Gagal Sarjana.

Malam ini, bapak sudah tahu anaknya gagal jadi sarjana. Dari anaknya sendiri. Aku.


Semenjak fase masalah ekonomi keluarga mulai menurun, aku sudah merasa tak enak, sekaligus terbebani. Banyak pikiran. Bagaimana bisa mereka membayar uang kuliah semester akhirku? Bagaimana bisa aku membayar sendiri uang kuliahku? Bagaimana caranya mencari uang kuliah? Bagaimana cara mendapat uang diinternet? Sampai lupa, tugas akhirku juga masih berantakan.


Sulit untuk tidak memedulikan utang di bank. Melihat Mak dan Bapak kebingungan setiap hari. Sedangkan anaknya enak makan minum gratis, bahkan disuguhi.


Ya, tugas akhirku sangat-sangat berantakan. Aku sudah sangat antusias menulis pada awalnya. Hingga lupa notebookku mulai rewel. Dan sialnya, semakin rusak gara-gara orang tak bertanggung jawab. Semua data skripsian lenyap, tak sempat kusalin.


Lagi-lagi, aku memikirkan bagaimana mencari uang. Warnet tidak gratis, print data tidak gratis, pergi ke kampus juga tidak gratis.


Aku tahu, kalau kubilang bapak emak, mereka pasti akan sangat susah payah mengusahakannya. Dan itu menambah pikiranku juga. 20 tahun lebih membebani orang tua, meski mereka takkan merasa begitu.


Aku benci diriku sendiri. Aku memang masih sangat lemah mencari jalan keluar, jalan pintas yang bisa kulakukan. Aku hanya mampu memikirkan rencana-rencana yang masih abu-abu.


Aku berusaha membuat blog pribadi, yang kuharap bisa menambah uang kuliah akhir. Tapi belum juga sukses, blogku lenyap setahun kemudian. Aku benar-benar down, tak bisa berpikir, tak bisa marah, tak bisa menangis. Aku terlalu capek memikirkan banyak hal yang tak pernah kupahami, tak pernah kubayangkan.


Saking gilanya dengan penyakit stres, aku sering kali mengidap palpitasi.


Kemudian, jalan terjal terpaksa kuinjak, tanpa berbicara kepada siapapun. Aku memutuskan tak membicarakan uang kuliah semester akhir pada keluargaku. Sampai aku tercatat jadi mahasiswa nonaktif di website kampus.


Dosen pembimbing kublokir, orang-orang kampus yang tiba-tiba menanyakan keberadaanku juga kublokir. Keputusan yang pasti banyak orang kesal, ingin memarahi atau menghujatku. Aku memahami itu. Karena sekali lagi, aku masih bodoh memutuskan.


Maaf, maaf jika ada yang kesal ketika membaca ini. Aku meminta maaf.


***

Bapak, kalau kau mengerti internet dan membaca ini, kuharap kau bisa memaafkan anak paling lemah ini. Aku tidak sanggup terlalu membebanimu, memikirkan banyak uang. Aku tidak sanggup terlalu banyak pikiran, disaat kesehatan mentalku belum terlalu membaik. Aku tidak sanggup membaca segala macam situasi yang datang dari tiap sisi.


Mak, aku pasti akan memberikan segala keinginanmu. Memberi baju lebaran yang ukurannya pas, karena setiap tahun kau mengeluh terus dengan ukuran baju. Memberi selimut hangat, mengganti selimut yang sudah robek-robek. Memberi makanan yang enak, sehat, memberi gizi pada tubuhmu yang sering kesakitan.


Tapi tidak untuk jadi sarjana. Untuk saat ini. Maaf, maafkan anakmu ini. Kutahu kalian berdua kecewa, tapi maafkan anakmu ini.


Masalahku memang sangat kecil dibanding kalian, tapi aku benar-benar tidak sanggup. Aku sempat mencari, melakukan hal-hal yang kupikir bisa menyelesaikan masalah. Tapi hasilnya gagal, gagal lagi. Capek mak, pak. Maaf.


***

Lantas, beberapa bulan ini, kucoba mempersiapkan mental mencari jalan keluar mewujudkan mimpi-mimpi yang tertunda.


Aku menjadi dropshiper, Mak, Pak. Apakah kalian bangga? Kuharap begitu. Kuharap kalian bisa memberiku kesempatan mencari jalan sendiri. Tanpa bantuan kalian. Kalian hanya cukup memberiku senyum, dan doa di setiap salat. Aku hanya ingin seperti orang dewasa lainnya, mandiri sebagai lelaki.


Aku juga masih ingin menjadi penulis. Menjadi seorang blogger, juga penulis buku. Aku ingin mewujudkan mimpi Teh Fitri juga.


***

Mak, Pak, aku gagal jadi sarjana. Aku gagal menaikkan derajat kalian. Aku gagal melebihi bapak. Aku gagal membuat Mak senang. Aku gagal memberi kalian toga. Aku gagal menambah ijazah. Aku gagal menjadi teh Fitri.


Maaf, Pak, Mak. Aku gagal jadi sarjana.


*Curhatan bangke terakhir. Semoga saja.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama