Menjadi Sutradara Bag. 2 | NGOBROL #10

Cerita teramat singkat di tahun 2016, sebagai sutradara amatiran, telah usai kutuliskan. Lanjut pada bagian paling menarik dan penuh intrik. Bagian yang membuatku mengerti arti saling menghargai.

Tahun Kedua

Aku benar-benar hampir lupa banyak momen terbaik, di tahun kedua menjadi sutradara ini. Aku hampir tidak terlalu menikmatinya, terlalu banyak masalah internal yang seharusnya tak perlu dipermasalahkan.

Tahun kedua ini, tepatnya tahun 2018, aku tidak membuat pertunjukkan drama. Alasannya, ya… seperti yang kusebutkan tadi. Perbedaan paham antara aku dan beberapa anak pengajian, membuatku merasa tak nyaman. Kalau perbedaannya menyinggung pertunjukkan, sepertinya aku akan senang menerimanya. Tapi ini, soal hubungan lelaki dan perempuan. Kamu tahulah… ke mana arahnya.

Lebih baik menyerahkan semua tugas itu kepada mereka sendiri. Mereka jauh lebih pintar, paham masalah, dan dewasa sekali. Wow… wow… wow… pokoknya.

Untungnya, aku punya satu pertunjukkan yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum acara milad tahun 2018 dijadwalkan. Sebuah pertunjukkan yang sangat asing di mata penonton awam, tapi aku menikmatinya. Pertunjukkan yang sering disebut "Rampak Puisi".

Seperti yang kupelajari di kampus, rampak puisi memanglah agak berat untuk dinikmati secara santai. Butuh pemaknaan yang jauh lebih dalam dari hanya sekadar ditonton. Aku merasakan kebingungan penonton, tapi justru aku menyukai perasaan itu. Biarlah mereka melongo, atau bahkan meremehkan.

Rampak puisi pertama yang kubuat, memiliki arti bagaimana kita bertanggung jawab pada Maha Pencipta, pasca hidup di dunia. Apa yang akan terjadi di alam kubur, dan semua anggota tubuh akan menjadi saksi.

NGOBROL: Memendam Sendiri, atau Punya Teman Cerita?

Tapi tidak semua penonton kebingungan, kok. Masih ada beberapa yang bilang bahwa ia merinding ketika melihatnya. Aku senang mendengarnya.

Kemudian… ya itu saja. Tidak ada lagi momen terbaik selain bertemu anak-anak rampak.

Tidak jelaskan, aku sedang bercerita apa? Alurnya tidak rapi, kosakatanya tak enak dibaca. Ya… begitulah.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊
Sok, kasih kritik maupun saranmu buat blog ini. Jangan nanggung, hajar aja!

Lebih baru Lebih lama