Aurora adalah Aku, dalam Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Aurora, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Youtube: Visinema

Lagi-lagi, visinema berhasil membuat film drama keluarga yang cukup membawa suasana. Memang tak ada dialog yang sehebat Euis pada abah di keluarga cemara (sampai airmata mengucur), tapi emosinya jauh lebih dalam. Emosi dalam makna yang sebenarnya. Emosi antara anak-anak yang terkekang oleh aturan ayah. Tak boleh menangis, kata ayah.

Dari sekian adegan nyesek dan sedikit bumbu ketegangan, ada satu karakter yang langsung membuat kalbu berbicara, "Itu saya!"

Aurora namanya, anak perempuan, anak tengah, anak sebelum si bungsu. Aku dan Aurora memang hanya cocok pada satu kriteria saja, tapi aku benar-benar menikmati tingkah Aurora di sana. Bagaimana ia bertingkah, dan bagaimana ia tidak peduli sama sekali.

Lebih dari itu, kami benar-benar cocok satu sama lain. Aku dan Aurora begitu identik dalam hal apapun. Entah mungkin karena Mbak Marcella terinspirasi dengan kisah hidupku, aku tidak tahu. Haha, maaf, bercanda.

Sejak kecil Aurora mencari perhatian keluarga, terutama ayahnya dengan prestasi. Entah nilai ujiannya yang bagus, atau kecepatan renangnya yang melebihi sang adik. Begitu pun aku, persis Aurora. Bedanya aku tidak bisa berenang. Jeniusku di atas rata-rata, waktu itu. 

Kalau kau pembaca setia blog sepi ini, aku mungkin tak perlu menjelaskan kelanjutannya. Tapi ya sudahlah, aku ingatkan lagi. Tak masalah.

Seberjuang apapun kami dalam hal mencari perhatian lewat prestasi, yang dipuji dan dikasihani tetaplah adik kami. Responku sama halnya Aurora, iri. Iri sekali. Ya... pikir saja, pujian yang seharusnya buat kami justru dicuri orang. Ujung-ujungnya kami harus mengalah. Anak bungsu sepertinya ditakdirkan jadi pusat dunia.

Kemudian, saat kami tumbuh dewasa kami melupakan segalanya. Tak peduli lagi prestasi-prestasi bullshit bersertifikat omong kosong. Kami keluar jalur, mencari ketenangan dengan hobi baru kami. Aurora yang awalnya suka berenang, jadi seorang seniman lukis dan apalah itu aku tidak tahu. Sedang aku, dari terus mengejar juara satu di kelas beralih jadi anak warnet yang hobi bikin blog-blog sampah.

Aurora, meski penyendiri, dia masih bisa memperjuangkan jalan hidupnya dengan usaha sendiri. Tanpa ada yang membantu, tanpa ada yang mau membantu. Benar-benar menangis sendirian jika gagal.

Ya, respon orang tentang hobi baru kita pun sama, seperti tak dipentingkan bahkan mengarah disepelekan.

Capek? Jelas capek. Maka dari itu, diam itu hal paling indah daripada terus mencari perhatian tanpa digubris sekalipun.

Aurora dan aku bagaikan orang hidup yang dikira sudah mati. Sekedar lewat pun tak pernah ada yang peduli, apalagi berpendapat. Hanya menyimak keakraban orang lain, dengan ribuan iri hati yang terpendam lama. Sungguh, sakit rasanya mati suri terlalu lama.

Musik juga sering jadi pelampiasan bersenggama dengan sepi. Musik jadi portal menuju dunia kedua, yang tentunya lebih menyenangkan. Dunia yang seluruhnya tertuju padaku dan Aurora.

Aurora hanyalah gambaran saja. Bahkan menurutku sakitnya tak begitu adil digambarkan. Kurang menyesakkan, tapi cukup membuatku dan mungkin orang lain yang memiliki cerita sama di luar sana, terwakilkan.

Terima kasih Aurora, sukses dengan kuliahmu di luar negeri sana. Jangan menangis karena kesendirianmu lagi.


Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

2 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Aurora memang karakter nya keren ya, nggak menclamencle kayak Awan, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awan itu hobinya cari jatidiri, mau mencoba keluar tapi selalu dimanjakan berlebihan.

      Hapus
Lebih baru Lebih lama