Mungkin, aku pantasnya diam saja.

Sekali waktu aku sering kali mau mencoba ikut-ikutan bicara. Bercampur baur aktif berdiskusi, di komunitas maya maupun bukan. Berusaha keluar dari zona introver, usaha sok asyik.

Tapi usaha itu sepertinya belum cocok jadi kualifikasi orang-orang. Bisa jadi garing, tidak begitu penting, atau, "apaan sih? Sok asik." Pada akhirnya, penyelesaian gila itu datang lagi. Aku keluar grup. Merasa terbebani oleh usaha aktif sendiri. Benar kalau kamu berpikir begitu, aku memang salah.

Lantas kini aku benar-benar yakin bahwa aku memanglah belum pantas berkerumun dalam diskusi apapun, sebelum aku punya nama atau setidaknya dikenal dulu. Aku lebih baik menikmati obrolan bersama satu orang saja, tapi bisa paham satu sama lain, bisa benar-benar tahu arti mengobrol dengan orang yang belum dikenal sama sekali.

Hari ini aku berusaha berdamai dengan diriku sendiri. Tentang, "jangan pernah terlalu peduli, sudah, diam saja. Bicaralah saat hanya ada yang mau bicara padamu." Begitu kira-kira dekret perdamaian yang  ku buat.

Kalau ada yang lagi-lagi menganggapku tidak bisa ngomong, aku tidak akan menggubrisnya, toh usahaku saja tidak diingatnya.

Terakhir, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Terima kasih pernah berada dalam sejarah hidupku. Hanya segelintir mungkin yang paham dengan tulisan ini. Dan hanya sedikit pula yang mau susah payah membaca ini. Tapi, sedikit itulah yang ku butuhkan hari ini. Buat apa banyak-banyak, tapi... Begitulah.

Hail, introvert! Bye.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama