Ketika Tuhan Menegurku

Ketika ufuk memangsa tumpukan awan jingga, kedua tanganku bergetar hebat. Jari jempol yang sedari pukul dua belas siang menyusun kata-kata, kaku, disengat duka manusia. Aku, dalam teguran Tuhan.

Padahal ungkapan di titik terdalam hati, sudah sangat halus dan pasti diberkahi. Pikirku. Kalimat-kalimatnya berbunyi, "Bank tengah rakus menggerogoti nasib Mak bapak, dan aku hari ini mau meringankan mereka."

Aku memutar pikiran, tentang bagaimana membusungkan dada dari sebuah cobaan. Memberi sedikit cinta serta senyuman. Buat dua orang tua yang semestinya sedang menikmati kebahagiaan. Dari anak keempat, yang masih saja betah dengan titel si pecundang beban.

Mencari lowongan kerja di setiap aplikasi pemasok calon pekerja. Hasilnya nihil, satupun belum ada menerima. Perlu pengalaman beberapa tahun, dan pendidikan yang tinggi, katanya.

Lalu, sebuah keputusan yang sejatinya dulu pernah terpikirkan, muncul kembali. Menjadi penjual barang di sosial media, tanpa modal tinggi. Hanya internet, dan nyali menghadapi pembeli.

Kukira, niat dan cara mengais rezekiku akan sangat mulus siang itu. Bahkan aku sempat beberapa kali disambangi beberapa pembeli. Kebanyakan memang hanya bertanya kemudian pergi. Tapi itu saja sudah sangat berarti. Aku hanya butuh semangat atas diri sendiri, rajin berbagi barang dengan kualitas tinggi.

Ternyata Tuhan masih "memusuhiku", bahkan pada niat baik. Puluhan barang yang diharap bisa jadi syariat, raib dibawa alasan yang lupa kumengerti. Atau memang, raib dibawa Sang Maha Kuasa dengan segala tegurannya.

Alasan kedua, meski sedikit jauh dari logika, lebih kupercaya. Aku masih belum pantas menagih bagianku, dalam keadaan Tuhan tak sering lama bersamaku. Tuhan memang sedang menegurku.

Satu jam sebelum magrib melantangkan suara azan, seluruh tubuh rubuh. Amarah hampir saja membuat gaduh. Beberapa saat, kaca jendela membeku. Memberi beberapa tetes keluh. Tak sempat kubasuh.

Tuhan, sedang menegurku,
Tuhan, sedang menegurku,
Tuhan, sedang menegurku,

Kalimat itu terus kuulangi dalam sesak di dada. Meski kadang amarah berujar, "lihat, Tuhan tak pernah menyayangimu! Kembali bencilah Ia!"

Untung saja, beberapa tahun lalu, kami bersepakat. Aku mau selalu dalam pelukan-Nya, meski kadang-kadang selalu meludah di sembarang tempat.

Aku tahu, Tuhan masih mau menegurku. Ia selalu akan begitu. Tak bosan, doakan, semoga aku baik-baik saja.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama