h2amzOiq2Tn9rmGhajOa165fMKwBqbFxQjYwl3bC

Cocokologi Punya Iphone Sama dengan Kaya Raya

punya iphone

Cocokologi punya Iphone sama dengan kaya raya — Menjadi kaya raya memang telah menjadi idaman sebagian besar umat manusia di bumi ini. Memiliki uang jajan delapan digit per hari, diantar jemput lamborghini, punya acara seminar sendiri, dan kegiatan ala sultan lain yang cukup gesek kartu kredit langsung bisa digapai. Siapa yang tidak mau?

Rakyat menengah ke bawah berlomba-lomba mencari cara, untuk mendapat gelar "terhormat" sebagai kaya raya. Punya Iphone sebiji, di antaranya. Betul sekali, Iphone sudah dianggap sebagai legitimasi paling mujarab untuk mendapat perhatian kaum yang juga sama-sama miskinnya. Seolah-olah produk Apple tersebut jadi stempel wajib supaya diakui sultan wilayah.

Fenomena tak masuk akal itu entah siapa yang memulai. Tapi yang pasti, perilaku flexing tersebut kebanyakan datang dari TikTok. Sosial media yang memang selalu tidak kehabisan tren-tren aneh dan mengerikan.

Apakah pamer Iphone jadi salah satu tren mengerikan? Tentu saja, bisa jadi. Kenapa bisa jadi? Karena tindakan flexing memang akan selalu memunculkan perdebatan tersendiri. Di satu sisi orang menganggap hal tersebut terlalu mengarah pada kesombongan dan riya, tapi di sisi lain itu hanya sebatas mengungkapkan kebahagian atas capaian yang diterima.

Tapi, jika menganggap Iphone adalah ciri "kesultanan", sepertinya itu yang terlalu berlebihan.

Iphone itu masih terlalu murah buat mereka yang jelas kaya raya. Makannya, kita jarang sekali menemukan para crazy rich beneran yang pamer Iphone keluaran terbaru, merekam dirinya sendiri yang memantul di kaca lemari baju.

Semua itu lebih banyak datang dari kita-kita, kaum menengah ke bawah. Berceloteh di depan cermin, menyalakan kamera Iphone kebanggaannya, bermaksud menyinggung manusia-manusia yang hanya mampu membeli ponsel Android.

Saking ngebetnya bikin konten pamer Iphone, banyak pula yang rela merogoh kocek cukup dalam, hanya demi bisa menyewa produk Apple tersebut untuk satu hari saja. Harga sewanya bisa ratusan ribu, dan banyak yang mau. Padahal tak perlu-perlu amat.

Tapi kan kebahagiaan orang beda-beda, ya udahlah biarin aja!

Ya memang, kebahagiaan orang lain tidak bisa dicegah. Tapi pasti ada batasannya. Lagipula, bukankah sebaiknya kebahagiaan itu dinikmati sendiri, tanpa harus memberi omongan menyinggung dengan nada merendahkan yang lain?

Serius ya, siapa yang menganggap pamer Iphone adalah sesuatu yang keren, dijuluki kaya raya dan wajib mendapat standing applause? Justru kelakuan aneh itu sering mendapat respon jelek. Kuno, kekanakan, terpantau riya.

Kalau memang sudah mampu membeli Iphone, silakan nikmatilah sendiri tanpa harus merendahkan orang lain. Gunakan selayaknya ponsel kebanyakan. Carilah manfaat yang lebih berguna di dalamnya, daripada harus bikin video cacian di sosial media.

Malu lah… sama bos BCA yang sempat viral karena makan di tempat biasa. Beliau dengan kekayaannya, masih bisa berpikir logis tentang bagaimana hidup seperti manusia beradab. Apakah beliau pernah fyp karena meledek orang di depan cermin?

Membeli  Iphone kemudian pamer di media sosial, sah-sah saja. Tapi sekali lagi, tidak perlu membuat narasi seolah hal tersebut bisa dianggap sebagai syarat sah kaya raya. Apalagi sampai menyinggung orang. Rendah hatilah, syukuri segala titipan yang Tuhan berikan padamu, sebelum ia menjadi saksi di akhirat nanti.

Dukung Via SAWERIA Jika artikelnya dirasa bermanfaat, kamu bisa traktir saya dengan mengeklik lambang hati di sebelah kiri. Semaunya saja, gak maksa. Semua traktiran, akan digunakan untuk kemajuan blogwww.nandarir.com. Terima kasih.
Baca Juga
Nandar IR
Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Mungkin Kamu Suka

1 komentar

  1. Saya mah gak mau pakai Iphone karena gak ngerti pakainya dan kemahalan

    BalasHapus
Hai! senang bisa mendapat komentar darimu. 😊
Sok, kasih kritik maupun saranmu buat blog ini. Jangan nanggung, hajar aja!