Teh Apit: Kisah-kisah Sebelum Ia Pergi

Wanita ini, baru kukenal dan kuingat dengan baik, saat aku sudah masuk sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyyah di kampung. Yang kuingat, aku mengenalnya saat kami sering bermain motor-motoran di sofa lusuh dan bolong-bolong. Sampai kayu di dalamnya jelas terlihat.

Secara tidak sadar, ia memang sudah ditakdirkan sebagai malaikat penjagaku sejak kecil. Membantu apapun kesulitan yang kuhadapi. Memberikan apresiasi jika aku mendapat prestasi. Ia juga alasan mengapa aku masih suka bersaing dengan teman sekelasku.

Ia adalah wanita paling kucintai setelah Mak. Ia adalah sosok penjaga tangguh setelah bapak. Dan ia adalah satu-satunya orang yang mengerti benar tentang keadaan depresi dan traumaku. Setidaknya sampai saat ini.

Saat kami masih kanak-kanak, kami memang sering bermain berdua. Aku sebagai tukang ojek, sedangkan teh Apit sebagai pemilik rumah mewah. Rumah itu digambarkan dengan sangat indah melalui kreatifitasnya. Ia membuat sebuah ruang tamu, lengkap dengan kursi, meja, lemari baju, dan lainnya, dengan menggunakan kertas. Dilengkapi juga penghuni cantik dari mainan BP-BPan (mainan Barbie dari kertas bergambar yang kemudian digunting) kesukaannnya.

Aku tidak malu jadi tukang ojek, atau bermain dengan seorang anak perempuan. Sebab, ya dia kakak perempuanku. Dia juga penghilang sepiku kala waktu itu aku belum ingat dunia luar.

Teh Apit jugalah yang mengajariku untuk bisa sedikit membantu beban bapak dan Mak, sejak kecil. Ia menyuruhku untuk ikut menjajakan dagangan warung. Sebuah pengalaman yang mungkin jarang anak lain lakukan.

Untuk sedikit mengatasi rasa malu, teh Apit sedikit mengalah padaku. Teh Apit akan menjual makanan yang terlihat murahan dan kurang laku, sedangkan aku menjual makanan yang orang pasti tertarik. Aku menjual kripik rasa original dan pedas, sedangkan teh Apit menjual snack harga 100 rupiahan dan permen dalam toples.

Hasilnya, jelas aku sering kali laris manis sampai habis. Bahkan jualanku hampir diburu setengahnya oleh teman-teman satu kelasku saja. Mereka suka dengan kripik resep Mak. Selain murah, rasanya juga enak. Aku sering mengambilnya satu, hehe.

Dari hasil jualanku itu aku sering mendapat upah 1000-500 rupiah, tergantung berapa bungkus kripik yang laku. Upah itu kadang kutabung, kadang kubelikan bakso. Ya, waktu itu bakso hanya 500 rupiah, komplet. Tidak, upah itu tidak kecil. Karena buatku waktu itu, uang tidak lagi terlalu berharga. Lebih berharga melihat Mak tersenyum dan bisa masak makanan buat keluarganya.

Kembali lagi ke teh Apit.

Aku biasanya kurang tahu seberapa laris jualannya. Aku jarang bertanya, aku memang sedikit fokus dengan jualanku saja.

Selepas ia lulus kelas enam MI, kami akhirnya jarang sekali bermain. Terlebih lagi adik keduanya juga sudah mulai tumbuh. Berarti ia harus juga membagi bangga dan kasih sayangnya. Aku cukup paham, dan ia memang sangat adil membaginya. Kalau ada yang lebih butuh didukung, pasti ia berada di sisinya.

Perintahnya adalah kewajiban buatku.

Kalimat ini sangat cocok jadi bukti betapa dekatnya aku dengan teh Apit ini. Karena memang apapun yang teh Apit suruh, selalu akan kuusahakan dan pada akhirnya jadi kebiasaan.

Ia pernah menyuruhku untuk selalu membiasakan memakai celana panjang. Aku lupa alasan jelasnya, tapi yang kuingat adalah supaya aku bisa menjaga aurat dan terhindar dari hawa dingin. Ya, mungkin itu alasannya, aku benar-benar lupa.

Tanpa melawan, aku melaksanakan perintahnya. Memakai celana panjang, bahkan hingga seragam sekolahku diubah jadi panjang juga. Mungkin aku malah jadi pelopor celana panjang di sekolah, entahlah, sudah terlalu lama untuk diingat.

Suruhannya itu akhirnya benar-benar jadi kebiasaan sampai saat ini. Aku tidak berani lagi memakai celana pendek ke mana pun. Bahkan waktu SMA, aku selalu memakai celana abu atau training saat berolahraga. Meski kadang guruku mencekalnya, tapi aku lebih menuruti titah tetehku. Bisa terhitung berapa kali aku memakai celana olahraga pendek, itupun terpaksa karena syarat ujian. Selain itu, tidak pernah ada lagi.

Teh Apit juga pernah menyuruhku untuk ikut pramuka. Katanya buat menambah pengalaman dan tantangan. Dan ya, aku mengikuti keinginannya. Aku mengikuti setiap kegiatan pramuka, dari siaga sampai bantara. Meskipun aku sempat istirahat selama dua tahun saat di SMA. Aku ikut pramuka lagi saat kelas dua belas, atas suruhan guru MTS ku dan untuk menghormati kakak perempuanku yang saat itu telah tega pergi.

Sebenarny masih banyak perintahnya yang akhirnya jadi kebiasaan buatku hingga saat ini. Seperti jangan nonton televisi terlalu dekat, jangan banyak bergadang, jangan céplak saat makan, dan sebagainya. Tapi untuk kisah celana panjang itu, seperti ada hal spesial yang entah apa.

Sodara kembar tidak identik.

Aku dan teh Apit juga hampir selalu ditakdirkan punya kehidupan yang mirip-mirip. Dari segi apapun, terkhusus soal prestasi.

Aku dan teh Apit memang ditakdirkan lebih moncreng otaknya dari sodara kami yang lain. Kami sering mendapatkan peringkat yang selalu tinggi. Mulai dari di sekolah formal sampai non formal.

Saat di sekolah dasar, kami selalu rangking satu terus. Selalu mendapat perhatian guru terus. Bahkan kami sama-sama pernah jadi juara umum. Bedanya, teh Apit pernah satu kali gagal mendapat juara 1.

Ia pernah kalah satu peringkat oleh pesaing dekatnya, yang juga sahabat karibnya. Teh Apit, aku menyaksikannya, menangis dan seperti meminta maaf pada bapak. Ia merasa telah mengecewakan bapak, padahal ia hanya kalah satu kali saja. Karena setelah itu, ia mendapat juara umum di saat kelas enam.

Kami juga sama-sama pernah juara umum di pengajian. Bahkan karena teh Apit lah aku termotivasi untuk bisa memegang piala besar mirip dengannya. Meskipun, kau sudah tahu, aku tidak pernah sama sekali merasakannya. Aku hanya diberi kado besar tanpa piala saat juara umum itu.

Kami juga sama-sama suka menulis. Bahkan, setelah Om Andrea Hirata, teh Apit lah yang jadi alasan kenapa sampai saat ini aku masih mau berambisi jadi penulis buku.

Aku pernah membaca beberapa karya yang ia tulis dalam buku. Semuanya bagus-bagus, khususnya sebuah cerpen yang menceritakan tentang seorang kakak yang membenci adiknya. Aku lupa di mana aku menyimpan cerita itu, tapi memang benar-benar membuatku menangis saat membacanya.

Saking mau miripnya, aku juga hampir jadi seorang santri seperti dirinya. Nahas, semua gagal karena aku tidak sebegitu kuat menahan hawa pesntren seperti dia. Malah, adikku yang melanjutkannya, dan ia betah.

Malaikat pelindung dan penegur, dan pemberi semangat sejati.

Kami memang tidak sempurna sebagai adik kakak. Kami sering juga beradu mulut, bersitegang, dan tidak mau bicara satu sama lain. Tapi itu bisa sangat cepat sembuh dengan sendirinya. Lagipula kami lebih sering menyayangi.

Teh Apit tak segan-segan membantuku jika aku sedang dalam kesusahan. Mengerjakan PR, belajar mengaji, dan lain-lain. Ia sangat-sangat perhatian pada adiknya ini.

Bahkan saking perhatiannya, ia pernah menggendongku saat kakiku tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Ia mengangkatku yang mungkin saja sangat berat untuknya. Ia menggendongku sampai rumah.

Salah satu kejadian lucu tapi mengharukan adalah ketika bajuku dimasuki tawon saat tidur. Sialnya aku langsung menepuknya dan tentu saja aku tersengat. Dengan panik aku menanggilnya, yang kebetulan sedang di rumah. Ia begitu cekatan, membuka kancing bajuku, melihat-lihat benjolan hasil sengatan itu, lalu melumurinya dengan pasta gigi dan garam. Kau tahu, ia malah tertawa-tawa saat sedang melumuriku. Seperti menertawakan kekonyolanku yang langsung saja menepuk hewan itu. Tapi aku juga ikut menertawakan diriku sendiri.

Bukan hanya soal melindungi, tapi ia juga sering menegurku kalau aku salah.

Misal ketika aku sedang mengaji dan ditanya guru ngajiku. Aku selalu saja diperhatikan oleh teh Apit dengan sangat seksama. Menyaksikan apakah adiknya yang ia banggakan itu bisa menjawab atau tidak. Jika bisa ia tak segan-segan memberi senyum terbaiknya. Jika sebaliknya, maka aku harus siap ditegur saat pulang mengaji. Bukan marah-marah, tapi menegur sekaligus memberi tahu jawaban apa yang tadi tidak bisa kujawab.

Saat aku sedang memiliki masalah, ia jugalah yang pertama kali tahu apa masalahku. Dari masalah besar hingga masalah kecil. Tanpa kuberi tahu pun ia bisa langsung tahu bahwa aku sedang punya masalah.

Contoh kecilnya saat aku kurang percaya diri jadi lelaki pujaan perempuan. Aku merasa bahwa aku terlalu culun dan kuper untuk diidamkan seseorang. Tapi, tanpa aku beri tahu masalahku ini, ia pernah tiba-tiba menyemangatiku. Bicara bahwa aku lelaki yang memiliki tampang lumayan untuk menggaet perempuan. Dengan candanya dia bicara, "asal sering mandi dan bergaya." Haha ia tahu aku kurang sering mandi dan kurang banyak gaya juga.

Ia juga pernah menaikkan rasa percaya diriku saat aku ditunjuk jadi salah satu peserta cerdas cermat. Saat itu tidak ada yang berhasil membujukku untuk bisa ikut lomba selain teh Apit dan uang sepuluh ribu pemberian kakak lelaki keduaku. Meski pada akhirnya aku hanya mampu membawa sekolah agamaku di peringkat kedua, tapi teh Apit akan selalu bangga dengan kerja kerasku.

Dan yang paling dan sangat kuingat adalah ketika aku merasa sendirian saat aku di MTS. Waktu itu, kami memang sudah jarang bersama sebab ia mondok di Al-Falah 2, Bandung.

Momen itu terjadi tatkala aku datang menghadiri perpisahan di MA tempat ia belajar. Aku tidak pernah sama sekali membicarakan betapa kesepiannya aku tanpa dia. Betapa terpuruknya aku ketika semua orang membenciku. Dalam hati, tanpa aku bicara langsung, aku ingin sekali dipeluk olehnya satu kali saja. Dan seolah ia memang takdir buat melindungiku, ia memelukku dari belakang. Lama... Sekali. Merangkul seorang adik yang mungkin sangat ia rindukan juga, menenangkan seorang adik yang mungkin ia tahu sangat menginginkan pelukannya itu. Selebihnya, ia juga mungkin sedang ingin memamerkan adiknya pada teman-temannya.

Ngomongin kerja keras, teh Apit juga sering mengapresiasiku saat aku mendapat juara. Teh Apit pernah mengajakku untuk foto berdua saat aku juara satu di kelasku lagi. Fotonya entah ada di mana. Sulit juga menemukannya karena sudah terlalu lama dan kameranya juga milik orang lain. Andai saja ada keajaiban, aku ingin menemukan momen langka itu.

Detik terakhir.

Sejak ia lulus dari pondoknya itu, ketika ia pulang, ia malah sering sakit-sakitan. Padahal aku benar-benar senang ia kembali lagi. Aku akan merasakan kasih sayang lagi dari dirinya. Mendapat pelukan hangatnya.

Kupikir sakitnya itu hanyalah sakit biasa. Tapi itu semua salah. Berpuluh-puluh kali ia bolak-balik ke rumah sakit. Berkali-kali ia mendatangi pondok pesantren yang biasa menyembuhkan penyakit. Saking sayangnya, bapak rela mempercayai dukun berkedok agama supaya anak perempuan satu-satunya bisa sembuh.

Teh Apit juga tidak pernah pasrah dengan keadaannya. Ia sering bersemangat, dan mencoba mengingat kemauannya untuk bisa kuliah di IAIC. Kadang kala, ia juga berusaha tetap menyayangiku dengan sekuat tenaganya.

Ia sering menanyaiku tentang bagaimana keadaanku di sekolah. Ia juga masih saja mengingat betapa aku menyukai karakter kartun bernama Naruto. Bahkan teh Apit pernah berjanji kalau ia punya uang nanti, ia akan membelikan selusin buku tulis bersampul Naruto dan komiknya juga.

Aku juga sesekali membantunya, meski kadang tak ikhlas. Ketika malam, saat semua orang sudah tidur, ia membangunkanku untuk sekedar menemaninya buang air ke luar rumah. Aku juga pernah membentaknya untuk tidak lagi menyusahkan bapak dan Mak. Iya, aku memang jahat pernah membentaknya. Tapi aku hanya capek melihat bapak dan Mak terus mencari uang untuk menyembuhkannya. Dan aku juga capek melihat dia terus tersiksa dengan penyakitnya. Aku membentaknya karena aku juga ingin melihat teh Apit sembuh, semangat mengejar semua keinginannya.

Di saat-saat terakhirnya, aku sempat menjenguknya ke rumah sakit sebelum ia dibawa ke rumah sakit lain. Untuk terakhir kalinya kami mengobrol di sana. Memang tidak lama, tapi itu sangat berkesan. Dan untuk terakhir kalinya ia memberi senyuman terbaiknya untukku sebagai salam perpisahan buatku.

Selepas itu, saat aku ikut membawanya ke rumah sakit lain, ia kulihat hanya tersujud tidak mau melihat siapapun selain bapak dan Mak. Seolah ia tidak mau memberi kesedihan pada siapapun. Malam itu aku tidak menemani saat terakhirnya. Aku memutuskan pulang karena aku terlalu tidak mau melihatnya pergi. Benar-benar tidak pernah ikhlas. Aku lebih baik menonton TV dan tertidur pulas.

Esok paginya aku dibangunkan bibiku. Pada awalnya ia bilang bahwa ia mau beres-beres rumah saja, tapi ia sudah tidak tahan mengeluarkan airmata. Ia akhirnya bicara padaku bahwa malaikat penjagaku itu tega sekali meninggalkanku. Bukan setahun dua tahun, tapi selamanya.

Aku benar-benar terpukul pada hari itu. Seperti tidak tahu lagi apa yang akan kulakukan. Untuk marahpun ia sudah tiada, kasihan juga. Setelah kedatangannya, dalam keadaan tak bernyawa, aku benar-benar tak berani menatap wajah yang sudah kuyakin sedang tersenyum itu. Aku hanya masuk kamar, menghampiri adikku, dan mencoba menenangkannya.

Kehilangan teh Apit seperti aku kehilangan segalanya. Tidak ada lagi orang yang percaya bahwa aku sedang depresi berat. Tidak ada lagi yang tahu kesedihanku, bahkan ketika aku tidak pernah membicarakannya. Tidak ada lagi yang bisa memelukku dan menenangkan pikir dan batinku.

Semangatku untuk kembali berprestasi juga semakin turun. Aku tidak peduli lagi prestasi, karena toh tak ada lagi pujian setelah itu. Aku bahkan jadi malas belajar dan membiarkan diriku bodoh sendiri.

Gilanya, aku sering kali membentak Tuhan. Pada saat itu aku yakin hanya Tuhanlah yang patut disalahkan. Saat itu aku tidak pernah peduli lagi padanya, tidak lagi mau menyembahnya. Saat itu aku masih percaya Tuhan, tapi aku sering mengolok-oloknya.

Kehilangan teh Apit juga berarti membuat depresiku menjadi-jadi. Seperti yang kamu tahu, aku juga sempat berkali-kali berniat bunuh diri. Salah satu alasan besarnya aku ingin menyusulnya meski berbeda tempat.

Sebagai persembahan terakhir buatnya, dengan tegar, aku mencoba menghubungi sahabat di pondoknya melalui Facebook. Untung aku tahu nama-nama mereka dari kartu nama yang ada di dompet teh Apit. Untung juga pada saat itu, salah satu dari mereka membaca pesanku. Sehingga tidak lama, kalau tidak salah tiga harian kemudian, mereka datang ke rumah. Bukan hanya sekedar ke rumah mereka juga repot-repot mendatangi makam teh Apit. Padahal saat itu hujan cukup deras, dan medan menuju pemakaman begitu sulit. Jalan perkampungan. Terima kasih buat sahabat-sahabat teh Apit, aku sangat bahagia melihat perjuangan kalian.

Bapak juga begitu kaget ketika mereka tiba-tiba datang. Sebab aku memang tidak pernah memberi tahunya soal kenapa mereka bisa datang. Hingga bapak menganggap bahwa itu semua keajaiban Tuhan. Aku hanya diam saja, aku tidak mau membuat kepercayaannya jadi turun. 

Sampai saat ini, hingga tulisan ini ada, bapak tidak pernah tahu bagaimana bisa mereka datang ke rumahnya. Mungkin beliau akan tahu jika dia tahu internet. Atau jika kamu yang mengenalnya, memberi tahunya. Silakan saja, aku tidak akan marah.

Janji-janji kami berdua.

Teh Apit pernah berjanji akan membelikan selusin buku dan komik Naruto. Tapi, sampai saat ini ia tidak pernah membelikanku buku itu. Ya sudahlah, kuanggap utangnya lunas. Aku takut ia ditanyai janji itu di sana.

Teh Apit juga sempat memintaku untuk membuatkan akun Facebook yang memang tidak pernah ia punya. Saat itu aku janji mau membuatkannya. Tapi setelah tahu sakitnya makin parah, aku jadi tidak berani membuatkan akun Fcebook untuknya. Aku tahu, teh Apit juga suka sekali selfie, dan aku tidak mau ia mengunggahnya ke sosial media. Serasa tidak ikhlas saja. Lagipula pasti bakal banyak orang yang akan membuat status bela sungkawa yang pasti membuatku tambah sedih dibuatnya. Jadi aku tidak menepati janjiku. Biarlah ia tenang bersama senyumnya di surga. Aku yakin ia masuk surga. "Jangan kau sakiti dia, Tuhan!"

Kami dan saudara-saudara kami yang lain juga pernah berjanji akan memberi bapak dan Mak tiket naik haji. Tapi setelah ia pergi, sepertinya hanya aku yang mengingat janji itu. Maka, "teh, aku akan berusaha sebisaku untuk mewujudkan semua itu. Kalau tidak berhasil hingga salah satu dari kami meninggal, semoga jadi amal ibadah saja."

Terima kasih.

Teh Apit, terima kasih sudah pernah dan masih menjadi pelindungku. Aku sangat yakin kau masih melindungiku meski dari jauh. Kalaupun tidak, teteh jangan khawatir, karena saat ini aku baik-baik saja. Aku sudah dewasa dan bisa melindungi diriku sendiri. Meski kadang kala depresiku datang kembali. Tapi setidaknya kau tidak perlu khawatirkanku lagi.

Teh Apit, maaf juga aku jarang sekali menyebutmu dengan sebutan almarhumah di depan namamu. Entah itu salah atau tidak, tapi berasa masih berat mengucapkannya. Kalau kamu (pembaca) bilang ini kesalahan, tegurlah aku.

Teh Apit, terima kasih sudah menjadi alasan aku masih mau hidup di dunia ini. Terima kasih juga telah memberiku banyak sekali impian. Dan maaf, aku tidak mau menemanimu sampai akhir hayatmu. Semoga dan selalu kuyakini, sekarang teh Apit sudah dalam nikmatnya surga Allooh.

Aku menyayangimu seperti kau menyayangiku sewaktu kecil.

I Love You, Teh.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama