PRO KONT** | NGOBROL #3

Apa yang terjadi dengan pikiranmu saat membaca judul tulisan ini? Apakah berusaha berpikir jernih dulu, atau langsung memutuskan? Bahwa disitu terselip kata tabu, yang sering kali jadi bahan toxic para YouTuber.

Mungkin kamu benar, dengan asumsimu. Sebab, mengapa harus disensor segala? Bukankah artinya kata itu memang mengarah pada salah satu dari 13 kata terlarang? Ya, sekali lagi, mungkin kamu memang benar.

Tapi sebenarnya saya hanya iseng. Bercanda. Agak clickbait juga sih, biar pada penasaran. Hehe.

Kali ini, saya cuma mau ngobrolon soal sikap PRO dan KONTRA saja. Bukan hendak mencemooh orang pro terhadap sesuatu. Kemudian, "Heh, anak pro, kont** lu!" 

Bukan juga menyensor kata kontra seolah hal itu gak bener dan tidak boleh dilakukan. Bukan, bukan begitu. Murni cuma mau ngobrol, tentang susahnya memahami manusia.

***

Sadar gak sih, kalau pemikiran kita nggak akan pernah sama persis satu sama lain? Sesempurna apapun kita sebagai manusia. Sebaik apapun kita meniru panutan kita. Pasti saja, ada beberapa hal yang saling berbeda sudut pandang. Antara memilih pros and cons. Bahkan orang kembar identik sekalipun.

OBROLAN LAIN: Kembali ke Radio

Misalnya, yang paling sederhana saja, soal menilai produk mi Indonesia terenak. Orang-orang memang lebih banyak yang pro Indomie, sebagai produk mi buatan Indonesia teratas. Tapi adapula yang kontra dengan itu. Sebagian orang menganggap Mie Sedaap lah produk terbaik milik Indonesia. Sikut lebih lebih lebar lagi, ternyata banyak juga yang menyebut, "jelas Pop Mie si raja mi. Gak ada yang lain lagi!"

Dan sebagainya, sampai yang pro Mie Burung Dara, enaknya nyambung terus. Gak akan pernah selesai.

Bahkan saking kompleksnya manusia, perselisihan juga terjadi di internal. Ada yang mendukung Indomie rasa ayam bawang, ada yang cinta Indomie goreng, Indomie soto, soto padang, seblak hot jeletot, kari ayam, ayam geprek, ayam kamp... dan varian rasa lainnya. Saling berargumen dengan pendapat pribadi, berdasarkan data-data yang mereka kumpulkan dari lidah sendiri, juga ingredients di bungkusan mi.

Itu baru contoh pro kontra di dunia permian. Yang saya rasa hanya sekadar lucu-lucuan. Sebagai selingan dari perdebatan berat ala kemanusiaan.

Maka, mari beralih ke isu-isu yang membuat warganet berantem beneran.

Childfree misalnya. Isu yang beberapa hari yang lalu sempat nangkring di beranda Facebook, daftar bacaan di Blogspot, dan YouTube saya. Twitter tidak dicantumkan, karena saya memang bukan pengguna aktif burung tersebut.

Ngomongin soal burung! Maksud saya childfree! Tentu saja tidak akan habis-habisnya dibahas sampai seribu satu hari. Tidak pernah akan mencapai kesepakatan bersama. Sebab ya itu tadi, ada pro dan kontra di dalamnya.

Kabarnya, isu ini bikin banyak perempuan gedek. Tak terkecuali pria. Katanya, itu menyalahi kodrat, amoral, tidak bersyukur, harusnya gak usah nikah sekalian, tidak menghargai perasaan perempuan yang gak bisa hamil, nyari sensasi, panjat sosial, panjat views, panjat pinang. Katanya juga, gak apa-apa kok, hak perempuan memilih, perempuan bukan robot, penganut patriarki mah gitu, halah kamu juga gak bisa ngurus anak, dan sebagainya. Ada juga yang cuma bilang, "wih, drama lagi. Adsense, nih!"

Keren.

Btw, saya tahu lebih dalam soal isu ini, cuma dari tulisan mbak Eka yang judulnya Childfree dan Hak Perempuan dalam 60 Hadits Shahih. Juga tulisan seorang blogger perempuan lain bernama sapa Awl, yang judulnya CHILDFREE YANG DIPERDEBATKAN. Karena sebelumnya, saya cuma tahu, tanpa mau lebih dalam tahu. Dua referensi ini, sudah cukup membuat saya, minimal tahu sedang ada isu.

