Kembali ke Radio | NGOBROL #2

Baru-baru ini—sekitar lima hari yang lalu—saya iseng menyetel layar televisi, ke mode radio. Rutin setiap pagi, saat sedang rajin bersih-bersih. Bosan dengan acara televisi yang begitu-begitu saja. Ghibahin artis, sinetron dengan cerita salin tempel, berita koruptor yang sering ditutupi isu selebriti, dan itu saja setiap pagi.

Maka ya sudah, saya coba kembali ke hiburan format lawas. Mendengar radio.

Kesan old school memang begitu terasa. Bahasa penyiar yang semi formal, intro yang gak jauh beda seperti dulu, juga suara kresek-kresek saat mengatur frekuensi khas radio punya.

Sebagai media hiburan di saat santai, rasa-rasanya sudah cukup.

Ada sedikit perbedaan sebetulnya, yang membuat saya merasa kehilangan. Sesuatu yang hanya bisa dimengerti pendengar radio Tasikmalaya, khususnya pendengar anak muda. Ialah Warna FM, yang di era ini seperti kehilangan gaya anak mudanya.

Sebagai info saja, dulu Warna FM memang begitu ceria dengan kesan mudanya. Para penyiar rata-rata usia delapan belas tahunan. Pembawaan mereka saat bersiaran, membuat saya dan mungkin pendengar muda lainnya, semakin betah berlama-lama.

Saya masih ingat juga, setiap selesai lagu ketiga, kira-kira, Warna FM selalu memberikan info menarik yang orang-orang tak sangka. Misalnya, yang paling saya ingat, adalah fakta bahwa manusia tidak bisa menjilat sikunya sendiri.

Ada yang baru tau? Coba deh, jilat aja kalau bisa.

Warna FM jadi radio paling pertama disetel. Saking favoritnya, saya masih ingat frekuensinya. Warna FM pernah bersiaran di frekuensi 94.5 sebelum akhirnya pindah ke 100.4 FM. Keren gak?

NGOBROL LAGI: Gimana Sih, Jatuh Cinta yang Bener?

Kemudian, ketika saya kembali mendengarkan radio, Warna FM jadi berbeda. Setiap pagi, bukannya teteh dan aa yang bersahut, justru malah musik pop sunda yang menyambut. Bukannya tidak senang, hanya saja merasa kehilangan. Saya paham, anak muda sekarang lebih senang dengan hiburan yang ada visualnya daripada cuma suara. Kalaupun ada, paling masuk spotify, dengerin musik maupun podcast.

Oke, sudahi mengenang masa jaya Warna FM.

dengerin radio
Mohon maaf gambarnya keliatan horor.

Radio di era modern, masih asyik didengarkan, kok. Malah lebih asyik dari podcast. Ini selera saya, jangan dulu didebat.

Penyiar radio juga masih seasyik dulu. Mempertahankan gaya bicara semi formal, yang mengedepankan sopan santun daripada toxic ala penikmat open minded.

Meski memang harus diakui, acara di radio tidak sevariatif layanan hiburan lainnya. Hanya sekadar mendengar informasi acak (kadang tematik juga, sih), memutar lagu request-an pendengar lain, kemudian iklan obat sakit pinggang. Tapi buat saya, itu sudah sangat cukup membuat rileks otak, dari pagi sampai siang hari. Sembari beberes rumah, baca-baca tulisan, menunggu orang membeli jualan online saya, atau sebagai teman inspirasi menulis.

Daripada mendengar podcast yang kadang tidak update setiap hari, lebih seru dengerin radio, penyiarnya, beserta lagu-lagu lawasnya.

Oh iya, sebab Warna FM kurang sreg lagi untuk jadi radio andalan, saya akhirnya mencari beberapa radio yang setidaknya pas dengan jiwa muda saya. Umur dua puluhan masih muda, kan?

Nah, beberapa daftar radio favorit saya sekarang ini ialah  Radio eMDiKei, Kisi FM, Style Radio, dan Martha FM. Sebenarnya, pilihannya mungkin masih banyak lagi. Saya hanya belum sempat mengeksplorasi siaran dari pagi, sampai malam hari. Hanya keempat radio itu yang kebetulan siarannya bagus untuk anak muda, yang kangen dengerin radio di Tasikmalaya.

Maka, sebagai duta radio Kabupaten Tasikmalaya, saya mengimbau. Cobalah menyetel kembali radio di daerahmu. Siapa tahu kamu juga rindu masa lalu.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama