuah kotak besar dan sebiah piala yang juga besar. Yang memberinya juga istimewa, ialah kepala sekolah atau ketua madrasah. Momen yang, "wow, menakjubkan!"

Pikirku, saat aku menginjak kelas 6 atau jadi senior di pengajian, aku harus bisa menjadi juara umum. Sekali seumur hidup juga tidak apa. Aku hanya mau merasakan sensasi dibanggakan semua orang.

Lalu, momen itu benar-benar terjadi. Bahkan sangat cepat. Yang tadinya kupikir hanya untuk senior saja, ternyata aku bisa mematahkannya. Aku menjadi juara umum dua kali. Di madrasah ibtidaiyyah dan di pengajian. Dua-duanya bukan saat menjadi senior. Keren bukan?!

Saat masih di sekolah tingkat dasar itu, aku masih kelas 3. Aku berhasil mengalahkan kakak kelasku yang cerdasnya juga tak bisa diremehkan. Aku bangga, apalagi saat itu Bapak berada sejajar dengan panggung. Maka kami saling tersenyum.

Tapi... Aku sedikit mengeluh kala itu. Ya, piala yang kutunggu dan kuidamkan sejak dulu, tak jua muncul. Aku hanya dihadiahi kotak kado yang lumayan besar dan sertifikat. Hanya itu saja.

Aku berusaha melupakan kejadian yang sedikit melukai perasaanku itu. Dan berharap jika nanti juara umum lagi, atau jadi juara umum di pengajian, aku bisa mendapat piala besar.

Beberapa tahun kemudian, aku si anak paling optimis itu kembali meraih hasil dari keyakinannya. Aku menjadi juara umum di pengajian, atau orang menyebutnya Milad atau Imtihanan.

Aku yang awalnya agak tegang karena tak kunjung dipanggil, langsung girang dan naik panggung. Huh... seperti yang pernah tuan Squidward bilang, "beginilah bau kemenangan itu." Rasanya indah.

Lalu hadiah pun aku terima. Sebuah kado besar yang isinya pasti lembaran kertas bekas yang di bawahnya sebuah Al-Quran (aku tahu karena Teh Fitri juga pernah jadi juara umum). Aku menunggu satu kejutan lagi, sebuah piala besar impianku.

Beberapa menit menunggu, ternyata aku disuruh turun. Tidak, tidak ada piala besar yang seharusnya jadi milikku. Aku sangat kecewa, di antara bahagia. Pikirku, bukti fisik aku pernah juara umum adalah dengan piala. Lagipula pialaku bisa bersanding dengan piala Teh Fitri juga. Kami bisa saling membanggakan kami berdua.

Patah hati, iya. Sangat patah hati. Dua kali juara umum tanpa piala. Nanti orang mau bilang apa? Masa juara umum tanpa piala.

Karena saat imtihan itu aku sudah memiliki masalah hidup rumit, maka pikiranku jadi ke mana-mana. Aku merasa yakin bahwa ini sudah disengaja dan direncana. Mereka semua terlalu membenciku atas kejadian yang bahkan aku tak tahu. "Ayolah... aku masih terlalu kecil untuk disalahkan. Kalian orang dewasa! Sedangkan aku masih kecil, tidak tahu apa-apaaa...!!"

Dua kejadian itu juga jadi alasan kenapa aku malas lagi mencari prestasi. Jika aku dicurangi karena bisa lancang melampaui kakak-kakakku, maka tak usah sekalian. Pikirku, seperti itu.

Maaf, aku tak punya lagi bukti juara umum itu. Sebab aku tak mengarsipkannya, aku memang agak tak peduli lagi. Kalau kau tak percaya, ya sudah tidak apa.

Aku hanya akan memperlihatkan beberapa prestasi yang juga tak kalah prestisius. Jadi juara favorit. Ya... bisa dikatakan setingkat lebih rendah dari juara umum.

Kalau aku menemukan piagam juara umum itu, akan ku bagikan di sini. Semoga saja tiba-tiba ketemu.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama