Film The Greatest Showman (2017), Menggapai Mimpi dengan Cara Apapun

Sudah sangat lama saya tidak membahas film lagi. Terakhir, saya sempat membahas film pendek yang berjudul Ngiring Belasungkawa. Nah, sebagai pembuka Bahas Film di pertengahan bulan ini, saya akan membahas sebuah film tahun 2017, The Greatest Showman. Film yang terinspirasi dari kisah nyata seorang pebisnis hiburan sukses, Phineas Taylor Barnum.

Film yang bisa membuatmu kembali berharap, dengan impian yang sudah lama terkubur. Film yang mengajarkanmu cara mencari ide cemerlang (meski licik), untuk meraih kesuksesan.

Tanpa banyak basa-basi, inilah bahas film, The Greatest Showman.

ABSTRAK

The Greatest Showman bercerita tentang sebagian kecil kisah hidup P.T. Barnum alias Phineas Taylor Barnum. Seorang pemain teater, pebisnis hiburan yang sukses dengan pertunjukkan orang-orang "anehnya", juga pernah menjadi walikota Kota Bridgeport (Connecticut).

Dalam perjalanan awalnya—setidaknya dalam film ini—Phineas Taylor Barnum, hidup menggelandang sepeninggal ayahnya. Ia diceritakan tidak memiliki apapun, kecuali sang pujaan hati, Charity dan kecerdasan otaknya. Bahkan ia harus mencuri roti untuk bisa bertahan hidup.

Meski begitu, Barnum tidak pernah kehilangan akal. Dengan kecerdasannya, ia harus mencari cara agar orang-orang bisa memberikannya uang. Walaupun dengan sedikit ide licik.

Singkat cerita, Barnum dan Charity telah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka juga mempunyai dua anak perempuan yang sangat ceria. Caroline, dan Helen Barnum.

Sayangnya, kehidupan Barnum dan keluarganya, masih tidak begitu membaik. Bahkan ia terpaksa diberhentikan dari tempatnya bekerja, karena perusahaan sudah bangkrut.

BAHAS FILM: The One and Only Ivan

Barnum tidak mau kehidupan keluarganya semakin hancur. Ia meminjam sejumlah uang dari bank, dengan jaminan yang sebenarnya hanyalah tipuan agar pinjamannya bisa cair. Ia membeli sebuah museum, yang kemudian diberi nama Barnum's American Museum of Curiosity, atau museum barang-barang aneh Barnum.

Mendapat uang banyak dari sebuah museum, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Jumlah pengunjung museumnya, sangat-sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada yang tertarik. Pertunjukkan benda mati, tidak menarik perhatian orang-orang.

Sampai suatu malam, anak-anak Barnum memberi saran kepadanya, supaya membuat pertunjukkan dari makhluk hidup saja.

Ide Pun muncul di kepala Barnum. Pada saat meminjam uang di bank, ia sempat bertemu seorang pemuda kerdil yang menarik perhatiannya, dan bisa sangat menjual. Dari sanalah, perjalanan bisnis sirkus P.T. Barnum dimulai. Ia merekrut semua orang yang dianggap aneh, untuk bergabung dengan pertunjukannya.

Perjalanan panjangnya sebagai pebisnis pertunjukkan sirkus, tidak terlalu mulus. Barnum disudutkan pada berbagai masalah. Mulai dari ulasan kritikus, mertua, hingga kebakaran yang menimpa gedung pertunjukkan miliknya.

Tapi, bukan Barnum namanya, jika masalah-masalah tersebut, tidak terselesaikan dengan akal cemerlang dan imajinasi liarnya.

REVIEW

Michael Gracey yang bertugas menyutradarai film The Greatest Showman, sukses membuat saya terkesima dengan keseluruhan sajian di film ini. Padahal, dalam beberapa sumber mengatakan, film ini adalah film debutnya sebagai sutradara.

Dimulai sejak adegan pembuka, The Greatest Showman memang sudah sangat menjanjikan. Ellis Rubin dan Sylar Dunn yang memerankan Barnum dan Charity kecil, berhasil menyelesaikan babak awal film dengan baik. Terlebih akting Ellis Rubin, yang bisa membuat saya simpatik pada kehidupan Barnum kecil yang menyedihkan.

Peran Hugh Jackman sebagai tokoh utama, tentu saja tidak perlu dipertanyakan lagi. Bagi saya, sejak awal kemunculannya hingga babak akhir film, Hugh Jackman bisa berperan sebagai Barnum sesuai porsinya. Tidak ada niatan ingin tampil sendiri, dan mengenyampingkan pemeran lain. Ia berhasil membaur, dan mengarahkan cerita sesuai takarannya.

Perjuangan seorang Barnum terasa sekali. Meskipun lelah dengan kehidupannya, tapi ia tak lantas menyerah begitu saja. Ia bersama keluarganya, bahu membahu memperjuangkan segala harapan mereka.

Bukan hanya soal menggapai jutaan mimpi, film ini juga menyajikan kisah cinta segitiga antara Barnum, Charity, dan Lind. Walaupun ceritanya kurang begitu menarik sebetulnya. Terlalu singkat dan mudah dilupakan.

Kisah cinta dalam film The Greatest Showman ini, tak melulu tentang keluarga Barnum saja. Carlyle (Zac Efron) dan Anne (Zendaya), juga mempermanis kisah cinta di film ini. Intrik sederhana yang menghalangi hubungan percintaan mereka, dikemas dengan rapi dan cukup menarik. Bahkan menurut saya pribadi, kisah cinta Carlyle dan Anne jauh lebih menarik dibanding kisah cinta Barnum dan Charity sendiri.

Dari beberapa karakter yang dibahas, tak lengkap rasanya jika tidak menyebutkan sekumpulan orang-orang "uniknya" juga. Sebab, tuan Barnum tak bisa sesukses itu tanpa mereka.

Memang, Keala Settle dan teman-teman "anehnya" tidak terlalu banyak disorot. Namun entah mengapa, saya suka-suka saja dengan pembagian porsinya. Padahal kalau dipikir, mereka seharusnya mendapat perhatian yang lebih khusus. Tapi sekali lagi, peran mereka sudah cukup menurut saya.

BAHAS FILM: KALA

Alur cerita perjalanan Barnum untuk menggapai keinginannya, mengalir tanpa banyak mikir. Dikemas dengan bumbu-bumbu "keajaiban" yang diberikan Barnum untuk keluarga kecilnya. Sederhana, enak ditonton untuk seluruh keluarga.

Sinematografi dalam film The Greatest Showman ini juga tak kalah magic-nya. Poin penting yang membuat saya senang dengan sinematografinya, ada pada adegan tarian Charity dan Barnum di babak awal film. Menambah kesan romantis hubungan percintaan mereka berdua. Transisi dari adegan ke adegan, diatur sedemikian rupa, agar terlihat smooth dan enak dipandang mata.

Terakhir, tentu saja kumpulan soundtrack film The Greatest Showman. Hampir tidak pernah ada yang membosankan untuk didengar. Semua lagu di film ini, sangat menggugah jiwa. Seperti menyuruhmu untuk keluar dari masalah dan pesimistis. Kamu yang merasa patah semangat, seharusnya bisa kembali bangkit ketika mendengar seluruh lagu di film The Greatest Showman ini.

SKALA ANGKA

Meskipun ceritanya sangat sederhana, namun film The Greatest Showman sangat layak menjadi tontonan keluarga. Aman ditonton semua umur pokoknya. Skala angka untuk film ini adalah 8,9. Angka tersebut murni dari opini awam saya tentang film ini. Film yang membuat saya mengingat kembali Laskar Pelangi, yang amanat ceritanya sama. Tentang mengejar mimpi dalam situasi sulit.

So, buat kamu yang belum pernah menonton film The Greatest Showman, langsung saja instal Disney+ Hotstar di Play Store. Sebab, setelah FOX diakuisisi Disney, maka jelas film ini juga ditayangkan di sana.

Selamat menonton, dan selamat menikmati kumpulan lagu The Greatest Showman, yang bisa membuat harimu kembali menyenangkan.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

2 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊
Sok, kasih kritik maupun saranmu buat blog ini. Jangan nanggung, hajar aja!

Lebih baru Lebih lama