Sosial Media yang Berujung Insecure dan Bikin Pusing Kepala | NGOBROL #12

Sadar gak, sih? Apa yang kita ikuti di sosial media, bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental kita. Bisa bikin insecure, ngomong ngalor-ngidul, mengakibatkan pesimistis yang berkepanjangan, bahkan bikin pusing kepala. Kok, bisa?

Ini hanya sebatas opini pribadi, sih. Opini yang berasal dari pengalaman sendiri, ketika menonton konten-konten video pendek di TikTok. Sebuah aplikasi yang popularitasnya bikin ketar-ketir platform sosial media lain.

Dulu, ketika awal-awal tagar #StayAtHome gencar digunakan di seluruh penjuru tanah air, orang-orang mulai kelimpungan dengan kegiatan mereka sendiri. Termasuk saya.

Apa yang bisa dilakukan, dengan hanya duduk di rumah saja? Bagaimana dengan sekolah? Pekerjaan? Bagaimana bisa menghasilkan uang jika pabrik tutup? Keluarga mau makan apa? Saya kenapa? Saya siapa? Dan sebagainya.

Dan kemudian, entah dimulai sejak kapan, semua orang yang memiliki masalah serupa, menghibur diri dengan menonton video di TikTok. Platform satu ini, kedatangan rombongan pengguna baru yang lebih luas dibanding hari biasanya.

NGOBROL #5: Memendam Sendiri, atau Punya Teman Bercerita?

Hiburan, Kok Malah Bikin Sedih?

Salah satu manusia yang juga ikut rombongan itu, adalah saya. Saya berpikiran sama, menghibur diri jauh lebih penting untuk menstabilkan kesehatan mental yang mulai terkikis. Oleh banyaknya ketidakberuntungan, ketidakpastian, serta kebingungan. Saya pikir TikTok bisa sedikit meringankan beban itu.

Pada awalnya, saya mendapati beberapa video menarik. Motivasi hidup, cara berbisnis di masa sulit, olahraga di rumah, cerita-cerita lucu, dede gemes joget dan sebagainya.

Namun beberapa hari kemudian, fyp saya berubah. Semua video yang direkomendasikan, adalah kesengsaraan yang sedikitnya juga sedang saya rasakan. Maka sudah sewajarnya saya tertarik, dan ikut menangis juga pada akhirnya. Benar kata orang di video-video itu, dunia telah salah memilih jalan. Saya sudah usai, tanpa harapan.

Saya jadi tahu, motivasi dari orang-orang sukses hanya formalitas kerjaan. Karena diundang jadi pembicara di seminar. Di balik kesuksesan mereka, ada andil keluarga yang memang sudah kaya sebelumnya. Tidak ada yang betul-betul memulai dari nol. Mereka punya modal besar, privilege atau dalam kamus KBBI disebut privilese.

Saya apa? Dapat seratus ribu dari lomba saja, sudah ngerasa kaya. Sukses menjadi bos besar hanya mimpi, yang cukup jadi judul utama novel di Wattpad saja.

Belum lagi, banyak juga yang mempermasalahkan tentang dirinya sendiri. Merasa insecure dengan muka yang pas-pasan, sosialisasi yang buruk, kurang pergaulan, orongoh, broken home, beban keluarga, dan lainnya. Yang lagi-lagi, saya ikut mengamini semuanya.

NGOBROL #3: Pro Kont**

Saya mulai merasa, betapa menyedihkannya diri sendiri. Hidup menjadi manusia abnormal, tanpa satupun sinar mentari untuk masa depan. Kasihan, betapa kasihan saya.

Hari-hari saya semakin memburuk, dan tidak ada rasa ingin mengubah sikap. Semua benar-benar hanya diserahkan kepada Maha Pencipta. Mati syukur, hidup sengsara juga tak mengapa.

Sosial media, terutama TikTok mengubah cara pandang saya tentang hidup. Nyatanya, perjalanan sukses orang, tidak sepahit yang dikatakan saat seminar. Nyatanya, saya tak seberuntung orang. Punya wajah tampan, punya banyak teman, uang jutaan, hidup sudah mapan.

Titik Balik

Kalau dihitung kasar, mungkin hampir setengah tahun saya kehilangan kepercayaan diri dan motivasi hidup, karena keasyikan mengikuti mau sosial media. Saya terhipnotis dengan itu. Berpikir bahwa, "ngapain berjuang, kalau ujung-ujungnya di-ghosting."

Untungnya saya cepat sadar kembali. Menghapus segala macam problematika hidup yang bangsyat, bisa dibilang. Memunculkan kembali harapan hidup yang telah lama hilang.

Saya memang tetap tak bisa menampik, bahwa privilese adalah nyata. Punya keluarga kaya, wajah ganteng dan cantik jelita, pendidikan S-nya tiga, punya aset di mana-mana.

Tapi itu bukan berarti saya harus menyalahkan mereka, dan duduk diam saja. Kalau saya merasa tak punya privilese, ya itu kan cuma perasaan. Siapa tahu, saya belum menemukannya, atau tak sadar saja. Kalaupun tidak ada, privilese bisa dibentuk untuk mempermudah fase hidup selanjutnya kan?

Ya masa membiarkan diri sendiri susah, sampai mendarah daging ke anak cucu kita? Buat saya, gak bisalah.

Kalau sosial media membuat kita malah makin insecure, alangkah baiknya rehatlah sejenak. Pikirkan baik-baik, bahwa semua yang ada di sana tak melulu harus dilahap bulat-bulat. Kadang ada benarnya, sering pula banyak salahnya. Atau jika susah, perbanyaklah mengikuti akun-akun yang lebih bermanfaat, lebih positif.

Emang di TikTok ada? Ada! Banyak malah. Ingat, TikTok sekarang bukanlah TikTok yang dulu. Asal jangan terhipnotis dengan pembicaraan yang justru menjerumuskan kita. Pembicaraan itu memang ada benarnya, tapi bukan berarti ikut menyalahkannya juga.

NGOBROL: Good Looking atau Good Attitude?

Bangunlah, dan rakit kembali mimpi-mimpimu yang sempat tersendat, karena insecure. Mulailah menulis lagi kalau mau jadi penulis, produksi lagi usaha kecilmu, latih kembali mental juara mu, yakinlah kamu pasti bisa.

Jadi, begitulah ngobrol kita kali ini. Lagi-lagi, mohon maaf kalau pembahasannya kurang terstruktur. Ya… namanya juga konten ngobrol.

Terakhir, bagaimana menurutmu? Apa kamu merasa juga, bahwa sosial media bikin kita insecure dan pusing kepala? Kamu punya privilese gak, sih? Yuk, ngobrol di kolom komentar di bawah.

Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊
Sok, kasih kritik maupun saranmu buat blog ini. Jangan nanggung, hajar aja!

Lebih baru Lebih lama