Jujur saja, sejak awal tahun kemarin, saya sedang tidak peduli dengan isu-isu yang bikin otak muter macam gasing. Menghindari TVONE, menjauhi kanal YouTube mbak Nana a.k.a Najwa Shihab dan Om Deddy, REDAKSI TRANS7, termasuk acara berita lainnya. Hanya full menonton kanal hiburan macam bang Ewing, Nessie Judge, Luthfi Halimawan, Bimo Picky Picks, Detective Aldo, InLine TRANS7, dan sinetron Indosiar. Alasannya, bisa dicari di blog ini. Jika anda seorang kepopers.

Oke. Kembali ke contoh tadi.

Dari dua artikel di atas saja, saya sudah bisa membayangkan, betapa gila jadi manusia. Pro kontra yang timbul jadi bahan aduan pembenaran. Saling serang, saling tidak mau kalah. Orang-orang mengklaim bahwa dirinya maha tahu soal etika menjadi perempuan. Bagus, saling menyadarkan itu bagus. Tapi tidak dengan menge-judge buruk pemikiran orang lain. Seolah,

Lu harus ikut apa kata gue, gue bener!

Bor! Gak mungkin bisa begitu. Memaksakan pendapatmu dan menyuruh orang berada dipihakmu, itu sama saja mencederai hak berpendapat dan memilih. Karena ketika kamu punya pendapat kuat sendiri, mereka juga sama. Kamu tidak mau dipaksa setuju dengan pemikiran itu, mereka juga sama.

Orang yang kontra childfree atau isu berat lainnya, tidak berhak mengatur sikap manusia yang pro terhadap itu. Begitu pula yang pro. Jangan mentang-mentang seperti paling open minded, kemudian melabeli yang kontra sebagai, otak dangkal khas manusia purba.

Selayaknya, pro dan kontra jadi bahan pertimbangan benar atau tidaknya pilihanmu. Mendengar dari berbagai sudut pandang, yang belum kamu pahami. Bukan malah berdebat dengan orang lain, tanpa menghasilkan sepakat. Justru kita lah yang mesti sepakat terhadap diri sendiri. Apakah memang pilihan itu salah, atau malah tepat. Soal beda pendapat, itu sudah takdirnya sobat.

INI PUISI: Maling Ayam

Pro dan kontra akan selamanya terjadi, bahkan pada isu sekecil apapun. Bahkan ketika kamu memilih toilet jongkok atau duduk. Lebih sehat dan higienis yang mana. Bahkan ketika kamu memilih apakah buang air besar di kolam ikan itu menjijikan, atau biasa-biasa saja. Orang kota say, "iwhh, nanti ikannya dimakan sama kita." Orang desa ngomong, "lah, kan ikan punya sistem pencernaan juga. Punya tempat menampung kotoran di perutnya. Sekolah SD gak sih?"

Jadi sudahlah, jangan terlalu memforsir waktumu mencekoki orang supaya bisa ikut mazhabmu. Apalagi berdebat dengan orang cerdas dan sering baca buku. Malah nanti, kamu yang malu. Tanpa data, tanpa ilmu.

Pro dan kontra tidak dilarang. Silakan saja. Asal jangan ngegas. Gasnya abis.

Yah, gak lucu.

Ingatlah! seekor bintang laut yang dianggap bodoh bernama Patrick Star pernah berkata,

Pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat. *Bikini Bottom,  Maret 2001

Kalau kamu ingin berada di sudut pro, ya sudah, duduk santai saja. Kalau mau memilih kontra, duduk saja juga. Kalau mau berpendapat, bawalah Tuhan di hatimu. Tenangkan hati dan pikiran, jangan sampai bergaduh.

Sudah? Kalau begitu, kamu boleh berkomentar, tentang pro dan kontra versimu di bawah.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

4 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. salah satu yang membuat hidup lebih hidup adalah adanya pro dan kon***, bayangkan jika hal tersebut tidak ada, maka tidak akan ada tulisan ini ya... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, bener mas. Pro kontra emang sudah jadi bagian dari hidup kita.

      Hapus
  2. Aku akhir2 ini sengaja cari tontonan yang santai aja mas. Sengaja menghindari tontonan2 yg sekiranya memicu perdebatan. Dan, sengaja gak ngeliat kolom komentar yang sekiranya penuh perdebatan netizen. Padahal dulu aku hobi banget mas, scroll komen di youtube yang lagi Viral, bacain satu per satu komentarnya. Sekarang males ah :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha sama mbak, dulu juga ngerasa seru banget nyimak drama" seleb sama politikus. Tapi pas ada kasus bansos itu, saya beneran gedeg.

      Hapus
Lebih baru Lebih lama