Tulisan Lama.

7 Januari 2018.

Cinta, yang Dipaksakan Hilang

(Nandar IR)

cinta yang dipaksakan hilang
Tak adil memang.

Disubuh ini, kerinduan melanda hati, dari sebuah cinta yang hilang. Aku teringat masa yang menyejajarkan kita pada setiap hidup, saling mendampingi, menguatkan emosi, mendorong, meraih yang ingin diraih, bersama, dalam ikatan batin yang sama. Kita masih tersenyum kala itu, kala kita bersua dalam pandangan pertama yang tak saling mengenal, terutama diriku. Namun rautmu menyelami segala isi hati. Dan aku, kemudian mendeskripsikan itu sebagai cinta alami dari sanubari. Aku bersemi bersama kasih yang kau tafsirkan untukku. Menatap awan langit yang katamu bisa mewakili dirimu di kala kita berpisah untuk sementara. Ah, indahnya CINTA yang kau berikan pada kita.

***

Subuh mulai memudar, mentari pun ingin bersyair pada bumi yang masih saja terlampau indah. Kita pun sama, takkan selamanya bersama menatap harapan setia. Kau pamit pada subuh itu, meninggalkan senyum paling indah yang merekah. Senyum itu, masih dapat kubahas hingga subuh ini. Aku tahu kau lelah menghadapi rasa yang jauh tak bisa kuterka, yang jauh tak bisa kupaksa saling merasa, yang jauh dari pandangan mata, yang kau paksakan untuk menanggungnya sendiri bersama airmata. Aku hanya berharap sanubari itu tetap ada, itu saja. Namun harapan telah hilang, kini kita duduk pada masa yang jauh berbeda. Dan di sini aku hanya menatap awan langit yang kau sebutkan bisa mewakili dirimu, bahkan untuk selamanya.

* Untuk teh Fitri, bagaimana keadaan surgamu?
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama