Bikin Podcast, Beradaptasi dengan Suara Sendiri (Planning)

bikin podcast

Berawal dari ngences selepas mendengarkan pembacaan puisi-puisi di YouTube, saya jadi mulai tertarik mempelajari bagaimana membiasakan beradaptasi dengan suara sendiri. Hal itu saya lakukan sebab saya ingin memulai sesuatu di luar zona nyaman saya, banyak ngomong. Bukan ngomong mengobrol di kerumunan, tapi ngomong di rekaman suara saja. Saya, berencana ingin membuat podcast ala kadarnya.

Malam kemarin saya memulai keinginan lumayan mendadak itu. Sempat beberapa kali mencoba merekam suara saya sendiri. Rasanya memang di luar ekspektasi, sulit sekali. Selain lidah yang terasa begitu pegal, air keringat juga muncul beberapa tetes dari pori-pori kulit. Di dahi, punggung, perut, muka, sampai membuat baju sedikit basah. Ditambah lagi dengan preasure takut ada yang tiba-tiba mengintip, haduh betulan susah.

Ketika mendengar hasil suaranya, hal pertama yang dirasakan adalah, ingin menertawakan diri sendiri. Suara yang terasa teramat beda saat mengobrol biasa, sempat membuat saya ragu apakah saya bisa? Apalagi suara cadel saya yang memang tidak bisa hilang, membuat rasa percaya diri itu hampir saja pulang.

Untung saja, malam ini tidak. Saya justru menikmati momen beradaptasi dengan suara sendiri. Momen-momen cringe, menggelitik, saya paksa abaikan. Kuping dan perasaan saya dipaksa terus mendengar suara sendiri sampai beberapa kali. Hasilnya lumayan untuk malam ini, saya agaknya jadi berdamai dengan rasa malu dan takut.

Lalu setelah malam adaptasi itu, saya akan berencana membuat beberapa konten podcast yang tidak jauh dengan blog ini. Mudah-mudahan terealisasi, meski saya tahu pasti akan kurang maksimal di awal-awal. Bergerak, sembari belajar.

Tema

Tema dan konten-konten podcast yang saya usung, rencananya, sangat tidak jauh dengan pakem yang sudah disusun di blog Ruang eNIeR ini. Tentang membaca cerpen maupun puisi, juga konten Histeria. Untuk yang lainnya, agaknya masih perlu ditahan dulu sampai saya betul-betul bisa beradaptasi dengan suara sendiri, dengan gaya obrolan sendiri.

Membaca cerpen maupun puisi, sejatinya sudah dipelajari saat saya kuliah di pertengahan semester. Sedikit-sedikit saya agak tahu bagaimana cara berpuisi dan membaca cerpen yang ya... amanlah buat didengar. Saya sadar, di awal nanti pasti akan ada kekeliruan yang mungkin dikomentari orang, tapi itulah proses beradaptasi. Kalau tidak begitu, pasti saya hanya stak di zona aman.

Sedangkan untuk konten Histeria, yang isinya tentang hal-hal yang sulit dijelaskan, saya menaruhnya ke dalam jajaran rencana, karena saya suka. Selain itu, rasa-rasanya konten ini tidak begitu berat buat dibahas di podcast nanti.

Target

Untuk target, saya tidak muluk-muluk, setiap hari ada satu orang yang mendengarkan saja saya sudah bersyukur. Sama hal dengan blog ini, asal ada yang baca saya sudah bahagia. Untuk target di masa depannya, saya hanya berharap podcast ini bisa konsisten. Karena bagi saya, hal termahal dalam mengejar mimpi, adalah konsistensi. Semua rencana akan gagal tanpa konsistensi. CMIIW.

Oh iya, bagi yang punya rekomendasi podcast yang temanya mirip dengan yang saya jabarkan di atas, bolehlah dibagi-bagi di komentar. Pasalnya, saya belum punya banyak referensi.

Coming soon!

Sebagai penutup tulisan, saya hanya berdoa semoga semua rencana ini berjalan sesuai harapan, rencana, dan targetnya. Kalaupun gagal, catatan ini bisa jadi saksi bahwa saya pernah mau berusaha meski setai kuku saja juga belum.

So, nantikan update perkembangan Podcast Ruang eNIeR, di tulisan selanjutnya. Beradaptasi dengan suara sendiri memang sulit, tapi doakan saja.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

1 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Haloo, mas. Bener sih itu, gue sepakat kalo dengerin suara sendiri jadi rada aneh. "Kok suara gue jadi gini, hahaa."

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama