Berbeda. [Hal. 1]

berbeda
Maaf, ilustrasinya agak horor.
Aku adalah seorang anak yang semasa kecilnya, lebih sering diasuh bibi. Karena, tiga tahun setelah kelahiranku, seorang anak bayi menangis sepulang dari rahim ibu. Aku dimandikan, didandani, diajak main, hampir lebih sering bersama bibi. Memori dalam pikiranku berkata begitu.


Sangat sulit mengingat masa kecil bersama ibu. Hanya dua hal, diajak ke pasar, dan makan bersama keluarga. Selebihnya, aku tak bisa mengira-ngira.


Aku, satu-satunya anak yang namanya sama sekali tidak islami. Keempat saudaraku, semua namanya islami. Zaenal Mutaqin, Saleh Nuryamin, Fitriasari, Mumu Muhaemin. Sedangkan aku, Nandar Iskandar.


Hebatnya lagi, akhiran huruf dari nama mereka, sangat-sangat puitis sesuai jenis kelaminnya. Saudara lelakiku berakhiran "n", sama dengan bapak, Rosidin. Begitupun Teh Fitriasari, sama dengan Emak, Maswati. Lah aku?


Dua fakta dari namaku itu, sempat membuat rasa sedih. Dulu. Sekarang aku lebih sering menyebutnya "UNIK. BERBEDA." Meski kadang aku berpikir, itu hanyalah alibi untuk menghindari kesedihan.


Yang cukup melegakan, aku masih punya darah seni dan kecerdasan otak dari orang tuaku. Dulu, bapak selalu rangking satu di Madrasah Ibtidaiyyah. Prestasi itu menurun padaku, yang juga sapu bersih rangking satu di sekolah setingkat dasar itu. Bahkan aku sempat sekali juara umum, yang artinya aku melampaui bapak soal prestasi di sekolah formal.


Aku suka, sangat suka dengan namanya menulis. Sama halnya dengan teh Fitri. Bahkan Teh Fitrilah yang mengajakku berkelana menyusun untaian kata. Ketimbang hanya menulis curhatan atau angka-angka. Puisi-puisi, dan cerpennya, membuatku tergugah ingin mengikuti hobinya. Dan ya, aku semakin jatuh cinta.


Dari seluruh anggota keluarga, akulah yang paling kikuk kalau disuruh mengobrol di depan umum. Soal ini, mungkin menurun dari Mak, yang juga jarang bicara di depan umum. Kecuali rapat antar warganya diadakan di rumahnya sendiri.


Aku bukan tipe yang gampang berargumen lewat mulut. Kelu lidah ini jika dipaksa mengobrol, terutama obrolan formal. Tapi, jika lingkungannya baik padaku, aku bisa tak segan mengeluarkan pendapat. Asal diberi waktu dan kesabaran, tidak dipaksa. Sekali dipaksa, aku pasti diam seribu bahasa sampai acara selesai.


Sejak kecil, ketika anak seusiaku lebih suka bermain di kelas, aku lebih suka membaca buku. Apalagi buku soal ilmu teori fisika, sejarah Islam dan Indonesia, juga kisah dan dongeng zaman lama. Puas, bisa terlena dalam imajinasi yang kubuat. Puas, ketika teori fisika dalam buku, bisa dipraktekkan sendiri di rumah.


Di usia remaja, aku lebih senang mengeksplorasi dunia internet, ketika teman-temanku senang mengeksplorasi pergaulan dan dunia pacaran. Bukannya sok ganteng, bahkan beberapa perempuan sekelas dan adik kelas, pernah menaruh hati padaku. Dan semuanya cantik-cantik. Tapi aku malah tak peduli, sebab aku mencintai dunia baru bernama internet.


Mig33,Ebuddy, Friendster, Ubuntu, Opera Mini, Vuclip, OwnSkin, Waptrick, memodifikasi klub di PES versi Java, Mywapblog, Facebook, YouTube. Itulah beberapa hal pertama, yang kujelajahi di internet. Keren, bisa mengobrol dengan orang-orang jauh di sana, yang ternyata sehobi dengan kita.


Sedihnya, di dunia nyata aku malah diejek. Dibilang budak warnet lah, anak Facebook lah, dan sebagainya. Padahal, beberapa tahun kemudian mereka jadi pengguna Facebook juga. Lebih lebay malah. Ngebucin, dan merasa paling "gue kece!" Sudahlah, hak mereka.


Di SMA, ketika orang lain suka dengan berprestasi di sekolah, aku malah menghindarinya. Alasannya, "ngapain? Entar juga orang-orang pada lupa." Aku lebih suka hal realistis saat itu. Meski, aku masih punya mimpi.


Aku lebih senang mengulik dunia internet dan teknologi lain, lebih dalam. Mencari keseruan baru. Mengunduh aplikasi dan film-film bajakan (yeah, i know. That's illegal), menulis di blog, belajar ilmu Microsoft Office, hingga belajar menggambar logo.


Ya, begitulah.


[Bersambung...]

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama