Anak Kaki Gunung, Serial SCTV yang Wajib Tayang Ulang

anak kaki gunung
Kompasiana.com


Semenjak hijrahnya salah satu rumah produksi, dari RCTI ke SCTV, saya jadi merasa jengah dengan perkembangan sinetron di stasiun ber-tagline "satu untuk semua" ini. Seperti jadi kehilangan ambisi akibat rating yang mungkin makin tipis. Padahal saya cukup percaya diri dengan stasiun swasta ini.

Dahulu kala, SCTV cukup dikenal dengan beberapa gebrakan baru soal konsep sinetron yang tidak terlalu monoton. Sebut saja beberapa di antaranya, Laskar Pelangi the Series, Sinema Wajah Indonesia (yang tayang tengah malam, padahal tidak ada kevulgaran yang serius, kecuali vulgar soal kritik), Para Pencari Tuhan, serta tentu yang akan saya bahas hari ini, Anak Kaki Gunung.

Alih-alih sibuk dengan gaya percintaan, beberapa contoh serial di atas jauh lebih berfokus pada bagaimana menggoreng beberapa fenomena lingkungan Indonesia. Kalaupun terpaksa bertema cinta, semisal Heart Series, SCTV masih memiliki kemauan untuk mengolah naskah agar tidak jadi mentah.

Kembali lagi menyoal Anak Kaki Gunung, serial ini sepantasnya memang diwajibkan tayang ulang. Bisa melalui kanal SCTV secara langsung, atau opsi terbaiknya melalui layanan streaming Vidio.com. Di manapun, yang penting tayang kembali.

Alasan terbesar mengapa saya seingin itu, karena jelas, LAYAK. Dari segi apapun, terlebih dalam hal mendidik dan juga menghibur. Paket komplit yang tidak banyak dimiliki sinentron di era serba budak cinta ini.

Saya masih ingat waktu itu. Bagaimana ketika saya dan adik satu-satunya, betah nangkring menonton Anak Kaki Gunung. Saya masih duduk di bangku MTS, sedang adik saya masih di Madrasah Ibtidaiyyah.

Kami berdua begitu khidmat menyaksikan empat bersaudara (Eliana, Pukat, Burhan, dan Amelia) beserta kedua orang tuanya yang kerap kali mendapati masalah. Mulai dari masalah warung kejujuran yang hampir tutup (mohon maaf kalau keliru, soalnya sudah terlalu lama), Eliana yang mendobrak batas soal wanita bisa azan, hingga masalah yang cukup rumit lainnya. Setiap segmen permasalahan, diatur sedemikian rupa agar tetap menarik dan sampai pada pemirsa usia muda.

Bahkan saya masih ingat, pada salah satu episode, adik saya sampai menangis karena tidak tahan dengan alur ceritanya. Saya lupa apa adegannya. Padahal saya yakin, tidak ada adegan putus cinta di sana.

Selain tentang cerita, karakter dan akting para bintangnya juga tak kalah ciamik. Di sinetron Anak Kaki Gunung ini, kamu akan dibuat gemas dengan tokoh paling imut, Amelia. Meski porsi akting yang dibintangi Tissa Biani Azzahra ini tak sebanyak kakak-kakaknya, tapi buat saya pribadi, Amelia bisa jadi tokoh yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Selain tokoh yang dibintangi Om Deddy Mizwar, yang pada akhirnya membuat kecewa. Alasannya nanti saja.

Akting anak-anak mamak ini juga begitu natural. Tidak terkesan menghafal naskah, chemistry yang dibangun cukup sempurna, serta bisa memahami karakter yang dibawakannya. Rasa-rasanya jauhlah jika dibandingkan dengan bintang cilik milik stasiun saudara dekat SCTV. Jauh sangat.

Buat yang tidak begitu paham dengan apa yang saya bahas di atas, mungkin tautan di bawah ini bakal lebih jelas dipahami:


Silakan baca saja, saya tidak akan sakit hati.

Sebagai penutup, dari hati yang paling dalam, bila tulisan ini sampai ke pihak manapun yang berkepentingan dengan sinetron Anak Kaki Gunung, tolong dengarlah keinginan saya ini. Anak Kaki Gunung adalah momen langka pertelivisian Indonesia khususnya dalam karya sinema televisi, yang mampu menyajikan tontonan sekaligus memberi tuntunan. Saya yang untungnya cukup tahu ceritanya sampai tamat, menginkan Anak Kaki Gunung tayang kembali. Berikanlah kesempatan buat anak muda zaman dulu yang terlewatkan waktu, sampai anak muda masa kini yang sama sekali tidak pernah tahu supaya bisa menikmati karya bermutu. SCTV, saya sedang memujimu.

Iya, iya... Saya tidak lupa. Kenapa saya kecewa dengan kehadiran Om Deddy Mizwar di sinetron ini? Karena... Spoiler alert! Beliau hanya... muncul di episode-episode akhir saja. Benar-benar singkat, dan mengecewakan. Selain Amelia, saya sering kali penasaran dengan kemunculan idola saya ini. Saya pikir, kehadiran beliau akan menambah kerumitan cerita. Pada kenyataannya, tidak. Om Deddy bisa dikatakan memang hanya sekedar bintang tamu lewat saja.

NB: Bagi yang penasaran dengan sinetron ini, kamu bisa menonton beberapa cuplikannya di kanal YouTube milik Pak N. Nofi Satera. Kalau tidak salah, beliau adalah sutradara dari sinetron Anak Kaki Gunung ini.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

4 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Waaah, mantepp ini. Seperti nya mas nya pemerhati sinetron ya hahaha.
    Aku udah lama ga nonton tv. Di rumah, tv udah disimpen hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah gabut, saya bisa nonton TV seharian penuh. Hehe.

      Tidak terlalu memerhatikan sih, tapi cukup kepo dengan perkembangannya.

      Hapus
    2. Kereeen, mas. Lanjutkeun :D

      Hapus
  2. duh ku kira aku doang dengan adik dan orang tua ku yang kecewa kenapa sinetron ini di berhetikan,padahal jelas jelas di setiap eps mengandung pesan moral yang banyak, sekitar 9 tahun yang lalu saya masih SD pada saat itu, ingin sekali sinetron ini di putar ulang 😭😭

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama