h2amzOiq2Tn9rmGhajOa165fMKwBqbFxQjYwl3bC
Bookmark

Puisi-puisi 'Turut Berduka Cita' dari Nandar IR

puisi-puisi turut berduka cita
pixabay/Free-Photos


Puisi-puisi 'turut berduka cita' dari Nandar IR ini berisikan tentang 'kematian' seseorang di masa hidupnya. Ia belum mati, tapi ia perlu dikasihani.


Turut Berduka Cita

Dalam naungan Tuhan yang Maha Bijaksana
Aku menengadah terbuka tetesan airmata
Dalam doa kepada Tuhan aku terbata-bata memaksa
kan hitung jemari kalam atas tujuh dosa
Dalam sajadahku tercetak duka
cita masa-masa kecilku tanpa pijar, kelam
Ronta,
Amuk,
Kesedihan,
Sengsara,
Dalam naungan Tuhan yang Maha Wibawa
Aku menengadah terbuka dua tangan goresan siksa
si kecil dalam dunia lamunannya mengiba
Soal keadilan Tuhan yang tak kunjung menyapa

Diamlah

Ssssstttttt......
Diamlah.

Bocah dalam Lamunannya

Si bocah ini memang begini semalaman
Ngelamun sampe di ujung kematian
Jepit-jepitan yang disebut 'masa depan'
Percaya setan percaya Tuhan
Si bocah ini memang begini seharian
Ngelamun sampe dia jadi kakak-kakakan
Ibunya punya seporsi lagi, tapi bukan perempuan
Di otaknya si bocah pikir bisa sayang-sayangan
Si bocah ini memang begini setahunan
Ngelamun sampe lupa rambut sudah ubanan
Istri cantik meski ketuaan
Anak baik meski berjauhan
Dia masih ingat kematian

Dialog maha kuasa

Wahai, kau sang maha kuasa!
Tidak kah kau lupa berjuta lembar itu?
yang isinya adalah foto, nama
juga pangkat-pangkat. Juga gelar-gelar aibmu.
"Aku berjanji, atas nama diriku sendiri. Akan merongrong bila masuk kursi!"
Begitu katamu, dari mulut seekor mirip anjing hutan
Si buruan tak berotak maju melaju sendiri
Dibiarkan tegak bediri, menjadi makanan
Wahai, kau sang maha kuasa!
Nikmatilah hidangan najismu!
Kibaslah telingamu dari Sang Maha Kuasa
Agar aku bisa, nikmati daging hisap nerakamu
Posting Komentar

Posting Komentar

Hai! senang bisa mendapat komentar darimu. 😊
Sok, kasih kritik maupun saranmu buat blog ini. Jangan nanggung, hajar aja!