Sadar, lu emang belum pantes, bahkan nggak pantes sama sekali. Jangan banyak berharap, Day. Udahlah...
Itulah monolog dalam hati, yang sempat berpentas kemarin hari. Sakit hati di ludahi perasaan sendiri? Tidak, tidak sama sekali. Justru malah lebih efektif jadi alasan pergi. Menyadari sendiri memang begitu. Seru, tanpa harus sembap di pipi dulu.
Kamu juga pernah, atau malah sering melakukannya bukan? Menyadari diri sendiri. Dan tentu saja, tak pernah sekalipun merasa sakit hati juga. Toh, diri sendiri yang melakukannya.
Kalau saja yang menyadari dirimu adalah orang lain—sekalipun ibumu—bisa jadi kamu diserang rasa benci. Benci dengan ucapan yang tak sopan, datang menghardik. Sok paling ngerti gue aja!
Entah bagaimana bisa berbeda. Padahal kalimat dan sudut pandangnya sama dengan apa yang perasaanmu katakan. Tapi tetap saja, disadari diri sendiri itu lebih bisa membuatmu yakin, bahwa dirimu memang salah waktu itu.
Asumsiku, kedekatanlah yang menjadi penyebabnya. Kamu telah mengenal lama kamu sendiri. Mulai dari bagaimana kamu bahagia, apa masalah yang sebenar-benarnya kamu dapatkan, siapa yang paling kamu benci, dan sebagainya. Mungkin, itulah alasan kamu bisa kuat, dicaci maki perasaan sendiri.
Maka kupikir, lebih baik kamu utamakan saja omongan perasaanmu sendiri. Sejahat apapun, kamu tak mungkin sakit hati. Daripada mendengar mereka, yang alih-alih menyembuhkan, malah menambah luka.
Jadi, maukah kamu menyadari sendiri hari ini? Segera lakukanlah, sebelum ada orang kedua yang melakukannya.
Lah, kok orang kedua? Orang pertamanya siapa?
Maka kujawab, "kamu sedang membaca ini, dan kamu tahu jawabannya."
Udah.
Another link:
DONASI VIA TRAKTEER
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi yang diberikan, akan digunakan untuk keperluanwww.nandarir.com. Terima kasih.






memang benar cambuk paling memotivasi justru datangnya dari diri sendiri...kalau orang lain yang lontarkan entah kenapa jatuhnya membuat hati terluka u la la hahhahah
BalasHapus