Berandai-andai Saja


Aku hanya berandai saja. Tentang masa lalu, jika depresi tak pernah bertemu. Tentang masa lalu, jika tak pernah bertemu aib terbesarku.

Andai saja dulu aku tak "gatal", aku mungkin tak susah-susah mencoba menahannya. Tidak malah jadi kecanduan hingga tergila-gila. Jadinya ya seperti ini, pelupa.

Andai saja dulu, selepas lulus madradah Ibtidaiyyah, aku langsung masuk Tsanawiyyah dekat rumah. Bukan sok-sokan masuk pesantren, eh taunya gak betah. Jadinya ya seperti ini, trauma banyak yang menghina.

Andai saja dulu, tokoh ulama itu tak pernah datang ke kehiduidupanku. Aku yakin hidupku akan jauh lebih maju, tak pernah mikir, "dasar tukang adu!" Jadinya ya seperti ini, masih ingat, hilang tak mau.

Andai saja dulu, segala rupa penyakit psikologi tak menjamuri otak. Aku yakin, seratus persen, aku bisa jadi penulis atau minimal blogger hebat nan berotak. Bisa menginspirasi orang-orang, bisa santai tanpa mikir sampai retak.

Padahal aku selalu berusaha menjadi yang paling depan melangkah. Tapi semua gangguan di atas mengganggunya. Aku, yang terlalu terlena dengan sepi dan hina, selalu stak lurus tanpa naik selangkah. Bahkan disusul sampai surga.

Hari ini aku masih banyak mikir. Tak bisa fokus.

Aku berusaha mengatur, mendaftar, hingga mengurut semua masalah hidup. Mana yang perlu dulu diselesaikan, mana yang lain kali saja. Tapi...
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama