Menjadi Sutradara Bag. 1 | NGOBROL #9

2016 yang lalu, aku tak pernah berpikir bahwa cerita ini akan menjadi salah satu masa terindah di hidupku. Pengalaman yang benar-benar menjadi guru. Pengalaman yang membuatku tahu, bahwa hidup sendiri dan tak pernah berjuang adalah kesia-siaan. Pengalaman yang akan kuceritakan di sini, dengan judul sederhana, "Menjadi Sutradara".

Awal Mula

sutradara drama
2016, Drama JIHAD FII SABIILILLAAH

Sejujurnya, aku tak pernah mengajukan diri ingin menggantikan posisi orang-orang di atasku, yang jauh lebih berpengalaman mengurus sebuah pentas drama panggung. Aku, pada mulanya, hanya diminta adik sepupu perempuanku untuk membantu menulis naskah cerita. Dan ya, tanpa basa-basi ataupun jual mahal, aku kemudian mengiyakannya.

Alasan sederhana mengapa aku menerima permintaan itu, karena aku memang suka menulis. Lagipula, yang meminta adik perempuanku sendiri. Tidak mungkin aku mengecewakannya, dengan bilang tidak.

Naskah yang kuberi judul, "JIHAD" pun akhirnya jadi. Isinya hanya tentang dua suami istri dan beberapa santri putri, yang disiksa para kompeni Belanda, hingga mereka tewas. Kemudian para santri lain membalasnya, dengan merangsek masuk ke markas Belanda, dan terjadilah pertumpahan darah. Alur biasa nan sederhana yang mungkin akan sangat menggelikan jika aku membacanya hari ini. Maklum, debut pertama.

Namun, akibat kekosongan di bangku pelatih drama, naskah yang kubuat sempat terdiam tanpa ada yang menggarapnya. Pelatih yang biasanya setiap tahun selalu ada, sudah menikah dan pindah rumah pada waktu itu. Adikku, lalu menghubungiku kembali, menyuruhku mengisi kekosongan di bagian penyutradaraan. Lagi-lagi, aku menerimanya dengan senang hati.

Entahlah apa yang terlintas dalam pikiranku. Padahal, proses bersosialisasi dan berdamai dengan keramaian, belum pernah kulakukan saat itu. Tiba-tiba saja keberanianku datang, membuat keputusan yang tergesa-gesa menurutku.

Pada momen pertama menjadi sutradara sebuah pentas drama, aku sempat hanya berdiri mematung tanpa bicara. Mengenal lingkungan baru, melakukan hal yang amat sangat kubenci (berbicara di depan banyak orang), meyakinkan diri bahwa aku harus keluar dari zona gagal pada detik itu juga.

Setelah aku menguasai keadaan dan mentalku, mulutku akhirnya mampu berbicara juga. Untung saja aku sudah menyiapkan sedikit bahan pembicaraan di secarik kertas dan pikiranku. Meski ya… masih terasa kikuk, bergemetar, tak tahu mau ngomong apa.

Debut pertama itu berlangsung cukup singkat. Hampir nihil permasalahan internal. Mungkin, pada waktu itu aku terlalu sibuk, harus pulang pergi Tasikmalaya-Bandung. Biasa, mengurus masa depan yang masih mengawang-awang.

sutradara drama panggung
2016, Drama JIHAD FII SABIILILLAAH

Karena itu, aku sebetulnya tidak terlalu banyak mengurus terlalu banyak. Aku hanya melatih beberapa kali saja, dan kuserahkan separuhnya pada adik sepupuku, juga teman sebayanya. Setidaknya mereka lebih tahu karakter anak-anak pengajian dibanding diriku sendiri. Mengurus orang-orang asing pada keadaan asing, rasanya terlalu memaksakan jika kulakukan sendiri.

Sekitar—entahlah—mungkin dua bulanan berlatih, acara akbar Madrasah Diniyyah di kampungku, yang biasa disebut MILAD, dimulai. Pentas drama "Jihad fii Sabiilillaah" yang diganti judulnya oleh pembawa acara pun akan segera naik panggung.

Di belakang panggung, anak-anak mulai kelimpungan. Alat yang sejatinya sudah kubilang sejak awal-awal berlatih, ternyata belum mereka cari juga. Kubilang, cari hari itu juga, jangan menunggu aku memberinya.

"Hadirin yang berbahagia, acara selanjutnya, inilah dia, drama yang berjudul Jihad Sabiilillaah, bersama Hilal dan kawan-kawan." Begitulah kira-kira, MC memanggil pentas yang kuurus setengahnya itu. Apakah aku tegang? Tentu saja.

Pentas drama pertama yang kubuat pun telah dimulai. Yang kuamati, respon dari penonton cukup beragam. Ada yang cukup menikmatinya saja, ada juga yang kebingungan, bahkan ada yang sedikit mengolok-olok dengan mimik mukanya. Betul sekali, pentas drama itu agak kurang memuaskan, bahkan untuk diriku sendiri. Dialog dan ceritanya minim, kurang berisi, kurang lama juga. Diperparah lagi, dengan adegan perang yang seharusnya epik dan berlangsung lama, justru garing dan hanya segitu saja. Jelas-jelas sudah ku ingatkan sejak awal bahwa adegan perang, haruslah berlangsung lama.

Aku tak bisa menyalahkan sepenuhnya pada mereka juga. Akupun bertanggung jawab atas separuh kegagalan itu. Bahkan harus kuakui, akulah kesalahan utamanya. Waktu dan keadaan saat itu, memang cukup menguras pikiran.

Momen perdana menjadi sutradara itu saat itu, berlangsung cepat. Aku dan mereka, tak memiliki banyak kenangan. Hanya beberapa foto yang untungnya sempat ku abadikan. Tapi tanpa memulainya dari sini, tentu aku takkan berpapasan dengan momen-momen indah di masa depan, yang akan kuceritakan pada bagian selanjutnya.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊
Sok, kasih kritik maupun saranmu buat blog ini. Jangan nanggung, hajar aja!

Lebih baru Lebih lama