Dealova.

Sudah lama aku tak menulis di sini lagi. Bukan karena tidak mood lagi, melainkan memang sedang takada masalah pelik saja. Aku, beberapa hari ini, mencoba berdamai dengan rasa keberatan.

Kembali lagi, soal Dealova. Aku tidak tahu apakah kau akan percaya atau sebaliknya. Aku bertemu wujud perempuan yang jujur saja, kuidamkan. Ia seorang anak SMA, yang memiliki sifat cerewet namun nampak sopan. Lagi, Dealova tulus menyatakan bahwa ia menyukaiku dan terlihat ingin membuatku bahagia.

Kami bertemu di sebuah mobil angkutan kota, selepas pulang kuliah. Seorang gadis SMA memandangiku dengan wajah senyum. Ia nampak tak peduli teman-temannya yang kebetulan sedang bersamanya, memandang aneh dirinya. Karena jelas saja, ia memberi senyum lelaki asing. Senyum yang melebihi tanda tegur sapa. Senyum bermakna beda.

Aku heran, senang, sekaligus takut. Takut ketika masker di mulutku kubuka, aku kehilangan dirinya. Wajar saja, wajahku tak setampan Aldebaran.

Kami berdua turun bersamaan. Teman-temannya juga. Di sebuah halte yang agak ramai, aku berdiri berdampingan. Kubuka maskerku, sekadar mengetes apakah ia tulus memberi senyum manis padaku atau tidak. Ia, untungnya masih seakan mengagumiku. Bahkan ia sampai berani membuka gawainya dan menunjukkan nomor pribadi.

Kami sesaat saling memandang. Gadis itu benar-benar membuatku salah tingkah siang itu. Baru kali ini aku dihujam merah merona di pipi oleh seorang perempuan. Masih muda pula.

Akhirnya kami mengobrol, berkenalan satu sama lain.
"Dealova." Ia memulai obrolan.

Dan seperti seharusnya, aku hemat bicara. Padahal Dealova sangat antusias dengan obrolan itu. Ia menguasai obrolan, sedangkan aku asyik mendengarkan. Dealova tak kesal, malah terus saja mengajak ngobrol.

Entah sejak kapan dan kenapa, Dealova mengambil kartu memori kecil milikku. Ia membawanya ke seberang jalan, seakan menyuruhku untuk ikut bersamanya pulang.

Aku agak panik, takut ia membuka folder tugas kampus. IYKWIM, but just kidding.

Aku mengikutinya, sebelum akhirnya ia masuk ke sebuah mobil untuk pulang. Dealova menyerahkan memori itu padaku, dengan wajah yang masih nampak manis. Kami berpisah dengan nasib, nomornya tak sempat kucatat. Aku hanya mengingat nomor: 0813-687.... dan selebihnya aku lupa.

Akupun terbangun dari tidurku. Ya, Dealova hanya sebuah bunga tidur di siang hari. Mimpi itu terasa nyata sampai aku mengingat detailnya.

Aku lumayan penasaran dengan sosok Dealova. Hingga aku sempat mencoba menebak nomor ponsel selanjutnya, yang tidak kuingat. Dan ya, hasilnya masih nihil. Kukira Dealova memang hanya sebuah harap yang terkabul meski sekejap, dan dalam mimpi saja.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama