Memendam Sendiri, Atau Punya Teman Bercerita?

Sebagai cara menyelesaikan masalah, kamu juga harus dihadapkan berbagai pilihan. Misalnya, antara memendam sendiri, atau punya teman bercerita. Sebab jika salah pilih, kamu masih akan menghadapi penilaian buruk salah satu pihak.

Bagi yang memendam sendiri, mungkin kamu berpikir bahwa masalahmu bukanlah konsumsi publik. Jadi, lebih baik stres, nangis dengan muka ditutupi bantal, teriak sekencangnya jika ada kesempatan. Kalau ada yang tak sengaja melihatmu, jawaban paling umunya ya bilang, “aku gak apa-apa.” Padahal hatimu perih, nyesek. Padahal kamu ingin sekali ia mendengarkan apa yang sedang kamu rasakan.

Tapi, ya mau bagaimana? Kamu saja masih takut jawaban orang lain, tak membuatmu puas. Tidak bisa merasa tenang. Soalnya, kamu sering kali mengalaminya. Paling-paling, “yaudah, semangat! Jangan dengerin kata orang.”

Setiap baca tulisan motivasi, jawabannya juga mirip-mirip. Nyuruh curhat sama Tuhan saja. Katanya, curhat sama manusia juga gak berguna. Nanti malah jadi aib yang semakin tersebar.

Benarkah?

NGOBROL JUGA: Gimana Sih, Jatuh Cinta yang Bener?

Bagi yang punya teman curhat terpercaya, tentu saja tidak begitu. Justru kamu merasa nyaman, merasa lega. Masalahmu disimak dengan baik, tanpa ada penilaian terlebih dahulu. Hanya didengarkan, kemudian dijawab tanpa memberi sakit hati.

Kamu sangat percaya dengan teman curhatmu. Sampai kamu yakin, segala rupa rahasia pahit hidupmu, akan tersimpan rapat-rapat di hatinya. Tidak tersebar melalui omongannya. Kamu percaya dia.

***

Lantas, mana yang paling benar? Dan mana yang perlu dicaci-maki dengan kalimat-kalimat yang dikira mengubah hidup mereka berdua? Apakah si memendam yang siap merasakan kesepian, ataukah ia yang mempecundangi diri dengan mengungkap masalah berat hidupnya pada orang lain?

Bagaimana bisa, soal mencurahkan hati saja, membuat manusia jadi serumit ini? Padahal, mereka hanya mau dirinya lebih tenang sedikit. Bukan menyerah kemudian mati. Tidak, mereka masih kuat untuk melakukan kebodohan itu. Hanya saja, mereka ingin punya pendengar yang bijak, tanpa mendiskriminasi.

Mereka hanya terlalu lelah untuk mengatakan, sedang baik-baik saja. Padahal ada rasa lelah yang teramat sangat.

Mau bagaimanapun caranya, mereka yakin itulah yang terbaik buat diri mereka sendiri. Apakah hanya memendam sendiri, atau punya teman curhat saja.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

2 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Curhat itu diperlukan mas, menurutku. Curhat terkadang bukan untuk meminta solusi, tapi pengin mengungkapkan aja, apa yg lagi dirasakan. Salah satunya curhat lewat blog. Ini salah satu cara menjaga kewarasan kalau buatku :D
    Btw, domain baru ya? Dulu domainnya kan ruangenier dot com kalau gak salah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan bener, kalau kebanyakan orang curhat itu lebih ke pengen tenang aja. Bukan berharap dikasih solusi.

      Iya ini domain baru mbak. Soalnya domain saya yang ruangenier kena hack. Nyesek, sampe gak nulis 2 bulanan. Tapi sekarang udah ngumpulin semangat lagi. 😅

      Hapus
Lebih baru Lebih lama