Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Opini: Kontroversi Layar Kaca

Layar kaca merupakan sarana hiburan semua rakyat. Dari rakyat bawah, hingga rakyat atas. Dari sikecil, hingga anak-anak dewasa. Tayang secara terus-menerus tanpa jeda, kebanyakan. Adapula stasiun dengan jeda layar statis dibarengi lagu-lagu harmonis. Berbagai acara dipertontonkan untuk dinikmati berbagai kalangan. Mulai dari acara hiburan, berita, dan yang lainnya. Acara berita terkadang memunculkan anti fakta, menawarkan kegaduhan hingga adu domba, mempermalukan pihak berbeda dan membela pihak yang dibela. Penentunya hanya dua, politik dan agama. Untuk era ini. Menutupi kejanggalan tuan penguasa yang dibela dan menggoreng isu miring calon penguasa lainnya. Aib yang sejatinya dibiarkan terpendam oleh tuhan, dengan angkuhnya manusia taburkan untuk dinikmati bersama kawan. Pun sebuah hiburan yang biasanya menjadi acara paling diandalkan. Bisa menaikkan rating stasiun TV dan ketenaran. Sintetron misalnya. Acara drama TV yang kini, sering menampilkan adegan-adegan yang katanya cinta sejati...

Puisi: Untuk yang Sedang Menjauhiku

Mendekatimu Kau menyuruhnya menarikku Menjauh, sampai keluh Aku menafsirkan kau Pada lima waktu kewajiban Hingga setetes Jatuh dihamparan mihrab Datang setelah Allahu Pergi saat setelah itu Menyuruhnya menghina khusyukku Aku menghinamu Aku menafsirkan kau Pada sepertiga malam Delapan puluh salam Menunggu datang utusan Setelah itu tak datang tetap Sesekali mendengus kilap Jauh kemudian, Susut seharian Aku menahan segala lapar Melupa waktu Melupa segala rayu Menunggu pada peluh Untuk yang sedang menjauhiku Bagaimanakah untuk bersamamu? Sehingga raga tak lagi mengadu Mencerca segala takdir didepanku Aku ketakutan tatkala akan menghilang Mungkin esok atau lusa Kau pasti tahu Aku ketakutan tak mencintaimu Sering berjanji Pagi ini Sore nanti Malam Pukul tujuh Sembilan Hingga tiga pagi Kau masih pergi Untuk yang sedang menjauhiku Datanglah, Aku mau berjanji lagi