Kebaikan Apa yang Seharusnya Kulakukan?

Hari ini aku sedikit kepikiran soal bagaimana cara menghargai diriku sendiri. Sepertinya aku mulai tahu, bahwa kebaikan bukan cara terbaik untuk bisa dipercaya orang. Bahkan aku rasa kebaikan yang benar-benar kulakukan ikhlas ini hanyalah sia-sia. Karena untuk mereka, lagi dan lagi, aku tetap dipandang tak berguna. Kalaupun berguna, aku hanya jadi perkakas yang esok juga ditutup lemari.

Kebaikan menjadi seorang teman, tetangga, bahkan keluarga, tetap saja ujungnya dilupa lalu berakhir menghina. Menghina kebiasaan hidupku yang jelas tak bisa kutinggalkan. Menjadi seorang pendiam kurang suka bergaul.

Apakah hidupku memang begini? Diperalat kalau ada mau mereka, kemudian dibiarkan kesepian kalau tak ada perlunya? Brengsek manusia. Bahkan kalau aku menceritakan seluruh kebaikanku untuk mereka, maka mereka pasti pura-pura lupa atau setidaknya seolah tak mendengarkan ucapanku.

Kalau masih begini, bagaimana bisa aku bertemu seseorang yang benar-benar menginginkanku? Bagaimana aku bisa digenggam oleh yang sungguh mencintai pribadiku? Kalau masih begini, susah aku percaya pada satupun manusia di bumi ini. Kecuali, kakak perempuanku. Tapi dia juga malah menyerah melindungi otak tak warasku. Malah menyuruhku untuk semakin tidak waras lagi.

Seharusnya bagaimana aku ini? Jadi baik selalu diperalat. Jadi orang tak waras, mereka makin beringas menindas. Apakah aku sudah tidak lagi memahami arti hidup yang sesungguhnya? Apakah aku harus benar-benar tidak lagi peduli? Sedangkan hatiku selalu saja membusung ingin peduli.

Rasa sedih dari banyak orang sudah benar-benar kuterima, kupahami dengan baik. Rasa sedih kakak perempuanku karena berusaha mempertahankan hubungannya bersama seorang lelaki brengsek itu, rasa sedih ibuku, rasa sedih atas diriku.

Kalian yang dekat denganku, sebetulnya aku mahir memaknai ekpresi kalian ketika mendekatiku. Rasa jijik itu, olok-olokan yang seolah adalah rasa peduli kalian, ketidakmauan dilihat orang lain ketika kalian dekat denganku, membenciku, aku tahu semua. Aku kadang kesal dengan itu, tapi sekejap lupa dan memaafkan. Aku membenci diriku sendiri, ketika aku harus melihat ekspresi kalian itu.

Aku, hari ini dan beberapa hari ke depan mau bereksperimen lagi. Aku pasti akan berusaha tidak peduli dan tak mau membantu keinginan kalian. Jangan memaksa, aku akan berusaha tidak peduli. Atau setidaknya berbohong seperti biasanya.

Jauh dalam lubuk hatiku, aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Seseorang yang kuimpikan bisa memahami dan mau mendengarku sejelas-jelasnya. Seseorang yang mengiyakan tanpa ada mau. Seseorang yang siap berjanji memaafkan segala ketidakwarasan selama aku hidup. Seorang yang lemah lembut dengan senyum yang sejuk di wajahnya. Sebenarnya, kau sedang apa dan di mana siang ini? Aku masih sangat berharap bertemu secepatnya. Tolonglah, muncul tanpa harus aku sahut dahulu.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama