Figuran Indosiar, Si Pemeran Kecil yang Gampang Dibakar

Pintu berkah

Figuran atau sebut saja pemeran kecil, merupakan karakter yang juga penting dalam sebuah seni peran. Mereka biasanya tampil hanya beberapa detik saja dalam film. Namun, kadang pula bisa beberapa menit, dengan dialog. Setelah itu, mereka akan jarang muncul lagi.

Begitu pula pada sinetron Indosiar tercinta. Pemeran Indosiar sering kali dipergunakan untuk bahan eksploitasi kejahatan. Para pemeran kecil di Indosiar ini, mudah sekali dipanas-panasi. Mirip-mirip tetanggamu, mungkin.

Kenapa saya bisa menyimpulkan seperti itu? Karena saya melakukan studi kasus. Beberapa teori dan konsep dalam seni peran telah saya kumpulkan demi meneliti kejanggalan si pemeran kecil ini. Bahkan, dalam angket yang saya sebar secara umum di sosial media Facebook, saya mendapat perdebatan kuat dari ibu-ibu penggemar Indosiar.

Oke, itu hanya bualan. Nyatanya, saya hanya menyimak saja, di sofa ungu rumah. Dengan hanya berbekal dua mata dan setai kuku ilmu.

Kelakar yang biasanya sering terjadi dan sering digunakan berkali-kali setiap hari, adalah mereka gampang sekali dinodai. Terutama oleh pemeran antagonisnya. Pemeran kecil, mudah terhasut dan percaya begitu saja tanpa paham sebab dan akibatnya. Ujung-ujungnya, dipenghujung cerita mereka memang salah kaprah, lalu meminta maaf pada yang terfitnah.

Misal, dalam cerita si penjual kerupuk jengkol yang cantik nan baik hati. Ia difitnah oleh mantan bosnya saat kerja dulu, dengan alasan persaingan. Ia memang pernah bekerja di pabrik kerupuk jengkol milik bosnya itu. Ia keluar, karena si bos tua itu genit terhadapnya.

Kemudian si bos ini memerintah salah satu karyawan lelaki yang mememenuhi kriteria perjulitan tingkat tinggi. Ia juga bisa disebut si pemeran kecil sebenarnya. Si karyawan diimingi gaji tambahan, dengan cukup memberi fitnah pada warga tentang jengkol milik si gadis.

Maka mulailah si karyawan ini menyebar fitnah. Ia mendatangi beberapa warga yang kebetulan baru membeli kerupuk jengkol gadis cantik itu. Diceritakanlah bahwa kerupuk itu terbuat dari bahan yang tidak segar, yang bisa membahayakan mereka.

Benar saja, selang beberapa saat para pemeran kecil ini menyambangi rumah protagonis. Gadis cantik itu diserang habis-habisan dengan bekal informasi mirip warganet masa kini. Minim dan sok tahu. Mereka bahkan ingin usaha rumahan itu ditutup, kalau tidak mau diproses sampai bui.

Sungguh, mengapa mereka tak mau cari informasi, atau sekedar peduli pada siapa yang memfitnah tadi?

Alih-alih menerima begitu saja fitnahan itu layaknya protagonis Indosiar lain, si protagonis cantik ini justru mencoba membersihkan namanya. Ia dibantu adiknya, membuat demo cara mereka mencari jengkol segar hingga tutorial memasaknya. Percayalah mereka, pemeran kecil itu.

Singkat cerita para pemeran kecil ini akhirnya tahu siapa yang memfitnah penjual kerupuk jengkol cantik itu. Mereka memergoki dua orang yang hampir mau memberi ramuan berbahaya pada bahan jengkol mentah di rumah si gadis. Ternyata mereka adalah mantan bos dan karyawan tadi.

Kau tahu apa yang lucu? Salah satu pemeran kecil baru sadar, bahwa karyawan yang pernah memfitnahnya itu memang bekerja dipabrik sang bos antagonis. Disusul para pemeran kecil lain, yang juga baru menyadari kejanggalan itu.

Lah, kok bisa? Apa mungkin, satu kampung kena amnesia? Ataukah mereka kebelet benci, jikalau ada orang yang hampir sukses di kampungnya? Sebuah misteri yang sulit dipecahkan, susah juga dicerna.

Satu kasus lagi, yang ini agak sensitif. Pemeran kecil, yag berperan sebagai polisi. Bismillaah... semoga tidak ada somasi.

Dalam beberapa penayangannya, sering kali "polisi" dalam sinetron Indosiar ini gampang menangkap dan menindak lanjuti. Semua diproses atas dasar fitnah yang saya yakin orang awam pun tahu itu gimik belaka. Sayangnya, entah mungkin penjara di sana terlalu sepi, atau mungkin mereka gabut sendiri, polisi-polisian ini mudah saja menghakimi. "Kami menerima laporan bahwa anda blablabla, dan ini adalah surat laporannya." Begitu kira-kira kalimat yang sering keluar, beserta gestur yang jauh dari kata wibawa.

Saya tahu, mungkin itu hanya sebuah proses dari laporan saja. Tapi tidak begitu di sini. Baru saja beberapa hari, yang difitnah bisa bertahun-tahun masuk bui. Kasihan sekali.

Padahal pemeran polisi-polisian ini, tanpa sadar bisa mencemari nama baik polisi asli. Ya dipikir saja, masa polisi tidak mau mengayomi. Masa polisi memproses lalu memenjarakan tanpa bukti? Kan mustahil, ya? Asli.

Begitulah sekelumit para pemeran kecil ini. Dua kasus di atas bisa menjadi wakil dari sekian banyak kelakar yang sering digunakan pada sinetron Indosiar. Mestinya, kalau memang kehabisan ide, janganlah mengeksploitasi figuran seolah mereka gampang kena hasutan. Kualitas sinetron Indosiar bisa menurun dan tercemar. Semoga MKF membaca tulisan dari penggemarnya ini.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

6 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Wkwk duh indosear ini. Kembali lagi sih sama pihak channel tv nya. Kebanyakan ya gitu, orientasi mereka bukan soal karya yang aestetic lagi tapi sudah bergeser menjadi sistem kejar tayang, kejar profit.

    Beberapa channel tetangga, malah ada pula talkshow artis yg gk berkesudahan, atau film yg ngeliput kehidupan artis, hadeh :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menuhankan rating. Untung saya pernah mengalami menonton beberapa karya TV yang jauh lebih bagus dari acara" sekarang.

      Hapus
  2. Ini salah satu yg buat saya jengkel sebetulnya setiap kali nonton sinetron😅. Betul seperti kata kak Reski di atas, dan bahkan saya pernah baca langsung dari penulis yg bekerja di stasiun tv, khususnya penulis skenario salah satu sinetron, bahwa apa yg digarap di dunia sinetron skrg ini sebetulnya tidak ada proses panjang seperti memperhatikan porsi tiap pemeran yg dalam dan intens, sebab semuanya sistem kerja tayang. Jadi, kasarnya, kalau kapitalisme di dunia televisi masih ada, jangan harap dunia sinetron akan berubah menjadi seperti drama Korea atau serial Amerika yg selalu dibuat dengan sungguh2 dan logis.🤔

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahwah kesempatan yang sangat langka bisa membaca salah satu naskah karya fenomenal. Asumsi saya, naskah" yang sudah jadi merupakan daur ulang dari naskah" yang lainnya. Betul tidak?
      Padahal kalau para penulis naskah sudah niat membuat cerita, sebetulnya potensinya bakal jauh lebih bagus. Misal sinetron seri yang sering saya contohkan adalah sinetron Anak Kaki Gunung di SCTV. Itu salah satu sinetron terbaik yang pernah saya tonton. Sayang saja, rating membuatnya kurang dapat diminati.

      Hapus
  3. Betul, kurang lebih begitu😅 kalaupun ide ceritanya murni baru, mereka gak bisa lepas dari aturan-aturan atau etika penyiaran yang mana misalnya 'seorang protagonis dalam sinetron anu diharuskan selalu mengucapkan istighfar setiap kali tertimpa musibah, tidak boleh melawan", sehingga sering sekali jalan cerita sinetron mirip-mirip, karena gak ada kebebasan untuk penulis mengeksplorasi ide ceritanya. Sebetulnya mereka sendiri punya banyak cerita yg anti-mainstream dan "beda" dari sinetron biasanya, tapi naskah semacam itu nggak kepake. Sayang sekali potensi penulis-penulis skenario untuk drama seri di Indonesia sulit berkembang. Dulu pun ada drama seri yg tayang setiap hari Sabtu dan dipenuhi oleh artis-artis film ternama, judulnya Dunia Tanpa Koma seingat saya, tayang tahun 2006. Sayang ratingnya rendah sekali, padahal budget untuk buat sinetron tersebut besar sekali. Takut rugi inilah yg bikin produsen TV gak mau ambil resiko untuk 'berubah haluan'.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Dunia Tanpa Koma saya pernah lihat di salah satu layanan streaming, saya lupa namanya. Mau nonton tapi kuota takut jebol. Haha.
      Saya betul" berharap sih sineas Indonesia terutama di TV bisa mengembangkan cerita yang bukan itu" saja.

      Hapus
Lebih baru Lebih lama