Cerpen 'Salvador', tentang Maling Ayam yang Di Dor!

Selepas membahas cerpen "Lampor" kemarin, saya akhirnya memutuskan untuk kembali me-riviu salah satu cerita pendek dari Cerpen Pilihan Kompas 1994 lainnya yang berjudul, Salvador. Judul cerpen yang mengingatkan saya pada seorang pelukis surealis, yang pernah saya kenal saat pelajaran seni di SMA. Apakah ada hubungannya? Hmm... Saya tidak terlalu yakin.

Oiya, perlu diingat bahwa semua riviu karya sastra di blog ini, termasuk di cerpen Salvador, murni pendapat sendiri dengan kemampuan menelaah sebisa saya. Jadi, apabila gaya me-review saya salah, mohon berikan kritik dan saran juga.

Abstrak 

Berlatar di sebuah tempat bergaya Texas pada era koboi (setidaknya itu yang saya bayangkan), Salvador diseret di sepanjang jalan berdebu yang kebetulan sedang terjadi badai. Orang-orang mengikuti para serdadu yang menunggangi kuda, menunduk menahan debu agar tidak sampai ke muka. Mereka penasaran dengan sosok Salvador.

Salvador yang digantung di gerbang kota, adalah pelaku MALING AYAM yang sudah lama membangkang. Melawan sesuatu yang ia sebut penjajahan dan ketidakadilan.

Sesungguhnya orang-orang kota tidak pernah sekalipun mengenal wajah Salvador. Mereka hanya tahu dari selebaran yang masuk ke rumah mereka tanpa permisi. Selebaran itu berisikan tentang pemberontakan. Mereka juga mengenal Salvador dari poster pencarian orang, dengan imbalan sangat menggiurkan pada masa itu.

Salvador, seorang yang melawan kekejaman, pahlawan ketidakadilan yang akhirnya harus tetap mati juga. Simbol yang orang-orang harap bisa mengubah hidup mereka lebih baik, tidak juga terjadi.

Cerpen yang masih saja relate bahkan sampai saat ini

Meskipun cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma ini terbit pada tahun 90-an, namun sindirannya masih saja berasa sampai sekarang. Ironi MALING AYAM, setidaknya menjelaskan dua hal, yang bisa saya temukan.

Pertama, soal ketidakadilan. Ketidakadilan hukum di era yang katanya serba terbuka ini, justru membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Para terdakwa koruptor dana bansos, hukumannya bisa dikatakan tidak imbang jika dibandingkan dengan maling ayam. Kasus-kasus semacam ini sudah sering kita saksikan di beberapa media televisi maupun internet.

Hukum masih berat sebelah, menyengsarakan rakyat jelata, memberi senyum para wakilnya. Ketika para "maling ayam" tertunduk dan menangisi hukumannya sendiri, pejabat justru dengan santainya melambai tangan pada kamera padahal ia telah korupsi.

Kedua, MALING AYAM dalam cerpen ini bisa ditafsirkan sebagai kebohongan yang dibuat para penegak hukum. Terdakwa yang sejatinya adalah pahlawan yang melawan ketidakadilan, diputarbalikkan menjadi sosok pelaku kejahatan. Bodohnya, alibi para penegak hukum sering kali asal-asalan dan gampang ditebak. Seorang maling ayam dibunuh, diseret, sampai digantung di gerbang kota, dan para serdadu memamerkannya? Sungguh ide yang hiperbola.

Masyarakat awam sudah tahu tentang fakta itu. Kekejaman atas dasar kejahatan yang dibuat-buat. Orang-orang zaman sekarang tak lagi mudah dibodohi, sebagian.

Namun, hukum masih saja tak bisa diganggu gugat, meski fakta menjelaskan segalanya. Ia masih dikangkangi, tanpa peduli caci-maki yang dihadapi. Lebih penting menjaga identitas buruk supaya tidak semakin digali rakyat, daripada menjaga rakyat itu sendiri.

Cerpen Salvador karya Seno Gumira Ajidarma ini membuktikan bahwa masa depan yang lebih baik, tentang hukum yang menggantung, masih belum dirasakan sampai saat ini. Salvador adalah gambaran sempurna yang mencerminkan itu semua.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

2 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Mas, bacaanmu kok asik ya, berat-berat :D wkwkw aku novel seno gumira aja belom ada yang terbaca wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak seberat melepas perasaan untuknya. Wkwk.
      Saya sebetulnya emang lebih suka karya sastra semacam ini sih. Walaupun otak saya kadang muter", tapi enak aja baca genre semacam ini.

      Lagian cerpen yang ini termasuk ringan sih, menurut saya.

      Hapus
Lebih baru Lebih lama