Mengejar Popularitas Tanpa Otak

Tanpa otak
pixabay/mohamed_hassan

Sungguh di luar nalar dengan tingkah laku manusia-manusia semacam ini. Demi mengejar popularitas, apapun dijalani. Padahal sudah banyak contoh masa lalu, ketika melakukan hal diluar akal alias tanpa menggunakan otak, ujungnya masuk bui. Apakah jenis orang seperti ini memang sedikit punya peduli, bahkan pada dirinya sendiri?

Ya memang, ada beberapa dari mereka yang beruntung bisa gampang dimaafkan. Alurnya sama, setelah membuat kelakuan sampah, mereka ini akan segera meminta maaf di media sosial. Selepas itu hanya tunggu warganet luluh lalu memaafkan. Sederhana sekali menjadi populer di negeri ini.

Contoh, yang paling viral beberapa hari ke belakang—saya lebih suka menyebut hari daripada bulan. Seorang yang disebut You**ber, tega-teganya menghadiahi sampah dan bebatuan pada beberapa pejuang malam. Video tersebut tentunya viral, tidak mungkin tidak. Kebodohan macam ini punya pasarnya sendiri, punya konsumennya sendiri. Sang pelaku populer, dan yang jadi korban merasa dipermalukan lalu membuat laporan.

Selepas itu, macam pembersih nama yang cukup pantas didapatkan, si You**ber ini diberi pelajaran oleh para narapidana lain. Alhasil, dari yang awalnya terlalu banyak membenci, kini mulai memberi hati. Ia—kata orang—bertobat.

Kasus itu hanya sebagian kecil saja. Masih banyak orang tak mau bertanggung jawab lainnya, yang menunggu kelakuannya dilihat orang. Seakan tidak peduli sama sekali dengan hukum sosial. Seakan popularitas sudah jadi segalanya meski sudah tahu bakal mempermalukan dirinya sendiri.

Ada yang rela cari masalah di zebra cross, ibu-ibu joget di jembatan layang, berlaku tidak pantas di museum sejarah, dan kegilaan lainnya. Saya yakin mereka tahu itu perilaku buruk, tapi berusaha menutupinya saja.

Tidak bisa dibantah, popularitas tanpa otak yang hanya berlaku sesaat itu banyak penggemarnya. Sekalipun banyak warganet yang memberi ceramah, mereka tak mau pedulikan itu. Lagipula semakin banyak yang menghujat, maka semakin banyak pula perhatiannya. Itulah tujuan utamanya.

Don't make stupid people famous juga hanya sebatas kalimat kacangan yang ujung-ujungnya dilanggar juga. Tingkat rasa kepo masyarakat Indonesia jauh lebih tinggi derajatnya daripada istilah itu.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama