Prahara Rumah Tangga Dibawa Ke Sosial Media, Maunya Apa?

Prahara rumah tangga
Hanya Sebuah Ilustrasi

Membahas keresahan di sosial media memang tidak ada habisnya. Kali ini saya akan menyinggung para penghuni rumah tangga dengan prahara di dalamnya. Prahara yang saking mumetnya, sampai dibawa ke sosial media. Maunya apa?

Saya sangat tahu, sosial media itu bisa dikatakan sebagai media bebas nyerocos. Mau membahas apapun, mau curhat apapun, ya terserah. Yang penting bisa mencurahkan isi hati dan airmata.

Tapi, sebelum memahami kebebasan itu sendiri, sepatutnya kita juga paham baik buruknya. Apakah status di sosial media kita masih bisa ditolelir, atau sudah keterlaluan.

Mengenai prahara rumah tangga, untuk saya pribadi, sebaiknya tidak perlu dibahas di sosial media. Selain tidak berguna, alasan jelasnya ya kurang etis saja. Masalah pribadi jadi konsumsi orang lain.

Saya hanya mengingatkan saja, pengguna sosial media bukan hanya anda. Banyak teman dekat anda, keluarga anda, hingga teman yang tak dikenal sebelumnya.

Bayangkan jika rumah tangga anda tersebar di sosial media. Banyak yang tahu, banyak yang mau mencari tahu. Apalagi, sudah pasti, gosip itu akan berkepanjangan masuk ranah tempat tinggal. Tetangga sudah tahu, kamu malu, orang tua juga malu. Bergerak ke kiri maupun kanan, jadi bahan omongan.

Ketika saya tidak sengaja membaca soal aib rumah tangga orang yang sadar tak sadar disebar, banyak beberapa respon yang bisa saya temukan. Entah respon yang saya duga adalah kenalannya, orang yang sepertinya mau mengadu domba, hingga komentar lelaki pura-pura peduli padahal sedang cari celah.

Respon teman dekat biasanya menyabarkan, dan itu wajar. Baik malah. Tapi coba pikirkan baik-baik, bagaimana cerita selanjutnya jika aib rumah tangga dikomentari pengadu domba dan lelaki "buaya"? Sudah pasti pikiranmu makin keruh, rumah tanggamu bisa tinggal cincin dan buku nikah. Jangan sampai penyesalah jadi akhirnya.

Lebih berbahaya lagi jika rumah tangga sudah punya anak. Sudah pasti si kecil jadi korban ketelodoran jari jemari. Kalau anak sudah diserang penyakit psikologi, bisa bahaya nanti. Dia bisa jadi kepikiran dengan apa yang sedang ibu bapaknya alami.

Tidak perlu berharap dapat perhatian di sosial media. Serius, bahaya. Otak kita memang merasa senang, tapi bukan berarti bisa tenang. Bisa-bisa malah menambah masalah, sampai pening.

Iya, maaf, saya memang belum merasakan pahit manisnya rumah tangga. Tapi logika saya masih bekerja, masih baik juga buat digunakan. Saya sedikit paham mana urusan pribadi yang masih boleh dibagi, mana yang tidak boleh sama sekali.

Aib rumah tangga itu, indahnya disimpan dihati saja. Kalau masih percaya Tuhan, maka mengadulah padanya. Ia pasti selalu mendengar keluhanmu, Ia pasti selalu tahu mana yang baik bagimu.

Jadi, turunkan sejenak jemari dari layar ponselmu. Tenangkan sejenak hatimu. Dengan hanya berbagi keluh kesah rumah tangga di sosial mediamu, tak serta merta menyelesaikan masalahmu. Jika syukurnya punya anak, ajaklah ia bermain denganmu. Siapa tahu ialah jawaban untuk menenangkan pikiranmu. Kamu juga pasti tahu istilah, "anak itu nomor satu."

Terakhir, saya hanya mau berdoa saja buatmu, yang sedang berada di titik rumah tangga jenuh. Semoga yang baik bagimu, baik pula buat kehidupan berkeluargamu. Prahara rumah tangga, tak baik dibawa ke sosial media.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama