3 Brothers: Momen yang terlalu sedikit.

Aku tidak tahu bagaimana cara memulai kisah-kisah bersama mereka. Sebab aku dan mereka adalah lelaki, sedangkan gengsi dan rasa wibawa senantiasa menjadi-jadi. Ikatan antara sesama saudara berjenis kelamin lelaki tidak pernah seintim bersama teh Apit.

Momen-momen bersama mereka ini, akan jauh lebih singkat daripada bersama kedua orang tuaku, terutama teh Apit. Semuanya hanya sebatas apa yang kuingat saja.


1. A Jejen

Keras, pemarah, tegas, mungkin jadi gambaran awal dari kakak tertuaku ini. Dari keempat saudaraku, hanya dia yang belum bisa kupahami jauh lebih dalam. Kadang sangat begitu akrab, kadang takut, kadang pula benci. Ia sosok kakak yang memang keras wataknya.

Namun aku juga tak pernah memendam hal-hal buruk dari dirinya. Di balik itu semua, terdapat banyak kelebihan yang membuatku ingin seperti dirinya. Semisal jiwa kreatifitasnya. Aku selalu mengagumi apa yang telah ia ciptakan. Sekecil bunga dari sedotan, sampai seni memahami warna terbaik sebuah karya.

Aku juga sempat tahu tentang masa lalunya. Ia pernah mau melanjutkan sekolahnya ke SMA kalau tidak salah. Akan tetapi bapak tak mewujudkan mimpi itu. Bukan karena benci, tapi lebih pada segi ekonomi orang tua. Dari sanalah aku agaknya memahami mengapa ia jadi begini.

2. A Aleh

Dialah objek percontohan dari kedua orang tuaku ketika aku, adikku, dan kakak tertuaku melakukan kesalahan. Seperti makna di balik namanya, ia memang cukup soleh dalam bidang agama dan berbakti pada orang tua. Apapun yang ia lakukan, hampir selalu mendapat pujian bapak dan Mak.

Tentu, aku sangat kesal kalau sudah dibanding-bandingkan begitu. Rasa-rasanya aku dianggap tak punya jati diri da karakterku sendiri. Padahal aku adalah satu-satunya anak mereka yang bisa mengikuti jejak bapak. Sebagai juara tertinggi di sekolah. Layaknya sebiji emas yang dibuang ke tempat loakan.

Meski begitu, kadang A Aleh dan aku sering disama-samakan tetangga. Keramahan, sopan santun, dan sebagainya. Kadang aku bahagia, seringnya merasa tak berguna. Bagaimanapun diriku, sekecil apapun aku di mata orang, aku juga butuh jadi diriku sendiri.

Selepas kakak perempuanku meninggal, ia sempat tiba-tiba memberikan sebuah pesan yang jujur saja begitu kuimpikan dari keluargaku. Ia mengirim pesan "aa sayang Nday." Terlihat menjijikan buatmu kemungkinan, tapi kenyataannya aku sempat menangis karena tulisan itu. Aku sempat berpikir, mungkin ia berkata seperti itu karena ia membaca tulisan curhatku disecarik kertas. Tulisan tentang betapa sakitnya aku kehilangan teh Apit.

3. Mumu Muhaemin

Waktu kecil, ia sering mengikutiku dan selalu ingin diajak bermain. Sering kutolak, beberapa kali kuladeni. Masa kecil kami layaknya adik kakak biasa. Berantem, pukul-pukulan, kadang saling tendang. Dan ya, aku biasanya lebih menguasainya.

Kadang pula kami bisa saling menyayangi satu sama lain. Bapak sering membelikan kami baju yang modelnya hampir mirip. Cuma beda di warna saja. Aku tahu, bapak melakukannya demi kebaikan kami berdua.

Saat beranjak dewasa, semua keadaan jauh berubah. Aku kini lebih sering ingin mengikuti kegiatannya. Kami juga jarang sekali bertengakar atau saling merengutkan wajah. Kami sudah berdamai dengan kedewasaan, dan aku suka itu. Sudah akrab, selayaknya sahabat saja.

Ya, begitulah mereka. Aku tak begitu tahu bagaimana memulai cerita dari momen berharga saat bersama mereka. Maka kutulis secara umum saja. Meski begitu aku juga tetap menyayangi mereka. Bagaimanapun keadaannya.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama