Pustaka Baca Lingkar Pelangi, Nasibmu Kini

Rumah baca

Kira-kira, pada Oktober 2017, seorang teman perempuan tetiba menghubungiku. Membicarakan soal mimpinya membangun sebuah rumah baca mini di kampung kami. Kalimat-kalimat yang ditulisnya begitu menggebu, bukti bahwa ia serius dengan impian itu. Kami berdua lalu berencana bertemu.

Kemudian aku sadar, mengurus rumah baca hanya berdua saja akan pasti kewalahan. Terlebih lagi status kami adalah mahasiswa yang sedang sibuk-sibuknya. Ditambah lagi kami berbeda jenis kelamin, akan ada kemungkinan ocehan tetangga nakal.

Aku menawarinya seorang anggota baru, ia salah satu bagian dari keluargaku. Seorang remaja kelas dua belas yang otaknya masih segar dengan ide-ide. Dua anggota lagi kemudian menyusul, mereka lebih muda lagi. Dua-duanya perempuan yang cukup memiliki tekad besar saat kami mengajak mereka.

3 Oktober 2017, kami berkumpul di rumah teman masa kecilku itu. Berembuk terkait apapun yang perlu dibutuhkan. Mulai dari nama, buku-buku, tempat, kegiatan, hingga kepengurusan. Pada saat itulah kemudian peresmian didapatkan. Rumah Baca Lingkar Pelangi, begitu sebutannya.

Selepas itu, beberapa di antara kami langsung bergerak. Meminta izin kepada seluruh pengurus kampung. Tentu saja semua setuju, tanpa ada peringatan apapun. Bahkan salah satu di antaranya berinisiatif memberi buku-buku layak baca. Syukurlah, semua lancar.

Aku yang bertugas sebagai sekretaris juga gencar bergerak di bidang media daring. Membangun sosial media resmi, mencari bantuan kepada komunitas sadar literasi, hingga langsung melobi perpusnas. Alhamdu lillaah usahaku tidak sia-sia. Pihak komunitas maupun perpusnas dengan senang hati memberi kami bantuan. Meski hanya satu kali, tapi itu sudah sangat mencukupi.

Hari pertama pembukaan rumah baca, anak-anak berbondong-bondong mengelilingi buku. Ada yang tertarik dengan komik, cerita bergambar, bahkan buku soal alam semesta. Mereka sangat antusias. Imbasnya, kami para anggota terharu melihatnya. Hari pertama yang tak bisa dilupa.

Singkatnya selama satu tahun, Rumah Baca Lingkar Pelangi sukses memberi wahana bermain baru setiap minggu. Setiap minggunya kami bergantian mengajar. Kadang 2 orang, 3, hingga hanya seorang. Kami tidak pernah lelah, sebab anak-anak selalu antusias mengikuti kegiatan. Saking antusiasnya, mereka menginginkan jadwal tambahan, Jumat siang. Karena itu keinginan anak-anak, mau bagaimana lagi?

Menjelang 2 tahunan, satu persatu masalah muncul. Ketua kami, yang masih kelas dua belas itu sudah lulus. Tanpa ada penjelasan dan perpisahan, ia keluar tanpa kabar. Salah satu dari dua perempuan itu juga mulai terlihat tak betah dan jarang datang.

Tersisa, yang cukup konsisten hanya kami bertiga saja. Kewalahan, capek hati dan pikiran. Padahal energi anak-anak masih seperti dulu. Tidak ada beda. Terpaksa kami bertiga membagi tugas secara gerilya. Otak berputar tanpa istirahat.

Puncaknya, setelah 1 tahun setengah kami mengabdi pada kampung sendiri, kami menyerah. Banyak faktor, bukan hanya sebatas capek saja.

Dari teman perempuan saya yang tiba-tiba saja jatuh cinta kemudian menikah lalu meninggalkan rumah baca, satu lagi perempuan juga sudah sangat tidak betah, aku yang tersisa juga tak bisa sendiri bekerja. Semuanya sudah sibuk dengan jalan masing-masing.

Rumah Baca Lingkar Pelangi kini hanya tumpukan buku yang tak lagi terjamah anak-anak. Beberapa kunikmati sendiri saat pagi, beberapa lagi sudah tak ada yang peduli. Sedih rasanya melihat rak buku yang sudah melapuk. Rak yang susah payah dibuat bapak terbaik sedunia kebanggaanku, sekarang hanya sebatas hunian baru tikus rumah.

Rumah Baca Lingkar Pelangi memang sudah sulit dibangun lagi. Namun entah bagaimana, mimpi temanku itu kini berbalik jadi mimpiku. Ingin rasanya suatu saat nanti bertemu jodoh sehati. Maksudku, ia juga mau memiliki rumah baca buat anak-anak. Kamu, yang kebetulan adalah jodohku, yang kebetulan juga membaca ini, semoga saja nanti bisa membangun rumah literasi bersama. Dan, nama rumah bacanya tetap Rumah Baca Lingkar Pelangi.

Hari ini, kalau Pustaka Baca Lingkar Pelangi masih hidup, maka 3 tahun lah sudah berdiri. Para pegiat dan pendekar pelangi, terima kasih telah memberi pelangi yang indah selama satu setengah tahun itu. Sampai jumpa di lingkar pelangi yang lebih indah.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama