Gila Lu, 2020!

Sejak akhir tahun 2019, aku sudah tahu 2020 akan sebelagu apa. Memamerkan penyakit menular ke seluruh dunia, sampai berujung pandemi. Songong memang. Akibat keriyaannya, 2020 berakibat buruk pada seluruh aspek. Mulai dari dunia pendidikan, ekonomi, sampai jiwa sosial orang lain. Sangat-sangat berpotensi dibenci.

Kau tahu nak? Dunia pendidikan di tahun itu sangat kacau. Guru-guru kebingungan cara mengajar, begitupun para peserta didiknya yang sama-sama bingung dan kurang bisa merespon ilmu yang diberikan. Alhasil, keduanya pernah saling cela-celaan di sosial media.

Bukan itu saja, mahasiswa juga terkena dampaknya, terlebih mahasiswa tingkat akhir. Nyari referensi susah, masuk kampus susah, cari dosen susah, nongkrong juga susah. Weslah, serba susah pokoknya.

Dalam dunia ekonomi, semua orang benar-benar berdampak, akibat tahun 2020. Kakak-kakakku terutama. Mereka harus kehilangan tempat dagangnya di alun-alun Bandung, walaupun ing sya Allooh hanya sementara. Lagi, kebanyakan perusahaan juga tak segan-segan memecat para karyawan. Bukannya tega, tapi masalahnya penghasilan mereka juga menurun. Bahkan banyak yang gulung tikar dan lebih mementingkan upah pekerja yang memang harus dibayar.

Yang paling penting, nak, 2020 sudah berhasil memecah banyak sekali orang untuk saling serang. Ada yang menganggap semua keangkuhan 2020 hanyalah konspirasi, ada yang bilang yang meninggal hanyalah kebohongan, ada yang bilang semua hanya akal-akalan pemerintah, bahkan ada yang bilang semua gara-gara tuan Cina. Semua saling menyalahkan, jarang sekali ada yang mau melerai. Lagian masuk akal juga kadang-kadang, semua argumennya.

Terus, apa bahagianya 2020?

Sebetulnya ada, tapi sedikit sekali. Beberapa di antaranya, aku bisa banyak merenung di rumah. Memikirkan apa yang harus dilakukan selepas lulus kuliah. Mencari cara biar uang bisa melimpah dan diberikan ke orang tua. Meski sayangnya, cari uang ternyata susah. Apalagi di masa pandemi ini. Susah payah.

Dah, gitu aja riviu 2020 nya. Males, gua.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama