Trauma. Pernah Benci Tuhan, Pernah Mencoba Bunuh Diri

Anxiety


Untuk kamu yang tidak tertarik dengan masalah remeh-temeh, sebaiknya jangan lanjutkan membaca ini. Karena trauma masa kecilku ini, bisa jadi cuma sekedar "baperan" saja. Tapi, jika kamu tertarik untuk mencoba memahami, silakan lanjutkan. Kalau tidak keberatan, aku juga butuh masukan, butuh teman dan perhatian.

Sejak kecil, sekitar 10 tahunan, aku mulai memiliki banyak masalah yang pada akhirnya berefek besar dan menimbulkan trauma. Sejak itu aku tidak tahu bagaimana dan apa yang harus kulakukan. Bahkan, diam pun masih tetap jadi masalah.

Beberapa trauma ini kuputuskan untuk ditulis saja di sini. Terlalu berat rasanya memendam sendiri. Siapa tahu, di antara kalian yang kebetulan suka kepoin blog ini atau memang sudah mengklik tombol "ikuti" bisa membantuku bagaimana caranya keluar dari trauma. Jujur saja sampai saat ini aku masih terus kepikiran hingga kadang depresi muncul lagi.

Oh iya, aku juga memutuskan untuk membagi tulisan ini karena tadi malam sempat juga curhat dengan si gadis biru. Jadi, supaya gadis biru tak kuanggap terlalu spesial (meski sebetulnya spesial), aku juga mau berbagi di sini.

Oke intronya kepanjangan. Kumulai saja. Tarik napas...


Serangan Ulama Peramal

Baiklah, kumulai saja dari sebuah trauma kedua dalam hidupku, saat itu aku masih berusia kira-kira 10 tahun. Usia yang masih belum cukup untuk menghadapi masalah sebesar itu. Setidaknya menurutku.

Kejadian itu bermula dari kespontananku berceramah kepada salah seorang teman, yang pada dasarnya adalah kakak kelasku. Waktu itu aku bicara padanya bahwa: jika dia meninggalkan salat, maka dia akan masuk neraka.

Kurasa perkataan itu sederhana. Perkataan yang setiap mengaji hampir selalu kudengar.

Lalu tiba-tiba beberapa hari kemudian, aku mendengar bahwa temanku itu kejiwaannya terganggu. Maka, aku sambangilah dia atas nama kepedulian. Pada saat itu aku benar-benar tidak tahu menahu apa penyebab dia jadi begitu.

Sampai suatu ketika sepupu temanku itu menghampiriku dan memberi tahu dengan nada membentak. Dia bilang penyebab kejiwaan temanku terganggu karena ada beberapa anak yang sering jahil terhadapnya. Salah satunya dia menyebutku. Dia juga menjelaskan bahwa semua itu ia ketahui dari seorang ahli agama yang memang dikenal jago meramal.

Untuk kedua kalinya batinku terganggu pada saat itu. Merasa bersalah, dan selalu berpikir "kok jadi begini? Niatku kan baik, bahkan aku tidak terlalu sering main dengan dia. Ngobrol cuma pas ngaji saja."

Lantas, apakah karena aku mengingatkan tapi dengan cara sedikit menakuti, itu merupakan kesalahan? Kalau begitu kenapa si ahli itu tidak menyalahkan ahli yang lain? Mereka juga sering memberi sisipan menakut-nakuti, bahkan kadang lebih menyeramkan. Kenapa harus aku? Kenapa harus seorang remaja tanggung, yang belum siap disalahkan seberat itu, yang jadi korban?


Tak Betah Dipesantren jadi Bahan Cengan

Inilah kejadian pertama yang membuat masa remajaku jadi trauma. Kejadian yang bisa jadi cikal bakal masalah lain, termasuk cerita di atas tadi. Dari sinilah aku lambat laun lahir menjadi seorang pendiam, pemurung dan memiliki kecemasan tingkat tinggi.

Setelah lulus dari kelas 6 madrasah ibtidaiyyah, aku sempat bicara kepada bapak bahwa aku mau masuk pesantren saja. Entah alasannya kenapa, aku lupa. Yang jelas tentu saja bapak senang dan masuklah saya ke salah satu pesantren.

Namun apa mau dikata, aku tidak betah. Kutelepon Mak, dan kami berdua menangis. Kubilang aku mau pulang, aku takut sendirian.
Kabar ini kemudian sampai pada bapak yang kebetulan sudah berangkat lagi mencari nafkah ke Bandung. (Cerita lengkapnya, bisa kamu cari di bagian cerita bersama bapak di blog ini juga. Kalau penasaran).

Singkat cerita pulanglah aku dengan senang dan lega hati. Pesantren memang kurang cocok bagiku. Sayangnya keputusan itu ternyata membuahkan hal yang jadi berkepanjangan. Aku kadang mendengar dari beberapa orang bahwa aku anak yang tidak tahu diuntung. Sudah dikasih biaya sekolah, malah dibuang sia-sia.

Hanya itu saja. Ya, hanya itu saja masalah di bagian ini. Tapi untukku yang waktu itu masih kecil, hal itu cukup menggangu perjalanan masa remajaku.

Keputusanku untuk memilih diam, malah semakin membuat masalah besar

Pasca dua kejadian yang mengagetkan itu akhirnya karakter yang dulu begitu ceria dengan akal cerdasnya, berubah jadi pemurung dan tak punya banyak motivasi semangat. Anak yang biasanya sering mengeluarkan pendapat receh, berubah jadi pendiam tanpa peduli lagi dengan lingkungan. Sudah benar-benar tak punya lagi kehidupan.

Sayang sekali, diamnya yang dia rasa jauh lebih baik dan bisa diterima orang, justru malah menambah masalah. Masalah yang menambah beban pikiran. Aku benar-benar sudah jadi mainan orang dikala aku berani keluar rumah.
Misalnya saat aku bersekolah, beberapa kali ada saja orang iseng yang mengejekku.

Omongannya menyakitkan, aku dikata-katai sebagai orang yang tidak bisa ngomong. Hebatnya lagi, dia adalah salah satu tokoh terkemuka di kampungku. Dia beneran ngomong. Percayalah padaku. Aku benar-benar mendengarnya, ini bukan karangan. Tolong, percayalah.

Ejekan tidak bisa ngomong itu semakin dipersakit dengan beberapa julukan yang juga sempat aku dengar sendiri. Aku pernah dijuluki culun, pernah dibilang si Limbad, bahkan saat sedang menghadiri undangan nikahan ada juga yang ngumpul-ngumpul mengejekku dan bilang "tuh, si bisu."

Sebegitu salahnya ya aku diam? Harus bagaimana lagi supaya aku bisa diberi kedamaian?

Entah kebetulan atau memang bagian dari kebencian

Dari kejadian-kejadian itu, ada beberapa kebetulan yang mungkin adalah bagian dari kebencian itu sendiri.

Misalnya pada saat aku dinobatkan menjadi seorang juara umum di milad pengajian. Biasanya, orang yang mendapat juara umum, berhak mendapat kado dan piala besar. Namun, khusus untukku, piala besar yang kuimpikan itu tidak pernah kugenggam. Hanya kado saja. Dan kau tahu, saat namaku disebut sebagai juara umum, nada pembaca juaranya seolah tak menerima. Lesu, tak bersemangat sama sekali.
Aku sering berpikiran positif. Mungkin itu hanya kebetulan. Tapi entahlah, kebetulan itu terlalu kebetulan dan rasanya sakit. Sakit hati.

Orang yang peduli padaku, justru meninggalkanku

Saat aku masih MI, orang yang selalu mendukungku sepenuh hati adalah kakak perempuanku. Teh Apit namanya. Dia semacam malaikat yang memang kubutuhkan. Sayang sekali, setiap aku memiliki masalah, ia secara kebetulan selalu meninggalkanku sendiri.

Misalnya saat pertama kali aku mendapat ejekan tak betah di pesantren. Ia kebetulan tidak ada di kampung, ia memang sudah mondok di Bandung.

Lebih parahnya lagi saat aku sedang dalam masa depresi tertinggi, saat di SMA. Apa yang ia lakukan? Ia malah menyerah dengan penyakit yang dideritanya, dan ya, kau pasti paham apa yang terjadi selanjutnya.

Tega sekali. Ia bahkan belum melaksanakan janjinya padaku. Janji akan memberi selusin buku bergambar Naruto. Karakter yang memang ia tahu itu adalah kesukaanku. Karakter yang bisa menggambarkan diriku, dibenci orang.
Huhh... Aku masih bisa tahan. Aku mau melanjutkannya.

Benci Tuhan

Puncak dari masalah adalah membenci Tuhan. Pikirku saat itu, yang mengatur semua ini jelaslah Tuhanku (aku muslim). Dia yang menyebabkan semua ini menimpaku. Ejekan, mengambil seseorang yang kubutuhkan, mengambil segalanya.

Pada akhirnya aku malas berbicara padanya. Aku sudah tidak percaya pada semua orang, termasuk Tuhanku sendiri. Ya, aku mengerti itu kesalahan. Dan kau juga mungkin mengernyitkan dahi. Heran dengan apa yang kulakukan waktu itu.

Beberapa kali maunya mengakhiri hidup

Setiap orang yang memiliki depresi berat, pasti pernah mau melakukan ini. Bahkan ada yang sudah sampai melakukannya. Aku juga sempat mau melakukan itu beberapa kali.

Setiap aku melihat benda tajam, ingin rasanya menggores nadiku. Setiap melihat jurang, ingin rasanya terjun bebas. Setiap melihat jalan raya penuh dengan mobil yang melaju kencang, ingin rasanya menabrakan diri.

Tapi Tuhan selalu saja ikut campur. Bisikan sok-sok mengingatkan, soal keimanan, selalu mengganggu niatku. Pada akhirnya aku hanya bisa menggebuk dan menampar wajahku, kadang kala menendang tembok atau sesuatu di dekatku. Kadang kala aku berteriak sambil menangis dalam bekapan bantal. Kadang kala aku selalu menutup wajahku dengan bantal, sepadat mungkin, supaya aku tak lagi bernapas.

Kesepian, kadang berujung sakit-sakitan

Karena tak banyak yang mau menerima seorang cupu macamku dengan sangat senang hati, maka aku jadi salah satu orang dengan kesepian. Tidak ada orang yang bisa kuajak bicara dan memahamiku sepenuhnya.

Mendengarkan segala keluhanku seluruhnya. Gadis biru, ia juga masih sering sibuk dengan dirinya sendiri. Kasihan jika ia terus mengurus masa laluku. Lebih baik aku mengurus diriku sendiri, meski kadang selalu berakhir depresi.
Dari depresi itu, kadang aku juga sering lupa makan yang akhirnya kembali sakit tifus. Malah pernah dirawat sampai seminggu.

Sampai saat ini, stigma orang terhadapku selalu saja aku orang pendiam yang tidak bisa apa-apa. Setiap kemahiranku tampil, selalu saja diapresiasi dengan sinis dan ketidakmungkinan. "Mana mungkin kamu bisa. Kamukan pendiam, culun." Dan sejenisnya.

Aku tahu, sebagai lelaki aku wajib kuat. Tidak boleh ada aksi cengeng. Aku juga sadar, akan ada banyak yang menganggap semua masalahku hanyalah remeh-temeh yang biasa saja. Tapi... Ya sudahlah. Memang begitu mungkin hidupku, baperan.

Tapi serius, aku ingin sekali lupa dengan segalanya. Kalau bisa hilang oleh hipnoterapi, hipnoterapi sekalian.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama