Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Cerpen Horor 'Buram' | Kumpulan Cerpen Laung #2

Gambar
Cerpen Horor 'Buram' Dari: Nandar IR "Pak, Bu, Bangkit pergi ngampus dulu ya. Dah..." Sialan, dua bulan lebih seminggu mereka mendiamkanku. Padahal aku mencoba untuk sopan santun, hormat pada orang tua, mencontoh kakak perempuanku. Dan kau tahu, dia juga mendiamkanku. "Hmh, sikap sopan katanya." Nyinyirku. Selama dua bulan ini sebenarnya aku tak pernah masuk kampus. Kupikir buat apa, toh nanti aku juga bisa makan gratis. Kalau sudah waktunya. Lebih baik aku pergi ke markas rahasiaku, bersama Tarma sahabatku dan dua pacarku. Ya, kau tidak salah dengar, dua. Gilanya lagi, mereka selalu akur. Aku memang karismatik. Gampang menaklukan wanita, tinggal pilih, langsung tembak. Selesai. Markas rahasiaku agak jauh dari permukiman, apalagi dari kampusku. Jauh sekali. Tempatnya cukup terpencil. Tapi karena itulah aku menyukainya. " Guys , gimana kabar kalian? Sehatkan?  Sorry  gua telat. Biasalah, ngurus yang lain. Sembunyi dari amukan warga. Haha." Kusapa me...

Puisi 'Buat Kritikus Magang' oleh Nandar IR

Gambar
Puisi ini, ya buat siapa lagi? Buat "freelencer" yang tulisannya manas-manasin rakyat, adu domba bangsa. pixabay.com/agitatus Puisi 'Buat Kritikus Magang' oleh Nandar IR Buat kritikus magang, tutup telingamu sekarang Sampai kalimat terakhir selesai dikarang Ketahuilah penyebab tulisanku menggebu nafsu Sebelum kamu mau menyerang balik menekan bahu Jangan terburu-buru berceloteh mengulum mulut bau Takutnya salah seperti biasanya lalu tunduk malu Kritikus magang, kisahmu dimulai sejak kolom komentar sosial media berkembang Belum juga tulisan, tayangan itu usai, kamu sudah langsung bersitegang Pegang ponsel, membiarkan kedua jempolmu asyik bergoyang Otak sudah tak waras dibiarkan mengolah ratusan frasa asal datang Tidak tahu malu keluarkan jurus jitu, data-data palsu Padahal aku tahu kamu bahkan tak punya satu bukupun di lemarimu Baca selembar diperpustakaan saja kamu geleng-geleng tak mau Sedangkan kamu pernah sindir lawan debat mayamu, "kamu kurang ilmu, jangan sok...

Groningen Mom's Journal, Kisah Ibu Muda yang Masih Punya Cita-cita

Gambar
Sepanjang sejarah saya membaca buku, Groningen Mom's Journal adalah buku bergaya catatan harian pertama yang saya baca. Betul, kalimat itu bukanlah ungkapan manis buat menyenangkan sang penulis semata. Meski tidak bisa disanggah, bahwa buku ini memang saya dapatkan dari event 1minggu1Cerita (1M1C)  yang hadiahnya buku, yang diberi langsung oleh Mbak Monika Oktora (website beliau, bisa kamu kunjungi di monikaoktora.com ). Maka tak berlebihan jika kiranya saya terlebih dahulu mengucapkan beratus ribu terima kasih, kepada 1M1C, terkhusus Mbak Monika Oktora yang sudi membagikan satu bukunya pada anak kampung yang gegayaan punya blog ini. Iya, kalem, saya juga berterima kasih kepada kalian, para member 1M1C, yang bersedia memberikan vote- nya buat tulisan saya yang berjudul: Dari Terpaksa Muncul Rindu yang Tak Biasa . Tanpa kalian, buku ini tidak mungkin saya dapatkan dan saya berikan ulasan. Kembali lagi ke garis bahasan. Sebenarnya membahas apa sih, buku Groningen Mom's Jurnal in...

Creaker, Kejutan yang Berakhir Mengerikan | Film Horor

Gambar
Youtube/Alter Setelah sekian lama tidak membahas film pendek horor lagi, malam ini Ruang eNIeR akan kembali membahas film horor pendek dari kanal YouTube favorit saya, Alter. Film yang akan dibahas malam ini ialah film pendek horor yang berjudul " Creaker " Sebab ceritanya sangat simple, mudah dicerna, serta hanya berdurasi 3 menit saja, maka riviu kali ini juga akan begitu singkat. Langsung saja, mari kita masuk! Spoiler Warning! Tulisan ini membahas alur ceritanya juga. Silakan scroll ke bawah untuk menonton dulu filmnya. Alur Seorang gadis remaja tertidur di kamar tidurnya. Beberapa saat kemudian, pintu kamar yang di punggunginya berderit terbuka perlahan. Sesuatu yang sangat mengerikan, mengingat saat itu hari sudah malam dan beberapa kali petir menggelegar. Gadis tersebut peka, derit pintu itu menggga ggu tidurnya. Ia gadis pemberani. Ia bangun, menyalakan senter, lalu mengarahkannya ke ruang gelap di pintu kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di sana. Belum juga selesai deng...

Musikalisasi Puisi, dan Pengertian yang Sebenarnya

Gambar
Musikalisasi puisi. Setiap kamu mendengar frasa tersebut, tentu kamu (kebanyakan) langsung berpikir, "membaca puisi dengan diiringi musik." Tapi benarkah pengertian tersebut demikian? Sebelum membahas lebih jauh, mari kita kupas dulu makna sederhana dari kedua kata tersebut. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Bahasa Indonesia),  musikalisasi adalah hal menjadikan sesuatu dalam bentuk musik . Apakah dari makna ini saja kamu sudah mulai mengerti atau paham? Yap, benar sekali. Jika kita mau memaknai musikalisasi puisi ini ke dalam konteks makna musikalisasinya, maka puisi yang akan kita buat haruslah dijadikan sesuatu dalam bentuk musik. Artinya puisi tersebut sebetulnya harus dialih wahanakan menjadi lagu. Namun apakah benar seperti itu? Sekarang coba kamu buka KBBI di ponselmu lagi, bisa melalui aplikasi resmi maupun daring. Mari kita cek atau cari makna  musikalisasi puisi  secara utuh, siapa tahu ada. Baik, ternyata ada. Coba kamu baca dan pahami baik-baik. Apakah KBBI men...

Jaringan Lelet! Sabar, Pasti Ada Hikmahnya

Gambar
Tulisan ini akan membahas tentang jaringan lelet. Tentu, terdapat banyak ketidakpentingan bagi pembacanya. Silakan tinggalkan saja jika tidak mau membuang-buang waktu. Tapi jika kekeuh mau baca, saya bisa apa. Tadi, sekitar pukul setengah tiga, saya sedang asyik bermain game moba online . Yang namanya online , pasti wajib punya jaringan bagus. Kalau bisa sempurna. Agar ping di gim bisa tetap hijau dan tidak patah-patah. Sialnya, saat itu—saat bermain gim—sinyal saya mendadak merah. Jaringan lelet. Pingnya tidak main-main, hampir 300ms. Akibatnya keasyikan bermain gim jadi terganggu. Dari ketidakberuntungan itu, datanglah masalah lain yang lebih pelik. Sumpah serapah tertulis dalam kolom chat gim. Memaki-maki, sampai bawa kelamin. Makian di gim daring sudah sangat biasa buat para pemain, termasuk saya. Dan kadang kala saya juga suka memaki juga. Hehe, manusia memang tidak selamanya baik. Saya sendiri mencoba berasumsi. Mungkin ada pemain yang melakukan cheat terhadap jaringan saya. Me...

Cerpen 'Dear Diary' | Kumpulan Cerpen Waktu #2

Gambar
"Assalaamu 'alaikum... Bagaimana kabarmu?" Sebuah kalimat pembuka masuk ke pesan  facebook  ku sore ini. Pesan dari lelaki paling kukagumi. Lelaki yang sebenarnya sederhana, namun memiliki karisma buat dicinta. Ialah rasa sayang yang tak perlu alasan mengapa harus dikenang. Lelaki paling pendiam namun memiliki banyak pengagum. Lelaki itu masih belum selesai dengan kedatangannya yang mendadak, ia masih mengetik. Membius kedua jempolku untuk sejenak menunggu. "Maaf, aku baru tahu tentang dirimu. Tapi aku bukan tak tahu siapa kamu, hanya saja, aku malas tahu soal ini. Perasaanmu, dulu, padaku." Tubuhku menghangat membacanya. Darimana ia tahu soal ini? Sesaat aku malu. Cinta dan perasaan yang sengaja kupendam selama beberapa tahun ini, kini ia tahu. Entah siapa yang lancang membicarakan itu padanya, aku akan sangat berterima kasih. Aku memang sudah sangat lelah memendam ini. "Bagaimana kakak bisa tahu?" Aku tak cukup pandai memahat kata sepertinya. Hanya k...

Memahami Sisi Positif dari Depresif

Gambar
psycom.net Beberapa tahun yang lalu, sejak saya kehilangan satu-satunya orang yang bisa dipercaya, saya sempat mengalami yang namanya depresi berat. Depresi yang entah apa bahasa psikologinya, yang jelas itu membuat otak terasa gampang panas. Apalagi beberapa masalah trauma masa lalu belum juga selesai (jika sudi memahami beberapa trauma itu, kamu bisa mengunjungi Nandar IR lebih dalam). Parahnya lagi, efek depresi itu menjalar ke segala penjuru arah. Dari ketidakpercayaan akan kekuasaan Tuhan, hingga beberapa kali sempat mau mengakhiri saja kehidupan. Dulu, siapa yang peduli soal depresi di lingkungan saya? Tidak ada. Hanya, ya... itu, yang meninggal tadi. Apalagi jika bercerita soal trauma di zaman yang " open minded " ini, banyak kemungkinan yang akan terjadi. Salah satu dan kebanyakan terjadi adalah, "ya sudah, lupakan saja. Bangkit jangan biarkan terkurung." Iya, saya paham, seberat apapun masalah, akhirnya ya harus tetap bangkit. Tapi sebelum memberi saran de...

Puisi 'Bahtera dan Sebuah Dosa' oleh Nandar IR

Gambar
Puisi bahtera dan sebuah dosa ini tercipta atas kegaduhan alam pikiran yang sering kali mengingatkan kekacauanku sebagai manusia. Selamat merenungi nasib-nasibmu. Unsplash/Zoltan Tasi Bahtera dan Sebuah Dosa oleh Nandar IR Aku telah kehilangan bahteraku kini Terdampar di sebuah tempat tak bernyawa Menghilang dari setetes tinta masa muda Pada waktu itu aku menabur janji padamu Saling mencengkram kuat menyusuri tiap-tiap kalbu Mendekap merasakan robekan kertas yang kulempar bersama tangismu Hari itu jadi cercaan buat kebodohan dialunkannya satu lembar kemuliaan Ibu dari tubuhku, Sudikah engkau menaruh secarik lagi dengan hitam indah menakluk bumi Ibu dari tubuhku, Barangkali aku mau berjanji lagi menebus dosa kemarin dan nanti Aku mau tidur dulu kemudian bangun pada masa baru bersama Tuhan yang sudi menjengukku Puisi ini pernah terbit di IDN TIMES dengan judul [Puisi] Bahtera dan Sebuah Dosa  karya saya sendiri.

Pak Terawan Bukan Anak Ingusan

Gambar
YouTube/Najwa Shihab Disclaimer: tulisan ini pendek dan klise. Serius. Beberapa hari yang lalu, bahkan sampai tulisan ini terbit, Najwa Shihab berhasil menggetarkan jagat sosial media Indonesia. Perempuan yang sering dipanggil Mbak Nana ini, bermonolog dengan kursi kosong di kanal YouTubenya. Kursi itu, seperti yang sudah kita tahu, seharusnya diisi oleh menkes kebanggaan kita, yakni Pak Terawan. Salah seorang yang sangat berandil besar terhadap penyelesaian wabah yang masih belum juga berakhir di negeri ini. Namun, satu hal yang berhasil menggelitik uluh hati saya bukan lagi soal monolog mbak Nana itu. Saat ini sudut pandang saya jadi teralihkan pada sebuah tweet—tentunya di Twitter—yang menyebutkan bahwa kasus mbak Najwa Shihab terhadap Pak Terawan adalah kasus perundungan. Lah, kok bisa? Saya saja yang awam psikologi, apalagi soal syarat dan ketentuan perundungan atau bully saja sampai kebingungan. Masa iya Mbak Nana membully Pak Terawan? Bahkan ada yang sampai membawa-bawa perasaan...