Kala, Tragedi Berdarah Demi Harta Presiden Pertama

film kala

Apakah kalian pernah mendengar atau membaca mengenai harta rahasia presiden pertama Indonesia. Kalau iya, maka film Kala sangat pas jadi rekomendasi tontonan buatmu. Film bergaya noir ini bisa menjadi referensi tentang bagaimana sebenarnya mitos tersebut berkembang di kalangan masyarakat hingga beberapa petinggi yang memercayainya. Tragedi-tragedi berdarah di balik itu semua juga bakal membuatmu sadar, kamu tidak boleh tahu terlalu dalam tentang harta itu. Atau, kamu tidak akan selamat.

Film yang tayang pada tahun 2007 ini disutradarai serta ditulis langsung oleh sutradara kawakan, om Joko Anwar. Tentu, setelah mendengarnya kamu pasti makin tak ragu menghabiskan beberapa ratus mb kuota internetmu, untuk menonton film kualitas tinggi ini.


Abstrak

Janus (Fachri Albar) merupakan seorang jurnalis yang kehidupannya semakin hari semakin buruk, akibat penyakit narkolepsi yang dideritanya. Penyakit yang akan membuat penderita tertidur, jika ia terlalu kelelahan atau cemas berlebihan. Istrinya, Sari (Annisa Nurul Shanty), terpaksa mengurus keinginan bercerai karena Janus sering tertidur saat akan berhubungan intim. Saat sedang ingin mewawancarai seorang ibu hamil yang kehilangan suaminya karena dibakar hidup-hidup, ia pun tak berhasil mendapatkan apa-apa. Hanya rekaman suara saja yang ia terima, dari type recorder yang disembunyikan di pot bunga. Sayangnya hal tersebut seakan tak berguna, setelah ia mendapat kabar bahwa ia dibebastugaskan oleh atasannya.

Kemalangan yang menimpa Janus tak sampai di sana. Rekaman suara yang didengar bersama seorang temannya, justru mengantar lelaki itu pada sebuah kasus yang jauh lebih besar. Rekaman itu menyimpan informasi rahasia tentang sebuah harta peninggalan presiden pertama. Pada mulanya ia tidak tahu tentang semua itu, bahkan hingga hampir film ini selesai. Ia juga tidak mengetahui soal fakta gila, bahwa informasi itu hanya boleh ada satu orang saja yang tahu. Lebih dari itu, maka satu di antaranya harus mati.

Film Kala tak hanya berfokus pada Janus saja. Eros (Ario Bayu), merupakan seorang polisi kota yang mampu keluar dari sistem buruk kepolisian. Meski pada kenyataannya ia adalah homoseksual, tapi jika soal hukum negara, tidak ada siapapun yang bisa menghakiminya termasuk atasan sekalipun. Dibantu oleh sahabat dekatnya di kepolisian, Hendro Waluyo (August Melasz), ia berjuang keras untuk mengusut tuntas kasus pembakaran seorang lelaki di kotanya. Eros merasa kasus tersebut sangat aneh dan terlalu banyak hal-hal yang dibungkam. Bahkan, saat hendak memberi tahu sang atasan, informasi Eros malah ditolak mentah-mentah dan dilarang terlalu banyak menginvestigasi kasus itu. Namun seperti yang sudah dijelaskan, Eros justru terus melanjutkan kasus ganjil tersebut.

Film Kala akan mengajakmu mengusut tuntas kasus misteri harta karun presiden pertama, melalui dua sudut pandang yang berbeda. Janus dengan kehidupan kelam dan nahasnya, kemudian Eros dengan sisi tegasnya menindak sebagai seorang polisi kota. Dua karakter ini kemudian akan bertemu pada sebuah benang merah, bahwa sejak awal merekalah orang itu. Apa maksud dari "orang itu"? Kamu akan menemukan jawabannya setelah kamu tonton film ini hingga akhir.

Plus (+)

Gaya noir memang lumayan asing buat saya. Sebelum saya memutuskan mencari tahu gaya apa yang diterapkan di film Kala ini, saya hanya tahu bahwa film ini bergaya film kriminal Hollywood klasik. Seperti film-film mafia ala Godfather, atau film detektif semisal Sherlock Holmes. Dua film tersebut juga pernah saya tonton melalui tayangan di televisi. Tentu, siapa yang tidak suka dengan 2 film yang saya sebutkan itu?

Dalam sejarah perfilman Indonesia, film Kala juga disebut sebagai film bergaya noir pertama dan menjadi pelopor perkembangan film Indonesia yang sering begitu-begitu saja. Kala sangat berhasil mengemas gaya tersebut, memadukannya dengan cerita mistis dan mitos yang cukup ramai berkembang di masyarakat, serta menjadikannya film paket lengkap.

Saya bisa merasakan ketegangan di setiap bagian cerita, meski tanpa adanya unsur baku hantam di dalamnya. Kala hanya butuh mengemas ketegangan itu melalui gaya bercerita lugas dan dialog bahasa yang tegas. Di satu sisi, sifat kemanusiaan yang sering terjadi di kalangan masyarakat biasa juga disampaikan dengan cukup padat dan saya bisa memahami hampir keseluruhannya. Keangkuhan serta ketamakan ala penguasa, terasa sekali di film Kala ini. Bahkan kamu masih bisa merasakannya sampai era kepemimpinan yang sekarang kamu hadapi. Bagaimana sifat kemanusiawian masih sangat langka ditemukan, bahkan pada orang yang dianggap baik sekalipun.

Gaya bahasa yang dipilih cenderung lebih baku, tak membuat dialog antar karakter jadi kaku. Justru bahasa baku yang digunakan berhasil menegaskan bahwa beginilah gaya noir ala Hollywood itu, dan om Joko Anwar bisa melakukannya. Bahkan melalui opsi ini, film Kala berhasil menyabet penghargaan khusus dari Festival Film Indonesia sebagai film berbahasa Indonesia terbaik. Keren!

Sebagai film dengan paket lengkap, tak asyik rasanya jika tidak membahas latar musik dan sinematografi di dalamnya. Meski saya tak cukup paham soal selera musik, tapi kuping dan otak saya masih sangat baik untuk mengetahui mana musik yang enak didengar dan mana yang tidak. Dalam film Kala, perpaduan antar musik dan sinematografi cukup menjanjikan dan bisa saling melengkapi. Jarang sekali saya menemukan hal-hal yang mengganggu penglihatan serta pendengaran saya. Sudah sangat nyaman buat ditonton pokoknya.

Tidak lupa juga, beberapa plot twist menambah kemenarikan film ini. Detail-detail kecil seperti memilih penyakit narkolepsi untuk diderita Janus, sungguh sangat masuk akal. Penyakit tersebut bakal menjadi alasan mengapa harus Janus, di babak akhir cerita.

Minus (-)

Hanya satu hal—menurut saya—yang cukup bisa mengganggu kenyamanan menonton. Ialah elemen CGI atau partikel-partikel yang melibatkan green screen di dalam filmya. Untung saja, film ini produksi tahu 2007, jadi setidaknya penonton bisa sangat memaklumi kejanggalan itu. Tapi, tapi, om Joko Anwar sepertinya masih agak kewalahan dengan efek CGI bahkan hingga saat ini, di beberapa filmnya. Ya... Sebetulnya saya agak sedikit kurang peduli, kalau yang menyutradarai film itu om yang satu ini.

Skala angka

  • Cerita: 10/10
  • Atmosfer: 9,8/10
  • Akting: 9,9/10
  • Audiovisual: 9,7/10
Sejujurnya saya sangat ingin memberikan nilai 10 untuk keseluruhan skala angka film ini, kalau efek yang saya sebut tadi bisa ditata lebih rapi lagi. Meski memang film ini adalah film jadul, hal tersebut tetaplah jadi kekurangan buat film Kala. Maka, skala angka keseluruhan film Kala adalah 9,9. Yap, saya sangat suka film ini.

Itulah riviu film Kala. Apakah kamu setuju, atau ingin menyanggah? Mari diskusi di kolom komentar. Penasaran dan pengen banget nonton? Kamu bisa menontonnya secara gratis di aplikasi Iflix. Link download aplikasinya bisa kamu klik di sini.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

4 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Wah, aku pernah baca nih novel yang mengangkat cerita gini dan baru tau kalo ada filmnya meskipun udah lama banget ya tahun 2007. Menarik banget buat ditonton. Makasih banyak sarannya ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ada novelnya juga toh? Saya baru tahu 😅. Sama-sama ngasih saran, makasih juga.

      Hapus
  2. film jadul tapi saya belum nonton. cari, ah ...

    BalasHapus
  3. Wah saya kemana aja kok baru taunada film indonesia sekeren ini? 😁 Dr segi jalan cerita yg mengangkat tema harta presiden pertama, plus dg gaya noir. Jd penasaran pengen nonton jg

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama