h2amzOiq2Tn9rmGhajOa165fMKwBqbFxQjYwl3bC

Menjadi Sutradara Bag. 3 (Selesai) | NGOBROL #11

Oktober, 2021

Nada dering khas WhatsApp menyibakkan malam yang tak terlalu mendung. Pesan dari seorang perempuan. Ia menyuruhku membantu mengurus pentas drama MILAD tahun 2021. Kembali, sebuah penghormatan yang pantas disyukuri.

Sejatinya aku sempat menolak, namun hati masih sering mengamini. Lantas ujungnya aku mau juga. Lagipula, niatku memang menjadikan milad tahun ini, tahun terakhirku melatih.

Rampak Megatruh

Sudah menjadi kebiasaan atas diriku, menyiapkan pentas seni untuk milad, jauh-jauh hari sebelum wacana milad diteken. Bisa sebulan, atau bahkan setahun. Entahlah apa alasannya, tapi itu bersangkutan dengan pengabdian sejati.

Namun untuk milad tahun ini, aku hanya menyadur dari beberapa pentas yang pernah kusaksikan di kampus dulu. Bahkan untuk naskah drama, bukan aku yang menulisnya. Kasarnya, tahun ini aku benar-benar hanya duduk sebagai sutradara saja, tanpa mikir naskahnya juga.

Latihan dimulai sejak Oktober awal. Bersama orang-orang yang sebetulnya sangat tidak asing bagiku. Mereka adalah para pendekar Pusbaling Pelangi. Jika kamu tahu, kamu pasti pembaca sejati blog ini. Haha.

Pada awalnya, ada dua pentas yang akan kuberikan untuk mereka. Musikalisasi puisi, dan rampak. Bahkan kami sempat beberapa kali latihan, bermain musikalisasi puisi. Namun ternyata, tak semudah yang kubayangkan.

Beberapa kali latihan, suara dan musiknya selalu tak bisa sinkron. Ya aku sadar, mereka tak cukup paham mengenal nada. Aku juga tak terlalu bisa melatih bidang permusikan. Ditambah dengan fasilitas alat musik yang tidak memadai, menambah ruwet proses latihan. Lantas pada akhirnya, kami pun menyerah.

Sebagai gantinya, aku menyuruh mereka menonton salah satu rampak puisi di kampusku. Semoga saja mereka tertarik, pikirku. Untungnya, pikiranku selaras dengan mereka. Dari sinilah sebetulnya, cerita masa-masa terakhirku menjadi sutradara dimulai.

Proses latihan bersama anak-anak rampak tahun ini, kunikmati betul seluruhnya. Aku ingin memberikan yang terbaik, untuk pentas terakhir ini. Kalau boleh jujur, bahkan beberapa alat bantu pentas, kubeli dengan uang sakuku sendiri.

Melatih anak-anak rampak tahun ini, tak sebegitu menegangkan dibanding dulu. Sebab mereka sudah lama ku kenal, dari sejak rumah baca berdiri. Sehingga, aku tidak terlalu banyak beradaptasi dengan mereka.

Latihan berjalan lancar, menyenangkan, dan saling merasa nyaman. Bahkan lebih sering bercanda daripada seriusnya. Aku memang sengaja membuat treatment itu, agar tidak ada saling ketersinggungan. Sebab aku paham, usia remaja seperti mereka, masih sangat rentan perasaannya.

NGOBROL JUGA: Menjadi Sutradara Bag. 1

Sampai, pada saat malam gladi kotor, sebuah omongan paling menyakitkan yang pernah kudengar selama menjadi pelatih, merusak segala kesenangan kami. Omongan yang tak sepantasnya datang dari seseorang yang terhormat, omongan yang harusnya dibicarakan di ruang sempit, omongan yang tentu saja membuat mentalku terutama anak-anak rampak down. Saat itu, seketika pandangan semua yang menyaksikan gladi, seakan menyalahkan kami.

Setelah pengalaman pahit malam itu, rampak puisi hampir saja tak jadi manggung. Aku takut mental anak-anak semakin runtuh, sedangkan aku juga tak lagi punya semangat melatih. Kurang lebih dua hari aku merenung, mencari apa yang salah. Sebab jelas, pentas yang dianggap sesat dan berbau horor, nyatanya hanya sebuah fitnah atas ketidaktahuan. Omongan palsu, dilihat dari sumber manapun.

Pada akhirnya, karena dipaksa oleh beberapa pihak yang masih mendukung dan menyemangatiku, Rampak Puisi Megatruh akan tetap dipentaskan. Dengan syarat pengubahan di beberapa titik. Namun pengubahan itu tak lantas meyakinkan diriku bahwa akulah yang bersalah, melainkan hanya formalitas menghargai sang empunya acara. Aku merasa benar, karena memang tak ada yang salah. Aku menolak dikafirkan.

Malam pentas dimulai. Rampak puisi tampil malam pertama. Kubuat suasana bahagia pada diri mereka. Memberikan kekuatan, supaya terus berjalan, di atas dinginnya ketakutan.

Aku dengan kamera sewaan, berdiri di sudut panggung. Merekam momen-momen yang pasti akan berkesan untuk selamanya. Suara-suara mereka lebih lantang dari biasanya. Mungkin, orang itu benar, rampak puisi megatruh memang mistis. Haha… aku bercanda. Suara lantang itu justru datang dari kebencian sesaat, dalam diri mereka.

Selesai. Mereka melaksanakan tugas dengan baik. Aku merasakan kelegaan dan keharuan dalam satu waktu. Mata berbinar mereka tak bisa disembunyikan. Bahagia rasanya.

Sebagai rasa syukur, malam itu kuajak mereka makan-makan. Sesuatu yang memang sudah ku janjikan kepada mereka jauh-jauh hari. Sekali lagi, aku mengambil beberapa buah kenangan dalam memori kamera sewaanku.

Dan inilah, beberapa momen yang sempat kuabadikan bersama mereka.

Drama K.H. Hasyim 'Asy'ari

Jujur saja, treatment melatih anak-anak drama jauh lebih sulit daripada anak-anak rampak. Bukan hanya mencari jalan komunikasi yang sulit, namun karena mereka juga memiliki gap usia yang tak terlalu jauh denganku. Sehingga mereka mungkin berpikir, aku sepadan dengan mereka.

Latihan berjalan sangat alot dan kurang kompak. Kadang yang satu ada, yang satu lagi takada. Bahkan pernah takada semua. Haha. Padahal, hanya tinggal sebulan lebih sedikit, menuju malam puncak.

Tapi mau bagaimana lagi, aku mencoba memahami mereka. Mungkin ada hobi yang jauh lebih penting, ada keinginan yang jauh lebih menarik. Mereka sedang berproses menuju dewasa. Aku tidak mau merusaknya dengan sikap amarah, yang bisa membuat rusak semua.

Gonta-ganti personel juga menjadi masalah berat. Ada yang tidak mau berperan jadi istri sang guru karena malu, ada yang tiba-tiba keluar, ada yang tiba-tiba masuk, ada juga yang mengeluh. Aku benar-benar hanya sibuk mencari solusi masalah-masalah itu, dibanding melanjutkan latihan drama.

Pada akhirnya, aku tak kuasa lagi bertahan. Aku menyampaikan pesan di grup, bahwa aku ingin berbicara dengan mereka. Bukan untuk latihan, namun mengobrol soal masalah yang ada.

Ku Luapkan semua, tanpa ada yang disembunyikan, tapi tetap dengan treatment menahan amarah. Aku hanya memberi nasehat sedikit, agar lebih bisa disiplin jadi manusia.

Untungnya, semua menerima. Tidak ada yang kesal, tidak ada yang tersinggung. Bahkan orang-orang yang sempat dikeluarkan, meminta padaku untuk dimasukkan lagi. Tentu saja, dengan senang hati, sebab itulah tujuannya.

Sebenarnya, kalau mereka mau rajin latihan, mereka sudah paham alur cerita jauh-jauh hari. Sebab ingatan mereka masih sangat baik. Hanya rasa malas saja.

Terbukti pada malam puncak, tepatnya malam kedua, pentas drama jauh lebih bagus dibanding latihan. Sama halnya dengan anak-anak rampak, mereka juga seperti kerasukan. Beberapa dari mereka seakan memang sedang dalam situasi mencekam. Tentara Jepang bengis, santri-santri melawan. Pentas drama yang jauh lebih bagus dan menarik, dibanding pentas drama tahun-tahun sebelumnya, buatku. Orang-orang ini, seakan melakukan imrprovisasi.

NGOBROL LAGI: Menjadi Sutradara Bag. 2

Penonton terkesima di tengah cerita, kemudian diam pada babak terakhirnya. Sebab pembaca puisi yang all out meski sedang serak, dan suasana haru yang ditampilkan di panggung. Setelah itu, baru terdengar tepuk tangan yang cukup meriah dari para penonton.

Aku juga terheran-heran. Kok bisa, mereka yang awalnya malas-malasan latihan, bisa tak kukenali saat di panggung. Dalam artian, begitu bagusnya mereka berperan, di level amatiran.

Memang tidak banyak momen-momen yang berkesan dengan mereka. Namun mereka secara tidak langsung, mengajarkanku untuk bisa selalu bersabar dalam keadaan seburuk apapun.

Drama K.H. Hasyim 'Asy'ari 2.0

Selesai melaksanakan tugas acara milad di kampungku, aku tak bisa beristirahat terlalu lama. Sebab, panggilan melatih masih berlanjut. Bedanya, aku melatih di kampung lain, yang jaraknya tak bisa ku tempuh hanya dengan berjalan kaki saja.

Ciranjeng. Kampung yang tak pernah kubayangkan sebagai pelabuhan terakhir sebelum memutuskan beristirahat lebih lama, sebagai sutradara.

Pada awalnya, memang, mentalku belum siap berhadapan dengan orang baru. Terlebih ini soal tiba-tiba harus melatih, bukan hanya berkenalan biasa saja. Tapi entah darimana datangnya, aku memberanikan diri maju ke depan dan memulai obrolan. Dan untung saja, ada perwakilan dari mereka yang sudi menjawab segala obrolanku. Sehingga, tidak kurang dari seminggu, aku mulai akrab dengan orang-orang baru itu.

Tidak ada hambatan yang cukup menjengkelkan. Semua berjalan rapi, dan bahagia. Buatku, apa yang kurang dari anak-anak di kampungku, ada di tempat itu. Tidak ada yang mengeluh malas latihan. Malah aku yang keteteran. Semangat mereka, tak sebanding dengan rasa lelahku.

Hambatan yang datang, hanya ada pada kendaraan dan cuaca saja. Kadang aku tak bisa datang karena dua faktor itu. Respon mereka, tentu saja merasa kecewa. Respon yang sebenarnya membuatku justru bahagia. Kapan lagi coba, dianggap penting oleh orang-orang yang bahkan baru kukenal.

Kebahagiaan datang bukan hanya dari rasa semangat anak-anak Ciranjeng. Ibu-ibu dan bapak-bapaknya, juga sangat loyal padaku dan orang-orang sekampung yang juga ikut denganku. Sering kami disuguhi makanan berat, maupun jajanan warung. Sering kami dianggap seperti tamu istimewa. Padahal, kami khususnya aku pribadi, bukan siapa-siapa di tempat asalnya.

Kesan-kesan baik semakin lama semakin banyak saja. Sehingga aku mungkin lupa, apakah ada keluhan yang kuterima atau tidak. Saking seringnya aku mendapatkan rasa bahagia di sana, aku jadi lupa, waktu sangat cepat kurasa.

Malam pentas memang berlangsung seadanya. Tapi entahlah, rasa haru justru lebih berkesan di sana. Mungkin karena aku akan jarang berpapasan lagi, atau memang tali silaturahmi begitu erat bersama orang-orangnya, terutama mereka. Anak-anak yang penuh rasa ingin tahu dan semangat membara.

Satu frasa saja untuk mereka. Terima kasih.

PENUTUP

Meski debut pertamaku pada tahun 2016, namun pada dasarnya hanya tiga tahun saja aku berpengalaman sebagai pelatih atau sutradara pentas panggung kecil. 2016, 2018, dan 2022.

Namun di waktu yang singkat itu, aku bisa merasakan segalanya. Tekad, nekat, seru, bahagia, heboh, penuh tawa, berkesan, puas, sedih, sebal, jengkel, amarah, rasa geli, iba, duka, terenyuh, malas, dan lain sebagainya. Melalui banyak rintangan, yang tak bisa diprediksi, adalah kenikmatan yang harus selalu bisa kusyukuri.

Aku sangat menikmati proses perjalanan ini. Menjadi sutradara memang sebuah cita-cita yang sempat kugaungkan di depan kelas, saat masih di SMA. Ya… meskipun bukan sebagai sutradara film, setidaknya aku pernah merasakan bagaimana rasanya mengatur orang-orang yang akan memainkan peran.

Kemudian, pada akhirnya, rasa lelah sudah berada di fase paling puncak. Aku memutuskan untuk beristirahat menjadi sutradara. Entah hanya satu acara milad saja, atau mungkin untuk selamanya. Tergantung, apakah mereka butuh atau tidak, setelahnya.

Keputusan ini sudah lama kupikirkan, bahkan sebelum kenangan pahit omongan orang tentang pementasan yang kuberikan. Keputusan yang murni atas rasa lelah saja. Sikap dari satu orang itu, hanya alasan pelengkap saja.

Memang akan sangat berat untukku, keluar dari keinginan lama yang telah kujalani. Namun begitulah hidup. Apa yang kau dapatkan, tak selamanya bisa membahagiakan.

Terakhir, aku hanya ingin berterima kasih saja. Kepada orang-orang yang bisa menghargaiku, sebagai manusia yang bisa melakukan sesuatu. Namun kepada mereka yang hanya bisa menertawaiku, aku juga memaklumi. Sebab tak selamanya manusia, punya sikap saling menghargai. Lagipula, mereka juga bagian dari perjalanan, meskipun hanya sebuah kerikil tajam.

Sekali lagi, terima kasih. Sampai bertemu lagi di tahun-tahun yang entah kapan, bersama orang-orang baru lagi.

DONASI VIA TRAKTEER Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi yang diberikan, akan digunakan untuk keperluanwww.nandarir.com. Terima kasih.
Baca Juga
Nandar IR
Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Mungkin Kamu Suka

Posting Komentar